Restless Temptation

Salah satu buah nyepi para mahasiswa kakak semester saya hari-hari belakangan ini dirumuskan dengan frase begini: ketidakterdugaan kuasa Tuhan yang membuat kita ‘edan’. Saya duga ini karena film yang saya tayangkan bagi mereka [lha katanya nyepi kok malah nonton film]: Restless HeartThe Confessions of Augustine. Kalau Anda berminat menontonnya, sekurang-kurangnya Anda butuh waktu tiga jam. Kalau berminat dan masih bisa diakses, Anda bisa melihatnya di sini untuk versi bahasa Inggrisnya, dan tak perlu mengaktifkan subtitlenya karena tak sedikit yang menyesatkan.

Sejauh saya mendengarkan penjelasan mahasiswa itu, frase itu muncul karena ia juga membandingkannya dengan pengalaman hidupnya sendiri: berusaha sebaik-baiknya mengikuti yang baik dan benar, dan merasa menemukannya, tetapi kemudian ternyata bukan itu yang baik dan benar sesungguhnya. Seakan-akan, kehendak Allah yang dikejarnya itu terbukti cuma kehendak dirinya sendiri. Bisa jadi, karena prinsipnya roh jahat itu bisa memakai yang baik dan benar sebagai kamuflase orientasi jahatnya. Bisa jadi, itu yang membuat orang bisa jadi ‘edan’. Bukan manusia yang menemukan Kebenaran, melainkan Kebenaranlah yang akan menemukan manusia, karena Kebenaran bukan konsep, melainkan pribadi. Sayangnya, pinter-pinternya roh jahat, manusia membuat Kebenaran itu hanya jadi konsep atau ideologi.

Godaan macam begitu barangkali terjadi ketika orang keranjingan dengan kekuatan logikanya, tetapi tak mampu menceburkan dirinya dalam kenyataan eksistensial manusia yang hidup di hadirat Allah. Godaan seperti itu berlangsung sepanjang hayat, sebagaimana dialami Augustinus, tetapi juga seperti ditunjukkan dalam teks bacaan hari ini yang menarasikan bagaimana Guru dari Nazareth pun mengalami godaan sampai ujung hidupnya. Tanpa perlu meminta, setiap orang bisa mendapat godaan seperti dialami Guru dari Nazareth itu, tetapi lain perkaranya bahwa Guru ini tak pernah jatuh dalam godaan.

Apakah perkaranya karena Guru ini tak bisa ditiru? Tentu bukan. Perkaranya bahwa orang tak mau meniru bagaimana menarik diri supaya tak jatuh dalam godaan sepanjang hayat itu.
Tuhan, mohon kejernihan hati dan budi untuk jeli membedakan kebaikan dan kebenaran semu yang pada ujungnya dapat menyesatkan kami. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA I C/1
10 Maret 2019

Ul 26,4-10
Rm 10,8-13
Luk 4,1-13

Minggu Prapaska I C/2 2016: Cinta Satu Malam

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s