Reuni Kegelapan

Mereka yang hidupnya tercerahkan, tidak memilih langkah mundur untuk reuni dengan kegelapan. Itu insight refleksi kemarin dan teks bacaan hari ini menunjukkan apa artinya reuni dengan kegelapan. Sosok yang disinggung keras hari ini adalah Petrus, tetapi itu hanyalah representasi murid-murid lainnya yang rupanya belum juga mendapat pencerahan bahkan setelah sekian waktu mereka mengikuti Guru dari Nazareth. Kok isa ya nyantrik langsung ke Guru dari Nazareth dan tak mendapat pencerahan?

Tadi malam saya bermimpi bersama keluarga melakukan immersion di sebuah pesantren yang gurunya sangat termasyhur dan sangat saya kagumi, tetapi tak bisa saya sebutkan di sini [karena lupa juga namanya siapa]. Kami bahagia tinggal di situ karena hospitalitas kyai dan para santrinya. Yang mengesankan saya ialah ketika para santri keluar dari musala, berpapasan dengan kami yang tak ikut salat, mereka tersenyum ramah menyapa kami seakan-akan paradigma yang ada di kepala mereka berbunyi “mereka yang berbeda dalam agama adalah saudara dalam kemanusiaan.” Singkatnya, perbedaan agama dengan segala tetek bengeknya tak membuat mereka besar kepala, segala ikhtiar mereka untuk menjalankan perintah agama tidak memprogram logika mereka bahwa mereka jadi lebih baik dan lebih benar daripada orang lain yang tidak seperti mereka. Das ist ja wirklich toll!

Itu berbeda dari mimpi Petrus yang dihardik oleh gurunya dengan sebutan setan. Oh ya, masih ingat kan, bahwa sebutan ‘setan’ (alias Σατανᾶ) itu lebih parah daripada iblis (διάβολος alias diabolos) dan penggoda (πειράζων alias peirazoon, kok mirip-mirip nama anggota dewan ya)? Di mana parahnya mimpi Petrus ini? Dia termasuk warga militan yang temperamental juga. Akan tetapi, bukan sifat temperamentalnya yang parah, melainkan mimpinya tadi. Dia berpikir bahwa Guru dari Nazareth ini adalah Mesias yang bakal jadi pimpinan politik mereka, dengan segala hukum dan tatanan baru yang membuat mereka merdeka dari penjajahan bangsa Romawi dan cengkeraman para pemuka agama Yahudi. Maka, Petrus tak mau Mesias itu mati. Ntar dulu dong, bangun dulu tatanan politik baru yang mengenyahkan penjajah, termasuk agama.

Petrus yang belum tercerahkan itu juga merepresentasikan orang yang menunggangi agama sebagai kendaraan politik atau berpolitik teror memakai agama. Plis deh kalau ada mahasiswa yang berpikiran surga-neraka untuk pilpresnya! Ada banyak jalan menuju surga-neraka dan Anda tidak masuk surga hanya gara-gara mencoblos nomor satu, tetapi juga tidak masuk neraka hanya gara-gara mencoblos nomor satu! Jadi, cobloslah nomor satu tanpa embel-embel surga-neraka! Hahaha, ini kampanye ya, Rom?
Saya memang mendukung nomor satu, tetapi kalau ini Anda tangkap sebagai kampanye, You Miss the Point, Bro’. Poin saya, orang tercerahkan tidak mencampuradukkan cara berpikir, seperti Petrus yang hendak memaksakan visi Mesias ke dalam visi politiknya.

Loh, bukannya mesti ada sinkronisasi antara iman dan politik? Betul skale‘, tetapi orang yang tercerahkan tidak akan pernah mengklaim bahwa institusi rohaninya adalah satu-satunya atau institusi terbaik bagi semua orang. Kalau ia sampai pada klaim itu, berarti ia terseret setan, yang dibantu iblis pemecah belah dan penggoda yang menebar benih permusuhan. Ia bereuni dengan kegelapan.

Ya Allah, lindungilah umat-Mu supaya tak terkecoh oleh isu agama. Amin.


KAMIS BIASA VI C/1
21 Februari 2019

Kej 9,1-13
Mrk 8,27-33

Posting Tahun A/1 2017: Agama Pelangi
Posting Tahun A/2 2014: Put Your Liberating Glass On!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s