Iman Tipis-tipis

Apakah keimanan seseorang itu bisa terlihat?
Bergantung pada melihatnya pakai apa.
Lah, yang namanya melihat ya pakai mata toh, Rom!
Ya, tapi kan ada mata kaki, mata sapi, matahari, mata pedang, atau mata keranjang…
Ya wis sak karêpmu, Ma!
Nèk sakkarêpku ya brarti coblos nomor anu atau una😝!

Teks bacaan hari-hari ini masih menyisakan persoalan identitas religius atau agama di benak saya. Seperti kemarin Guru dari Nazareth dikisahkan pergi ke Yerusalem tidak secara terang-terangan, begitu juga hari ini seorang tokoh agama Yahudi, Nikodemus, yang sebetulnya condong ke nomor anu #eh: ia cuma menyuarakan pertanyaan yang muncul dari dorongan batinnya untuk mencari kebenaran.

Sudah sejak dua dekade lalu saya dengar bahwa gereja-gereja di Eropa kosong. Maksudnya, tak ada lagi orang muda yang datang ke gereja untuk beribadat. Lebih dari sepuluh tahun lalu saya melihat gereja kosong dengan mata kepala [tuh malah ada mata kepala juga] sendiri. Di suatu hari Minggu saya masuk ke gereja yang besaaaaaar sekali. Ada banyak orang berkumpul di bangku-bangku di depan altar, tetapi setelah mendekati jam misa, mereka beranjak dari situ. Jebulnya mereka turis dan akhirnya pada saat imam nongol dari sakristi [sanès sangkristi nggih, Mbah], tinggal saya sendirian sebagai umatnya, dan imamnya itu tak tahu bahwa saya juga pastor. Jadi berduaan aja deh misa di gereja yang besaaaaaar itu. Romantis kan…. [mbahmu romantis]

Di hari Minggu lain kadang saya temui beberapa umat lain, tetapi ya intinya memang gereja yang besar itu ‘kosong’.
Apakah itu artinya memang iman orang-orang Eropa tipis-tipis aja kalau mayoritas gereja kosong dan alih fungsi jadi ruang pertemuan atau bahkan tempat ibadat agama lain? Ya sekali lagi, bergantung pada cara melihatnya.
Pada kesempatan lain, suatu hari Minggu juga, saya pelesiran ke luar kota, dan di saat lèyèh-lèyèh, mata saya tertambat pada sekelompok anak muda di depan sebuah gereja. Yang paling besar itu anak SMA, dikelilingi sekitar sepuluh anak lain yang mungkin masih SD atau SMP. Saya masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dan itu semakin meyakinkan saya: iman tak bisa langsung diukur dari kosongnya gereja.

Saya jujur aja ya, lebih suka gereja yang sepi pada saat misa harian, dihadiri sedikit umat yang sungguh digerakkan batinnya untuk membiarkan diri disentuh kebenaran, daripada gereja yang padat setiap hari Minggu, dipenuhi banyak umat yang imannya tipis-tipis aja.
Loh, kok Romo bisa menuduh banyak umat imannya tipis-tipis?
Kalau itu dianggap tuduhan (wong ya cuma bilang lebih suka begini daripada begitu kok), baru bisa dibuktikan benar salahnya setelah peraturan wajib ke gereja mingguan itu dicabut: yang imannya tipis-tipis tak akan ke gereja hari Minggu, tidak juga hari biasa!

Kemarin sudah saya sisipkan bahwa aturan Gereja itu mengikat suara hati dan suara hati identik dengan kebebasan. Sayangnya, Gereja tak selalu sukses mengikat suara hati karena hati orang lebih mudah diikat kontrak sosial: rikuh, takut otoritas, politik kepentingan, dan seterusnya. Iman kehilangan dimensi relasi personal dengan Sang Misteri.

Tuhan, tambahkanlah iman kami kepada-Mu. Amin.


SABTU PRAPASKA IV
6 April 2019

Yer 11,18-20
Yoh 7,40-53

Posting 2018: Sunyi Sepi Sendiri
Posting 2017: Biar Tuhan Membalasnya

Posting 2016: Kamu Teman Siapa?

Posting 2015: Dilahirin Lagi?

Posting 2014: Conspiracy against “J”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s