Jangan Takut Papa

Saya tidak hendak berpuisi dengan judul di atas karena papa saya tidak bisa nge-tweet rekaman kotak kertas suara tercoblos dan rumah papa saya tak akan mungkin deh digeruduk mobil Polda (soalnya dia gak punya rumah). Ini memang bukan posting untuk memberi motivasi kepada seorang papa yang melakukan kekeliruan berlipat-lipat: niatnya apa, yang dilakukan apa, yang dikatakan apa, kok beda-beda. Mosok kemunafikan dimotivasi? Tak usah dimotivasi, orang akan munafik sendiri kok.

Bisa juga sih “Jangan takut papa” dipakai untuk memotivasi sang papa supaya tidak takut bertobat. Akan tetapi, menurut dugaan saya, sang papa macam begini bukannya takut bertobat, melainkan takut pada ‘papa’-nya, dan ketakutan ini membuatnya memegang prinsip ABS, bukan Anti-lock Braking System, melainkan Asal Bapak Senang. Ini prinsip yang sangat populer pada masa Orde Baru. Silakan simak tulisan antropolog semacam Sasaki Shiraishi, kalau tak salah judulnya Pahlawan-pahlawan Belia. Sosok ‘bapak’ jadi sedemikian hegemonik sehingga anak-anaknya segan-segan gimana gitu.

Nah, celakanya, tidak semua bapak adalah sosok yang pantas disegani karena prinsip mulianya. Ada bapak yang tukang bohong, ada bapak yang hobi melow dengan playing victim, ada bapak yang megalomania, ada bapak yang suka bergaya aneh untuk cari perhatian, dan bapak-bapak macam begini bisa saja berkolaborasi untuk membuat hoaks lebih efektif daripada kerja yang dilakukan bapak-bapak lainnya. Ini mengerikan. Saya bukan pembela fanatik capres anu, tetapi kalau capres ini kalah, bukan kekalahannya yang saya ratapi, melainkan lebih banyaknya orang yang percaya pada hoaks beserta prasangka sendiri daripada kesejatian hidup.

Kalau Anda membaca tulisan wartawan Linda Christanty berjudul Suara Tuhan, akan Anda temukan bagaimana rakyat sederhana berpikir pragmatis. Jangan harap bahwa rakyat sederhana yang jumlahnya banyak itu bisa berpikir sistematis. Mau sistematis bagaimana kalau dapur tak bisa ngebul?Tak mengherankan, kepada rakyat sederhana macam begini, dengan modal sedikit uang, sikapnya bisa dipengaruhi dan dengan sedikit janji, pilihannya bisa dikunci, dan hoaks terus bergentayangan mencari korban lain.

Rasa saya, seperti membela Tuhan/agama berarti membela kemanusiaan, kalau Anda mau membela Jokowi, ingat saja pesan narasi Linda Christanty tadi, berarti Anda tak perlu membabi buta membela Jokowi, mengagung-agungkan sosok Jokowi dan menempatkannya lebih superior dari Prabowo, misalnya. Menurut saya sih, kalau Anda hendak mendukung Jokowi, malah jangan menonjol-nonjolkan Jokowinya, melainkan pekerjaan-pekerjaannya, dan membantu mereka yang terdampak negatif pekerjaan-pekerjaan itu, dan yang lebih penting lagi, lawanlah hoaks; hoaks apa saja, karena hoaks tidak sesuai dengan martabat manusia dan melawan kesejatian hidup.

Teks bacaan hari ini menampilkan sosok yang rupanya tak memelihara kepalsuan hidup. Ia bukan pribadi berprinsip ABS karena ketulusan dan kejujurannya. Meskipun demikian, jujur dan tulus saja tidak cukup sebagai modal menjadi murid yang hendak mendengarkan suara Tuhan. Lagi-lagi, ini soal mengikuti: mengikuti Guru atau bapak atau apalah istilahnya yang memerdekakan murid untuk menemukan sendiri kesejatian hidup. Itu mengapa, murid mesti berani melawan hoaks bahkan kalau hoaks itu disebarkan oleh papanya sendiri.

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk membongkar benih hoaks yang ada dalam diri kami dan sekitar kami, yang membahayakan hidup bersama. Amin.


HARI BIASA MASA NATAL
Sabtu, 5 Januari 2019

1Yoh 3,11-21
Yoh 1,43-51

Posting 2018: Christ for Dummies
Posting 2017: Come and See Again

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s