80 Juta Saja

Zaman now menyaksikan sebagian orang yang getol mencari followers di medsos karena semakin banyak followers, kemungkinannya memperoleh popularitas dan fulus semakin besar. Itu bukanlah persoalannya karena memang wajar saja orang mencari popularitas dan income yang banyak. Problemnya adalah tujuan akhir yang hendak dicapai melalui popularitas dan uang itu tadi.

Eh, eh, eh, Romo ini mau menyesatkan ya? Jadi tujuan menghalalkan cara gitu?
Woooo, Anda ini belum pernah pergi ke warung Mbok Sabar Muntilan rupanya. Mbok ya disimak dulu baik-baik, kan tadi saya katakan tujuan akhir, bukan tujuan menghalalkan cara.
Halah, mau ngêlès lagi. Entah tujuan akhir atau tujuan bukan akhir, pokoknya tujuan!

Menurut saya, kata ‘akhir’ itu penting untuk menunjuk sesuatu yang lebih dasariah. Misalnya, Anda korupsi dan menyisihkan sebagian uang atau bahkan seluruh uang korupsi itu untuk membangun rumah ibadah. Atau colek deh yang lebih panas, meskipun belum jelas. Anda menghasilkan 80 juta semalam, dan Anda berjanji kepada pemuka agama untuk menyumbang beberapa minggu ke depan sejumlah besar uang untuk membangun tempat ibadah. Abaikan cara Anda memperoleh uang 80 juta semalamnya dan mari fokus ke tujuannya.

Benarkah tujuannya membantu pembangunan rumah ibadah? Benar. Muliakah tujuan itu? Sangat mulia skaleeee‘. Akan tetapi, apakah memang cuma itu tujuannya?
Iya, suwer cuma itu tujuan saya menjual saham saya senilai setengah trilyun rupiah!
Waw, mulia sekali Anda.
Jika mendengar pujian itu, baju Anda terasa kesempitan karena ge er, bisa jadi pujian itulah tujuan akhir Anda. Jika mendengar pujian itu, Anda bergeming dengan perasaan datar, bisa jadi sumbangan itu cuma modus dari agenda lain yang Anda sembunyikan.

‘Agenda tersembunyi’ itulah yang saya sebut sebagai tujuan akhir, dan hidden agenda ini yang perlu dibongkar dan dikritisi dan pada gilirannya bisa dipakai untuk mengkritisi cara yang ditempuh. Misalnya, Anda menyebut uang trilyunan itu Anda gelontorkan murni demi gerakan bela agama. Hanya itu tujuan akhirnya. Fine. Sekarang, kajilah ajaran agama yang Anda bela itu, dan cocokkanlah ajaran-ajaran agama itu dengan cara Anda memperoleh trilyunan uangnya. Kalau trilyunan rupiah itu diperoleh dengan cara yang memuat tindak korupsi, tipuan, argumentasi semu (mengganti istilah dengan kosa kata religius untuk menghalalkan pencurian terselubung), pelecehan, perampokan, penindasan dan Anda melihat itu cocok dengan ajaran agama, berarti agama Anda memang korup, manipulatif, melecehkan martabat manusia, dan Anda gagal membela agama.

Kalau uang trilyunan itu sangat bersih, diperoleh dengan cara yang tak bertentangan dengan prinsip ajaran agama, dan Anda semata memberikannya untuk rumah ibadat, tidak mencari pujian, tidak mengidealkan politik identitas agama, kekuasaan politik duniawi, bisa jadi Anda tidak jauh dari Kerajaan Surga.

Yang terakhir ini, sejujurnya, saya meragukannya. Maka, pesan dalam teks hari ini tetap relevan: bertobatlah karena Kerajaan Surga sudah dekat. Pertobatan dalam teks hari ini bukan lagi soal memercayai kata-kata bijak, melainkan mengikuti guru iman. Entah siapa pun guru iman Anda, pesannya sama: kenalilah guru iman itu baik-baik sedalam-dalamnya, belajarlah darinya atau dari mereka, dan sinkronkan hidup Anda dengan hidup mereka. Dengan cara itu, Anda mengekspresikan diri dan memuliakan Tuhan, Sang Tujuan Akhir. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN C/1
Senin, 7 Januari 2019

1Yoh 3,22-4,6
Mat 4,12-17.23-25

Posting 2016:Mulai dari Kamu… Ya Kamu
Posting 2015: Gantian
Dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s