Cinta Terlarang

Narasi panjang hari ini adalah kisah cinta terlarang, tapi bukan ala film Ave Maryam. Film ini menggarap kisah cinta yang melibatkan dua pribadi dengan cara hidup yang secara implisit melarang relasi asmara anggota asrama. Narasi hari ini memaparkan kisah cinta yang paling larang alias terlarang bin paling mahal karena berujung kematian; bukan kematian biasa, melainkan kematian memalukan.

Ndelalahnya, kemarin saya mendapat pertanyaan dari mahasiswa Katolik yang rupanya membaca ulasan Alquran. Pertanyaannya: apa yang mati disalib itu bukannya Yudas yang ‘saru’ dengan Yesus ya? Celakanya, saya bilang bisa jadi begitu. Semoga dia tidak galau. 🤣🤣🤣
Tentu saja, dari perspektif Injil akan sulit dimengerti gimana ceritanya Yudas tahu-tahu disalib, salah apa dia (mosok cuma karena tentara Romawi tak kenal Yesus yang sudah jadi figur publik?), warta apa yang mau disampaikan dengan penyaliban Yudas, dan seterusnya. 

Maksud saya, kalau yang disalibkan itu Yudas, tentu jadi kacau semua kisah cinta Guru dari Nazareth dalam Injil, sejak dikandung dari rahim Maria sampai kesudahannya; gak ada ceritanya mencintai manusia sampai rela mengorbankan nyawanya dan yang mungkin dianggap paling penting adalah itu meruntuhkan asumsi dasar ajaran trinitas (yang tidak sama dengan paham tiga Tuhan) dalam agama Kristiani.
Sebaliknya, kalau dalam Alquran dinarasikan Isa mati dibunuh, bisa jadi tidak cocok dengan keseluruhan ajaran tawhid, tak cocok dengan bagian-bagian Alquran lainnya. Dengan kata lain, perkara siapa yang disalib, itu jadi persoalan incommensurablemboh terjemahannya apa, tetapi pokoknya itu bagian penting paradigma yang kalau berganti berarti mengganti keseluruhan sistem kepercayaan.

Dalam perkara seperti itu, orang tinggal kembali saja kepada kebenaran iman. Kebenaran ini bukan soal apakah benar dulu ada penyaliban, apakah yang disalibkan itu beneran Yesus atau orang yang dianggap tentara Romawi sebagai Yesus, apakah Kitab Suci itu menuliskan kejadian persis seperti kejadian yang sebenarnya, dan seterusnya. Ini bukan soal kebenaran Kitab Suci versi Katolik atau Islam atau Yahudi atau yang lain.
Kebenaran iman yang saya maksud itu ialah bahwa dengan narasi teks sucinya, orang dituntun untuk semakin connect dengan Allah yang sesungguhnya, bukan sekadar connect dengan dogma mengenai Allah yang diajarkan agama. 

Dengan kata lain, tolok ukurnya ialah cinta terlarang #lohkokujug-ujugbaliksitu? Dengan tolok ukur itu, saya tak ambil pusing siapa yang sesungguhnya disalib karena (1) kebenaran faktualnya hanya bisa dijamin oleh orang-orang yang punya pengalaman indrawi dengan orang yang tersalib itu dan (2) saya sudah meyakininya secara tertentu mengikuti narasi orang yang saya percaya punya pengalaman faktual tadi dan (3) kebenaran finalnya ya tinggal dilihat saja nanti setelah kiamat, tanya kepada Beliau apakah dulu mati disalib atau tidak.

Untuk hidup kekal, yang penting orang punya narasi ‘cinta terlarang’ dalam hidupnya: berani susah, kalau perlu mati, demi memuliakan kehidupan dan bukannya malah gontok-gontokan karena agama. Ngeri kan dengar pertanyaan dari anak-anak SD soal agama dan mereka berkomentar bahwa orang yang tak seagama dengannya nanti matinya masuk neraka. Uedan, anak-anak SD ngungkuli Gusti Allah, tahu mana agama yang bikin orang masuk neraka dan mana yang tidak!😱

Ya Allah, mohon rahmat keberanian untuk menghidupi ‘cinta terlarang’-Mu. Amin.


HARI MINGGU PALMA C/1
Mengenangkan Sengsara Tuhan
14 April 2019

Yes 50,4-7
Mzm 22,8-9.17-18a.19-20.23-24
Flp 2,6-11
Luk 22,14-23,56

Posting 2016: Yakin Suka Love Story?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s