Mari Kenduri

Saya kira Anda sudah akrab dengan salah satu tafsir teks hari ini bisa disebut sebagai mukjizat berbagi (the miracle of sharing). Guru dari Nazareth membuka hati ribuan pendengarnya sehingga mereka mau berbagi satu sama lain dan dengan demikian bekal yang mereka bawa jadi lebih dari cukup bagi lima ribu laki-laki (entah berapa perempuan dan anak-anaknya). Akan tetapi, sejujurnya, saya kok ya bosan dengan wacana ‘hidup berbagi’. Apa-apa berbagi, dikit-dikit berbagi, banyak duit berbagi, hasil korupsi dibagi-bagi, sampai suami/istri pun berbagi.

Heran, Romo kok bosan terhadap teks Kitab Suci?
Loh, piye toh, saya bukan bosan pada teks Kitab Sucinya, melainkan pada tafsirnya. Mukjizat berbagi itu saya rasa terlalu spekulatif karena teksnya sendiri gak mengindikasikan hal itu. Saya tak mau mengagung-agungkan the miracle of sharing. Lagipula, saya ingat kisah yang jauh lebih kuno tentang Elia yang menolong janda Sarfat dan tepungnya ternyata tak habis seperti diperkirakannya (1Raj 17,7-16). Kalau tepung roti itu bisa terus diambili dan tak habis-habis, insyaallah, jika Tuhan mengizinkan, begitu juga halnya dengan lima roti dan dua ikan.

Akan tetapi, teks juga tidak mengisahkan peristiwanya seperti dalam teks mengenai mukjizat Elia itu. Jadi, saya tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Meskipun demikian, karena penulis Markus itu konon punya perhatian bagaimana menjadi murid atau rasul dari Guru dari Nazareth itu, saya lebih suka melihat teks ini dalam konteks kemuridan itu.

Di mana peran murid dalam teks itu? Berdasarkan teks, bisa dilihat para murid itu semula hendak lari dari tanggung jawab sosial atas ribuan orang yang mengikuti Guru mereka. Sang Guru menegur, mengingatkan mereka supaya tak abai. Mereka menuruti permintaan gurunya tetapi dengan pesimisme: gada duit, ga’ ada makanan, gak mau utang luar negeri, dan seterusnya. Ketika Sang Guru meminta mereka untuk melihat apa yang ada pada mereka, jebulnya ada lima roti dan dua ikan. Mana cukup untuk ribuan orang?

Pada kenyataannya para murid itu membagi-bagikan roti. Akan tetapi, sebelum roti itu dibagi-bagikan, ada momen pentingnya: Sang Guru dari Nazareth menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada para murid.
Kalau begitu, yang dibagi-bagikan para murid adalah roti yang mendapat perlakuan khusus: diberkati dengan doa. Prinsipnya ya seperti kenduri, bukan? Ada makanan dan orang berdoa untuk memberkati makanan itu. Dibagi-bagikan, sudah keniscayaan, tetapi diberkati dengan doa, itu yang kadang luput dari perhatian orang yang berlagak dengan filosofi kebebasan-berbagi.

Para murid berpretensi hendak mengenyangkan semua orang dengan daya kekuatan mereka. Sang Guru mengajarkan kepada mereka bahwa kalau resources itu dikembalikan kepada kehendak Allah, bukan diklaim sebagai kekuatan atau milik segelintir orang, resources itu cukup, bahkan berlebih untuk seluruh makhluk. Problemnya, orang cenderung lebih dulu menuntut hak daripada berusaha menata resources itu seturut kehendak Allah. Orang tak punya daya tahan untuk membiarkan diri diberkati dan ‘dipecah-pecah’ supaya resources itu benar-benar jadi kemaslahatan bagi semakin banyak orang: orang tak berani susah menjadi berkat dengan menyuarakan keadilan.

Tuhan, mohon kekuatan untuk mendengarkan-Mu dan melawan ketidakadilan, juga meskipun kami tertindas. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN C/1
Selasa, 8 Januari 2019

1Yoh 4,7-10
Mrk 6,34-44

Posting 2016: Rebutan Hidayah
Posting 2015: Siapa Bilang Allah Mahakuasa?

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s