Terancam

Saya bisa maklum kalau Anda tidak suka terancam. De gustibus non disputandum; mengenai selera, tidak eloklah berdisputasi alias berdebat. Jadi, saya maklumi saja kalau Anda tidak suka terancam. Saya suka terancam yang dibuat di suatu warung besar antara Klaten dan Delanggu. Dah gitu aja informasinya, selebihnya silakan tanya mbak Google.

Di awal tahun 80-an saya punya kakak kelas yang namanya Stella (tapi seusia saya karena saya terkena pergantian sistem tahun ajaran sehingga mesti mengulang kelas satu SD ketika hijrah ke Jakarta). Sekali lagi, namanya Stella, bukan Vanessa atau Shaqqila [loh kok ujug-ujug nyebut nama-nama itu ya]. Karena adiknya adalah teman saya, Anda tentu maklum saya juga jadi kenal Stella. Saya kerap main ke rumah teman saya ini di bilangan super elit (waktu itu) di Jakarta Selatan, tentu dengan menumpang mobil mereka; dan mengharukannya, saya selalu diantar pulang kembali ke sekolah dan dari sekolah saya pulang jalan kaki ke rumah kontrakan papa saya, yang tak pernah minta saham. Kenapa jalan kaki (kok gak sekalian minta diantar sampai rumah)? Ya capek lari atuh!

Yang mengesan saya dari Stella ini ialah bahwa kehadirannya di rumah (lha wong itu rumah-rumah ortunya kok malah kehadirannya sih) tidak menjadi ancaman bagi saya yang bermain dengan adiknya. Singkatnya, saya tak terancam oleh kehadiran Stella, juga kalau ia nimbrung di sela-sela silaturahmi saya dengan adiknya. Itulah pijakan saya untuk melihat teks hari ini. Entah Anda suka atau tidak suka terancam, ‘terancam’ itu bisa dipakai sebagai tolok ukur pada jalur mana Anda sedang menjalani tahap hidup Anda.

Stella berarti bintang (bahasa Latin), dan Stella itulah yang menuntun tiga orang bijak dari Timur berziarah dan menjumpai sosok bayi Guru dari Nazareth. Akan tetapi, Stella ini pula yang luput dari amatan Herodes dan dia merasa terancam oleh sosok yang ditunjukkan Stella itu. Agak ironis memang. Orang bijak dari Timur merepresentasikan keberterimaan sosok bayi sampai ke wilayah Timur, Herodes malah merasa terancam.

Kembali lagi, Anda boleh suka terancam atau tidak, dan itu jadi indikator pada jalur mana Anda berjalan dalam peziarahan hidup ini. Kalau Anda suka terancam oleh hoaks, bisa jadi Anda pendukung nomor satu #eh… maaf, bisa jadi Anda dalam track yang benar. Tentu bukan berarti Anda suka hoaks, sebaliknya, Anda tidak suka hoaks, tetapi tidak jadi heboh gégér gênjik (anak-anak babi yang kebingungan dan ribut) karena jadi sasaran hoaks. Dengan gembira hati Anda melawan hoaks itu.

Kalau Anda suka terancam oleh data, fakta, kebenaran, bisa jadi Anda suporter nomor dua #eh… maaf, bisa jadi Anda dalam track yang salah. Dalam gerak naratif teks hari ini, yang berada di track yang keliru adalah Herodes, yaitu sosok yang haus kekuasaan demi kekuasaannya sendiri.
Begitulah pertanyaan reflektifnya: terancam oleh hoaks atau kebenarankah Anda?

Tuhan, mohon rahmat kepekaan untuk menangkap kehadiran-Mu juga dalam ancaman bahaya yang kami hadapi. Amin. 


HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN
Hari Anak Misioner Sedunia
Minggu, 6 Januari 2019

Yes 60,1-6
Ef 3,2-3a,5-6
Mat 2,1-12

Posting 2018: Hidayah AMDG
Posting 2017: Bintangku Bintangmu

Posting 2016: Museum Allah
Posting 2015: Pesta Para Pencari Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s