Terpaksa Ikhlas

Anda masih ingat dong korupsi berjamaah yang dilakukan oleh hampir 90% jumlah anggota DPRD di negeri ini? Mengingat hal itu, saya bisa memaklumi adanya keruwetan dalam lalu lintas, entah karena orang berjualan di bahu jalan atau karena traffic light untuk suatu perempatan jalan yang ramai cuma memamerkan warna kuningnya (dan sudah bertahun-tahun begitu).

Yang membuat saya tercenung ialah saat saya mengunjungi situs wisata religi (yang nota bene istilahnya sendiri sudah membuat batin meronta) di luar kota itu. Komentar saya terhadap pengelolaan situs itu terangkum dalam judul posting kemarin (agama munafik). Tentu saja, ini bukan soal agama tertentu, melainkan soal tendensi semua agama, yang tak lain adalah orang-orangnya. Yang munafik jelas orang-orangnya, bukan agamanya.

Kenapa sampai tercenung? Soalnya sepele banget. Saya tidak mempersoalkan sejumlah uang yang memang saya ikhlaskan sebagai sumbangan, tetapi bagaimana proses pemberian sumbangan itu terjadi membuat saya meragukan keikhlasan saya sendiri. Begini problemnya. Kalau Anda masuk ke kompleks situs yang megah itu (yang konon pembangunannya sudah menelan ratusan milyar rupiah dan mungkin tak akan kunjung selesai) dengan berkendaraan mobil, Anda tak akan bisa keluar dengan tenang meskipun sejak masuk Anda sudah diberi selebaran bahwa tidak ada pungutan apapun di kompleks itu. Kalau sampai ada pungutan, Anda perlu melaporkannya ke halte 1 ruang informasi 2 tempat pengambilan karcis-masuk dan karcis-keluar. Keren, bukan? Cuma-cuma, tanpa pungutan (liar) untuk mengunjungi bangunan mahal yang tak (kunjung) usai pembangunannya.

Problemnya, secara psikologis Anda lebih diarahkan ke tempat parkir daripada diarahkan ke tempat pengambilan karcis-masuk dan karcis-keluar adalah, soal ujian tadi memasukkan Anda dalam setting sedemikian rupa sehingga mau tidak mau Anda ikhlas menceblungkan lembaran uang ke dalam kontak sumbangan. Terpaksa ikhlas. Kontradiktif, bukan?
Tidak juga sih. Ikhlas merujuk pada ‘kehilangan’ nominal uang yang disumbangkan. Terpaksa merujuk pada setting yang mengondisikan pengunjung untuk menyumbangkan uangnya itu. Begitulah pengalaman saya dan saya yakin pengalaman pengunjung lainnya. Tak perlu saya ceritakan detilnya di sini, tetapi pada prinsipnya begitulah yang kemarin saya posting sebagai kemunafikan agama.

Bagaimana kemunafikan bisa terjadi? Cukup dengan menyelewengkan tujuan atau menyembunyikan agenda tertentu di balik nasihat agama atau nasihat moral yang ciamik. Dalam kasus saya tadi, pengunjung akan lebih menaruh respect terhadap pengelola situs ‘wisata religi’ yang secara transparan menyatakan harapan untuk mendapat sumbangan daripada justru membalutnya dengan pengumuman besar bahwa tidak ada pungutan (liar) apa pun. 

Kemunafikan inilah yang membuat orang beragama tak lagi mengenali Allah yang sesungguhnya selalu beserta makhluk-Nya. Orang beragama menyisipkan kepentingannya sendiri di balik seruan untuk memuji atau memuliakan-Nya. Kalau jumlah orang beragama seperti ini hampir 90%, tidak mengherankanlah bahwa korupsi bersifat masif, bahkan termasuk mereka yang sudah sewajarnya melayani kepentingan publik. Kalau pelayanan publik korup, pujian kepada Allah juga bersifat korup. Begitu seterusnya, saling memengaruhi. Jika lingkaran itu tak diputus, Immanuel alias Allah beserta kita hanyalah slogan besar agama yang berbunyi nyaring alias kosong melompong.

Tuhan, mohon rahmat supaya dalam setiap usaha manusiawi, kami sungguh dapat memelihara intensi murni untuk memuliakan nama-Mu daripada nama kami sendiri. Amin.


HARI KETUJUH OKTAF NATAL
Senin, 31 Desember 2018

1Yoh 2,18-21
Yoh 1,1-18

Posting 2016: Lagu Akhir Tahun
Posting 2015: Good Bye, Ilusi
 
Posting 2014: Kapan Pangling kepada Dia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s