Lu Gue Batu Tulis

Kontroversi hukum mengenai hukuman mati untuk LGBT di negara tetangga belakangan ini seperti jadi konteks untuk bacaan hari ini. Loh, kok isawong teks bacaan hari ini ditulis nyaris dua ribu tahun lalu?
Saya kasih bocoran deh [bocooooor]: para ahli Kitab Suci sepakat bahwa narasi teks Yohanes ini dicomot dari tulisan lain [Lukas 21] untuk menanggapi keadaan jemaat Kristiani dua abad pertama masehi. Kenapa cerita itu diabaikan sekian lama?

Persoalannya ada pada kalimat yang diletakkan pada mulut Yesus,”Aku pun tidak menghukum engkau.”
Terhadap kalimat ini, Augustinus, yang sudah saya singgung dalam beberapa posting belakangan ini, memberi komentar yang sepertinya terburu-buru. Katanya, kalimat itu rentan disalahpahami sehingga lebih baik jemaat Kristiani tak usah menggubrisnya. 
Tafsiran itu tak memperhatikan konteks historis geografis karena sebetulnya yang terjadi ialah bahwa pada abad pertama Gereja mengadopsi suatu cara bertindak yang keras, galak, ketat, kaku, terhadap para pendosa, mereka yang imannya tipis-tipis. Kok isa

Pada abad pertama itu jumlah penganut Kristiani mulai berkembang. Semakin jumlahnya membesar, semakin riskan juga kualitasnya, bukan? Maka tak mengherankan bahwa ‘pendosa’-nya juga banyak karena pengaruh dari sana-sini.
Nah, pada saat itulah Gereja menerapkan cara bertindak (belum berupa hukum) yang keras terhadap mereka yang menyangkal iman, ikut-ikutan membunuh, atau berzinah. Tak ada rekonsiliasi untuk pelaku tiga hal itu.

Memang ada juga paus pada masa-masa itu yang lebih pengertian terhadap kerapuhan hidup manusia beriman. Papa Callisto I misalnya. Akan tetapi, pokoknya tren umum saat itu adalah cara bertindak yang keras tanpa ampun terhadap anggota jemaat yang dianggap berdosa. Kenapa? Karena mereka takut semakin banyak jemaat yang seenaknya sendiri bikin dosa. Baru pada pertengahan abad kedua mulai muncul wacana yang diletakkan pada mulut Yesus dalam Injil Yohanes ini. 

Adegan yang saya soroti hari ini adalah momen Yesus membungkuk dan menulis di tanah. Saya tidak kepo apa yang dia tulis, tetapi saya mengerti bahwa tanah di situ tak seperti tanah mbah saya. Tanah di sana itu keras, seakan-akan batu semua dan layak jadi batu tulis. Isyarat yang dibuat Yesus itu lebih mengingatkan saya pada wahyu yang diterima bangsa Yahudi yang dulu konon dituliskan dalam dua loh batu.

Isyarat ini dilakukan Yesus untuk menanggapi konspirasi pemuka agama. Saya yakin Yesus ini tidak hendak mempermalukan pemuka agama, yang akhirnya ngeloyor satu per satu, apalagi mempermalukan perempuan yang tertangkap berzinah. Mari perhatikan adegannya. Orang beramai-ramai menggelandang perempuan dan melontarkan pertanyaan pada Yesus dan Yesus cuma diam, lalu menulis di tanah batu itu. Ke mana perhatian orang? Tentu mereka jadi kepo melihat apa yang dibuat Yesus.

Kontemplasi saya di situ berbunyi begini: hukum Allah itu ditulis di batu atau di hatimu. Kalau itu ditulis di hatimu, apakah hatimu itu keras seperti batu sehingga memproyeksikan ideologi, ketakutan dan arogansimu kepada sosok Allah?
Jangan-jangan memang begitu ya, lu gue batu tulis [ini biar judulnya masuk dalam tulisan aja sih, Pak]: merasa benar, lalu merasa berhak juga untuk melakukan apa saja terhadap mereka yang kita anggap salah.

Tuhan, mampukan kami untuk dapat menampilkan wajah-Mu yang pengasih lagi penyayang. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA V C/1
7 April 2019

Yes 43,16-21
Flp 3,8-14
Yoh 8,1-11

Posting 2016: Isih Kepenak Jambanku Toh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s