Lowongan Guru

Kapankah waktu yang tepat untuk mencari Tuhan? Untuk ababil (agama yang baru labil): saat sedih susah, gagal, menderita, hidup tak sesuai skenarionya, terkena sindrom minoritas. Untuk orang beriman: saat semuanya berjalan mulus seturut skenarionya, ketika semuanya serba pasti, saat merasa jadi mayoritas. Baik orang beriman maupun ababil bisa berhasil dalam pencariannya, bisa juga gagal.

Yang ababil baru ingat sembahyang ketika hidupnya jadi susah dan mempertanyakan di mana Tuhan, dan getol mencari Tuhan tetapi bisa jadi mencari di tempat yang keliru: pada kedangkalan, pada cangkir kopi daripada kopinya sendiri, atau pada rasa kopi daripada fungsi kopinya sendiri, atau pada ritual daripada relasi personal. Ujung-ujungnya attachment. Orang yang merasa diri beriman bisa jadi menyimpan tendensi merasa sudah menemukan hakikat agama dan tak lagi menganggap ritual penting semata karena malas keluar dari kenyamanannya (karena ritual merepotkan!). Ujung-ujungnya attachment juga. Di mana ada attachment, di situ ada ilah yang tampak seperti Allah.

Narasi teks hari ini menyodorkan contoh orang beriman, yang tidak berorientasi pada kepastian persis karena iman melampaui hukum. Hukum harus pasti karena kalau tak ada kepastian hukum, si anu bisa ngobral hoaks dengan dalih memberi informasi tetapi hoaksnya sudah memengaruhi sikap orang terhadap anu yang lain. Kalau tak ada kepastian hukum, lebih susah lagi menyisipkan keadilan di dalamnya; dan kalau hukum itu tak pasti sekaligus tak adil, mau dibawa ke mana negara ini? Eh… kok jadi ngelantur.

Baik Yohanes Pembaptis maupun dua muridnya bisa jadi acuan orang beriman untuk berefleksi: Apa yang kita cari ketika kita mencari Tuhan? Keamanan? Perlindungan? Kedamaian batin? Keberuntungan?
Yohanes Pembaptis tidak terlekat pada murid-muridnya sebagaimana murid-muridnya tidak terlekat padanya. Ia tidak berpretensi sebagai guru sejati. Ia menunjukkan kepada murid-muridnya sosok yang mesti mereka ikuti, yang kiranya lebih layak dianggap sebagai guru sejati. Akan tetapi, apakah yang disodorkan guru sejati? Bukan pernyataan, melainkan pertanyaan: Apa sih yang kamu cari?

Kalau iman adalah kepastian dan semua keraguan mesti dilenyapkan, undangan Guru dari Nazareth itu sudah dengan sendirinya meruntuhkan predikatnya sebagai guru. Guru macam mana yang malah menyodorkan keraguan? Piye jal kalau guru iman malah membuat ragu muridnya? Ya gak piye-piye wong nyatanya ya filsuf di kemudian hari menemukan keraguan sebagai metode(!).

Guru dari Nazareth memulai pelayanannya dengan menabur keraguan. Dia tidak mencari murid dengan cara apa pun, tidak merendahkan yang lain, tidak merayu juga. Dia ingin calon muridnya mempertanyakan alasan pilihan mereka sendiri. [Saya kira dia juga akan keheranan kalau tahu bahwa para pengikut murid-muridnya menjadikan iman sebagai tempat perlindungan, pengasingan, atau pelarian dari dunia.] Andreas dan Yohanes kiranya tidak mengharapkan pertanyaan seperti itu. Mereka tak siap menjawab dan mengajukan pertanyaan baru: Di mana engkau tinggal? Terhadap pertanyaan itu diberikan undangan: datang dan lihat saja sendiri.

Bisa jadi, iman bukan lagi perkara percaya pada sesuatu, melainkan soal mengikuti seseorang. Percaya pada sesuatu lebih terhubung pada rumusan doktrin, tetapi mengikuti seseorang pasti memuat pilihan sikap tertentu yang mencerminkan orientasi hati seseorang. Itulah iman. Semoga semakin banyak orang mau berguru dan menemukan guru yang tepat. Amin.


HARI BIASA MASA NATAL
Jumat, 4 Januari 2019

1Yoh 3,7-10
Yoh 1,35-42

Posting 2018: Mesias Palsu
Posting 2017: Come and See!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s