Agama Nan Ramah

Saya yakin Anda pernah mendengar frase “Islam yang ramah, bukan yang marah” dan mengenai frase itu saya kira Anda punya pengalaman beragam. Saya sendiri punya pengalaman keduanya, dan sudah saya bagikan dalam posting Perjumpaanku dengan Muslim 1 (Islam yang ramah) dan Perjumpaanku dengan Muslim 2 (Islam yang kurang ramah). Bisa juga ditambahkan pengalaman terbaru kemarin yang membuyarkan gambaran keramahan agama. Saya sendiri sangat yakin bahwa Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang ramah dan kegagalan oknum dalam menghayatinya membuat ia menampilkan gambaran seakan-akan Islam adalah agama yang marah. Orang-orang macam beginilah yang biasanya jadi makanan empuk, dimanfaatkan pemangku kepentingan bisnis (keamanan) atau politik kekuasaan untuk membuat konflik horisontal antarumat beragama.

Poin saya terletak pada frase “Islam yang ramah” untuk menyatakan bahwa iman adalah soal hospitalitas, soal keramahan, soal welcoming, soal acceptance alias penerimaan, tetapi lebih dari sekadar etiket atau tata krama alias sopan santun. Di sini jugalah saya mengajukan keberatan terhadap istilah toleransi yang digembar-gemborkan umat beragama karena istilah itu sangat berbau pendekatan keamanan. Kalau yang memberi nasihat itu pihak ketiga (militer, pemerintah), saya kira tak ada masalah. Wajar saja, karena itu pendekatan dari ‘luar’: kamu boleh saja menganggap agama lain salah, tapi toleran dong sejauh agama lain tidak menginjak-injak martabatmu. Akan tetapi, kalau nasihat toleran itu disampaikan oleh pemuka agama, ia sebetulnya melanggengkan prasangka bahwa agama lain salah, yang sampai batas tertentu masih bisa diberi toleransi.

Menurut saya, pemuka agama tidak perlu getol menyuarakan toleransi, seakan-akan ia menempatkan diri sebagai penjaga keamanan dan memiliki tolok ukur sampai sejauh mana agama lain bisa diberi toleransi. Pendekatan pemuka agama semestinya merupakan gerak ‘dari dalam’, gerak untuk membuka diri terhadap yang lain. Artinya, pemuka agama sewajarnya mengundang umatnya untuk ramah terhadap keberbedaan, bukan malah terus menerus mendesakkan dan memaksakan keseragaman.
Loh, Rom, kalau tak seragam apa bukannya malah amburadul tuh agama? Coba bayangkan kalau orang sesuka hati menganggap warna merah jalan terus dan warna hijau berhenti, apa gak kacau hidup ini? Semua orang seharusnya menyepakati tanda lalu lintas itu dong kalau mau hidup bersamanya lancar jaya!

Betul, tetapi hidup beriman tidak bisa dianalogikan dengan peraturan lalu lintas. Anda bisa terkagum-kagum melihat ribuan orang menari dengan koreografi luar biasa untuk upacara pembukaan Asian Games misalnya. Akan tetapi justru itulah yang perlu dicamkan: hidup beriman bukanlah upacara pembukaan apa pun. Selalu ada dalam setiap agama upacara tertentu, yang semakin seragam semakin enak dipandang mata. Akan tetapi, iman bukanlah soal enak dipandang mata. Bisa saja kan selama gerakannya seragam, enak dipandang mata, orang-orangnya merancang korupsi yang lebih rapi? Bisa saja kan pakaiannya seragam putih-putih tetapi pikirannya gelap? Itu terjadi karena orang beragamanya tak ramah terhadap nilai universal yang ditawarkan Allah.

Teks hari ini menuturkan keramahtamahan Yohanes terhadap Guru dari Nazareth sebagai simbol keramahan umat beriman terhadap Allah yang senantiasa hendak hadir dalam hidup manusia.
Semoga orang beragama semakin hari semakin ramah terhadap liyan demi perkembangan iman bersama.
Amin.


HARI BIASA MASA NATAL
Kamis, 3 Januari 2019

1Yoh 2,29-3,6
Yoh 1,29-34

Posting 2018: Ge Er Dikit Bolehlah
Posting 2017: Oh Guru Agama
 

Posting 2015: Orang Beriman Itu Telmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s