Mesias Palsu

Di tanah tempat tinggal saya ini konon banyak orang yang senang berguru kepada satu guru dan guru lainnya, biar bisa sakti mandraguna, tetapi juga biar kebijaksanaannya lengkap. Karena itu tak sulitlah bagi saya mengerti bagaimana murid Yohanes Pembaptis dalam teks hari ini diceritakan pergi mengikuti Yesus. Bisa jadi guru yang baik malah menganjurkan muridnya supaya berguru kepada orang lain yang menurutnya lebih kompeten dalam hal tertentu. Kurikulum sekolah sekarang mungkin mengakomodasi mekanisme itu tetapi bisa jadi ajang pelarian guru dari tanggung jawab untuk menguasai materi.

Contohnya pelajaran agama. Para siswa diminta bertanya kepada pemuka agama mengenai pokok-pokok ajaran agama tertentu. Dengan dalih bertanya kepada yang kompeten, guru agama Katolik bisa meminta muridnya untuk tanya soal ini itu kepada pastor, tetapi ia sendiri tidak menjelaskan apa-apa di kelasnya. Lha rak malah ngwenehi gawean pastor, kan? Pancen pastor gak punya kerjaan kok, hahaha…. Saya pernah ditanyai murid mengenai satu dua hal tentang agama Katolik dan sebelum menjawabnya saya tanya dulu apa yang dikatakan guru tentang soal itu. Katanya tak dijelaskan apa-apa. Ha njuk guru agamanya ngapain? Eaaaa…. balada pastor.

Kerisauan saya tidak terletak di situ, tetapi pada soal guru berguru tadi. Jangan-jangan kita itu punya jauh lebih banyak paham sesat daripada paham sejati mengenai guru kita sendiri tetapi paham itu dipegang sedemikian rupa sehingga seakan-akan paham sesat itulah paham yang sejati. Kenapa kegalauan itu nongol?

Mari kita bicara Mesias. Murid-murid Yohanes itu oleh gurunya ditunjukkan sosok Mesias dan mereka mak bedunduk mengikuti orang yang ditunjuk oleh Yohanes Pembaptis. Tahukah Anda bahwa waktu itu memang orang Yahudi sedang sangat merindukan sosok penyelamat sedemikian rupa sehingga sangat wajar bahwa dua murid Yohanes Pembaptis itu ngeloyor pergi meninggalkan gurunya untuk berguru pada sosok penyelamat alias Mesias itu? Tahu, kan?

Akan tetapi, tahu jugakah Anda bahwa konsep Mesias yang dipegang oleh dua murid Yohanes itu berbeda dari konsep Mesias yang dimengerti Yohanes guru mereka? Kalaupun Anda tidak tahu, Anda masih bisa mengerti bahwa yang dikatakan A oleh guru bisa jadi ditangkap B oleh murid. Itu mengapa diperlukan ujian akhir semester untuk membuat penilaian oleh si guru apakah muridnya menangkap materi yang diberikan sebagaimana semestinya.

Itulah yang membuat saya galau: jangan-jangan orang beragama itu ya kebanyakan salah sambung. Murid-murid Yesus sendiri mengira bahwa Yesus adalah sosok pembebas bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi. Tidak ada indikasi dari teks sejarah maupun Kitab Suci bahwa Yesus punya agenda hendak mengalahkan penjajah Romawi. Penjajah itu ya diri sendiri kok ujung-ujungnya, gak usah menyalahkan orang lain!

Meskipun begitu, Yesus ya toh menerima dua murid itu sampai akhirnya mereka sadar bahwa Mesias ini berbeda dari Mesias yang semula mereka bayangkan. Hal yang sama bisa terjadi pada Nabi Muhammad, Sang Buddha, dan tokoh religius lainnya. Orang beragama bisa menyesatkan dirinya sendiri dengan paham-paham sesatnya.

Maka silakan menginventarisasi paham sesat. Dari mana tahunya sesat atau enggaknya ya? Pakai saja pedoman pembedaan Roh dengan menimbang-nimbang mana yang membawa pada konsolasi dan desolasi. Gampang, kan? Teorinya…

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan-Mu. Amin.


HARI BIASA MASA NATAL
Kamis, 4 Januari 2018

1Yoh 3,7-10
Yoh 1,35-42

Posting 2017: Come and See!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s