Berhati Nyaman?

Sekitar enam belas abad lalu, ketika mungkin saya masih jadi Amoeba proteus, di salah satu kota di Afrika utara, ada kejadian yang serupa dengan peristiwa belakangan ini di tempat yang istimewah. Cuma ini lebih sangar dan konteksnya memang berbeda. Ada sekelompok orang barbar yang mau masuk kota berbenteng dengan pengawalan sejumlah tentara kekaisaran Romawi. Kota itu bernama Hippo. Itu terjadi ketika kekasiaran Romawi sedang mulai meredup, ketika wilayah periferinya mulai mendapat ancaman dari luar.

Yang menarik saya adalah perseteruan agama dan politik di dalam benteng kota Hippo itu ketika orang-orang yang disebut barbar itu sudah mulai mengepung mereka. Uskup Hippo yang bernama Augustinus, representasi kekuasaan agama, berseteru dengan gubernurnya, yang adalah teman sejak Augustinus masih muda. Konon si gabenernya menantikan pasokan tentara dari pusat untuk menghancurkan kaum barbar yang mengepung mereka, tetapi si uskup malah melakukan mediasi dengan pimpinan kaum barbar.

Hasil mediasinya jelas: benteng kota Hippo dibiarkan terbuka dan tentara Romawi melucuti senjatanya [loh apa senjatanya berpakaian?], dan kaum barbar akan membiarkan warga Hippo tetap hidup. Dengan kata lain, dari sudut pandang Uskup Augustinus ini, mereka mesti siap membangun suatu kultur baru bersama warga baru yang tak mereka kenal, yang selama ini dianggap sebagai orang barbar tanpa hukum, tanpa peradaban seperti yang dihidupi warga kekaisaran Romawi. Artinya, dengan menerima warga baru itu, mereka mesti memaknai kekristenan secara baru, bagi yang kristen, dan memaknai agama Romawi juga secara baru, bagi yang bukan kristen.

Memberi makna baru bagi identitas religius bersama orang-orang baru inilah yang oleh Augustinus direfleksikan sebagai bagian dari “Kota Tuhan” (The City of God). Kalau ditinjau dari perspektif tiga ranah persaudaraan yang saya singgung kemarin, ini adalah upaya untuk membangun ukhuwah insaniyah bersama orang-orang baru. Mungkin sedikit mengubah ukhuwah wathaniyah, tetapi hampir tak mungkin mengubah ukhuwah ‘kristen’-iyahnya (wong ya sebelum kelompok barbar itu mengepung, jemaat Uskup Augustinus ini hidup berdampingan baik-baik saja dengan mereka yang menyembah Kaisar). 

Sayangnya, si gabener tak mau membangun ukhuwah wathaniyah yang baru, bahkan membagun ukhuwah insaniyah juga tidak. Ia lebih memilih kejayaan asli Romawi, yang sebenarnya sudah usang karena tak beradaptasi dengan kultur lain. Akhirnya, kaum barbar masuk dan membumihanguskan Hippo. Si gabener dan tentaranya hancur. Uskup Augustinus sakit sebelum meninggal, tetapi umatnya masih bisa membangun ukhuwah ‘kristen’-iyah karena mereka memilih pindah dari dusun itu #eh… untuk membangun ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah insaniyah di tempat yang baru.

Teks bacaan hari ini memang bisa dibaca bagi orang Kristen sebagai peneguhan pengakuan Kristus sebagai utusan dan Anak Allah, tetapi pengakuan itu tak bermakna apa pun jika orang Kristen tak mampu menuangkannya dalam persaudaraan bangsa dan persaudaraan umat manusia. Barangkali masih bisa Anda jumpai di sana sini bagaimana orang Kristen membolak-balik logika persaudaraan tadi: yang seharusnya memperkokoh persaudaraan umat manusia, malah berkoar-koar ngotot dengan persaudaraan ‘kristen’-iyahnya. Yang semestinya memikirkan persoalan bangsa, malah ribet soal jumlah umat agamanya. Berhati nyaman gitu?

Tuhan, mohon rahmat supaya kebenaran-Mu sungguh nyata dalam hidup berbangsa kami. Amin.


HARI KAMIS PRAPASKA IV
4 April 2019

Kel 32,7-14
Yoh 5,31-47

Posting 2018: Dewan Cari Hormat
Posting 2017: Learning from Others

Posting 2016: White Lie

Posting 2014: Mana Berhalamu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s