Diam-diam Manusia

Waktunya tinggal dua minggu lagi. Makin dekat saja! Begitulah nuansa yang disodorkan teks bacaan hari ini. Ini bukan soal tubeless-tubelessan Jokowi atau lawannya. Kata senior saya, ia jenuh dengan wacana capres; ia lebih melihat ini soal nyoblos Ma’ruf atau sandi aga’ satu. Amin, Bang. Amiiiiiin. [Ini sudah kelihatan seperti kampanye belum?]

Akan tetapi, teks hari ini tidak bicara soal cawapres juga sih. Tulisan yang diambil hari ini berbeda dari tiga Injil lain soal rajinnya Yesus pergi ke Yerusalem. Ia ke Yerusalem beberapa kali sebelum akhir masa hidupnya. Hanya saja, seperti digambarkan teks hari ini, ia tidak ke Yerusalem terang-terangan karena makin jelas orang-orang Yahudi hendak membunuhnya dan saya yakin, ia tidak hendak mati konyol juga dengan alasan suci kemartiran! Bukan gitu caranya. Maka, kalaupun perlu ke Yerusalem, ia tidak secara terang-terangan melakukannya.

Di sini, saya belum bisa move on dari insight peristiwa beberapa hari lalu itu, yang sudah saya singgung dalam dua posting terakhir. Ini saya tambahi lagi dengan kutipan yang disodorkan Bapak M. Quraish Shihab dalam pidatonya saat Human Fraternity Meeting pada bulan Januari lalu. Teks lengkapnya bisa Anda baca di sini. Beliau ini rupanya seorang Habib, tetapi tak mau memakai atribut itu. Maklum saja, selain kerendahhatian, di negeri yang agamanya bisa disalahpahami ini, atribut Habib pun bisa saja dinista oleh mereka yang beperkara dan bahkan sampai lari tunggang langgang gak balik-balik, dan khalayak ramai dengan keterbatasan pengetahuan bisa sulit menengarai mana yang Habib sungguhan dan mana yang sungguh ancur.

Kutipan pembuka pidatonya begini: Manusia ada dua: saudaramu dalam agama atau mitramu dalam kemanusiaan. Kata mutiara itu saya tangkapnya begini: orang di sebelahmu itu, kalau tak seagama denganmu, berarti sekemanusiaan.
Tahu dari mana kalau dia seagama? Ya mungkin dari tanda salib, dari buku bawaannya (Kitab Suci atau Madah Bakti), dari sujud syukurnya, dari ritualnya. Saya garis bawahi kata modalitas mungkin. Apa Anda kira yang membuat tanda salib itu cuma orang Katolik? Apa Anda bisa memastikan orang yang memakai bahasa Arab itu Islam? [Lha wong teman pastor saya ya ngecipris sehari-hari pakai bahasa Arab.] 

Itu belum lagi kalau diteruskan: apakah kalau seagama itu artinya punya disposisi batin, iman, yang sama? Belum tentu juga, bahkan bisa dipastikan tidak sama, karena setiap orang punya tahap perkembangan imannya sendiri-sendiri.
Artinya, kata mutiara yang disodorkan Bapak M. Quraish Shihab itu justru menunjukkan poin pentingnya pada kesamaan sebagai manusia: santai ajalah, kalau tak seagama, berarti orang itu adalah mitra kemanusiaan; jadi kenapa mesti bikin kesepakatan yang mendiskriminasi orang berdasarkan agama? [Itu yang kadang bikin saya risih mendengar pengumuman di gereja bahwa yang boleh menerima komuni adalah bla bla bla, padahal hukum Gereja mengikat suara hati.]

Yang dibuat Guru dari Nazareth mengesankan saya: ia tidak melarikan diri dari hal yang perlu dibuat seturut panggilan batinnya, tetapi tidak show off dengan identitas sekunder (Mesias agama).

Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu membumikan agama-Mu dalam kemanusiaan. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA IV
5 April 2019

Keb 2,1a.12-22
Yoh 7,1-2.10.25-30

Posting 2018: Jangan Sia-siakan Cinta
Posting 2017: 313: Untung Buntung

Posting 2016: Gajahlah Kebersihan

Posting 2015: Yakin Percaya Tuhan?

Posting 2014: Dekat di Mata, Jauh di Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s