Hoaks Dulu sebelum Sidang

Bahasa iklan itu kadang memantik naluri kebinatangan lebih daripada naluri kemanusiaan. Yang beberapa saat lalu saya baca bunyinya kurang lebih begini: beli dulu, pikir belakangan. Kalau itu ditanamkan dalam diri calon pembelinya, kalimatnya berubah jadi: diskon dulu, butuh enggaknya liat-liat nanti. Kalau itu ditelan oleh buzzer politik: sebarkan dulu seturut orderan, isi di luar tanggung jawab percetakan. Kalau yang mengapresiasinya nenek lampir: operasi plastik dulu, sidang belakangan. 

Teks hari ini menggambarkan bagaimana suasana pilpres #eh… suasana hari-hari terakhir sebelum Guru dari Nazareth dihabisi orang sebangsanya. Popularitasnya sudah semakin meroket, tetapi juga mukjizat yang dilakukannya tak terbantahkan, dan rasanya semakin memojokkan pemuka agama yang mandul, yang tumpul, yang cuma bisa mengandalkan kejayaan masa lalu, yang hidupnya tak inspiratif bagi generasi muda, yang masih mengejar kekuasaan politik agama, dan seterusnya. Mereka cuma bisa merasa dengan cara itu karena naluri kebinatangannya memang lebih kuat daripada naluri kemanusiaannya.

Bukankah kalau ada yang membuat mukjizat, orang sewajarnya terpukau, juga meskipun sembari membuat penyelidikan untuk mengujinya? Bukankah kalau ada yang jelas-jelas membawa transformasi hidup bermasyarakat, orang sewajarnya mengapresiasi dulu lebih daripada nyinyir dengan kekurangan-kekurangannya? Iya, tetapi itu kalau orangnya mengikuti naluri kemanusiaan. Itu kalau orang mempertimbangkan bahwa Allah tetap bekerja dari dulu sampai kelak melalui orang-orang-Nya. Keputusan orang seperti ini akan tertambat pada kepentingan universal, sangat jauh dari kepentingan tribal.

Setiap keputusan orang, kalau tidak berlandaskan pada iman akan kerja Allah itu, hampir bisa dipastikan semata didasari oleh gelojoh, hawa nafsu, asumsi, hasrat yang tak memperhitungkan realitas hidup kemanusiaan. Biasanya keputusan diambil dulu, baru kemudian mencari-cari skrip untuk membenarkan keputusan itu. Pokoknya ganti dulu, meskipun penggantinya penuh hoaks dan babak belur di sana sini. Pokoknya gebrak podium dulu, perkara sotonya nongol di warung lain ya sebodo’ amat. Pokoknya menang dulu, perkara hukum NKRI berdaulat atau diganti hukum agama ya urus belakangan; dan seterusnya… 

Kaum Farisi, Ahli Taurat, penatua, imam kepala, sudah memutuskan untuk membunuh Guru dari Nazareth. Setelah mukjizat kebangkitan Lazarus, karena semakin banyak orang Yahudi yang percaya kepada Guru dari Nazareth ini, mereka kebakaran jenggot [lha ya siapa juga yang suruh pelihara jenggot]. Kayafas sebagai Imam Besar tentu melihat hal ini dan karena fokusnya sangat myopic, rabun jauh, cuma berpikir bahwa orang seperti Guru dari Nazareth ini mengganggu stabilitas agama bangsa Yahudi. Tribal sekali, bukan? Guru dari Nazareth sama sekali tidak sedang merongrong agama Yahudi, tetapi penghayatan agamanya yang sangat myopic tadi, tetapi mereka yang kepentingan tribalnya terancam sepakat membunuhnya.

Akan tetapi, gak lucu dong membunuh gitu aja; harus dicari alasan, dan ditemukanlah alasan palsu: lebih baik satu orang mati demi seluruh bangsa daripada bangsa itu punah. Ya, satu orang itu mesti binasa, supaya mayoritas lainnya bisa terus mempertontonkan gelojoh kekuasaan dan saling sikut sana sini bahkan bunuh-bunuhan [ya gakpapa dong kalau cuma bunuh-bunuhan berarti gak bunuh beneran #halah]. Begitulah, bahasa iklan ditangkap oleh sebagian besar bangsa Yahudi yang sudah kehilangan naluri kemanusiaan.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami semakin giat mengembangkan ukhuwah insaniyah. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA V
13 April 2019

Yeh 37,21-28
Yoh 11,45-56

Posting 2017: Semoga Damai Menyertaimu
Posting 2015
: Musuh Bersama

Posting 2014: Divide et Impera, Hari Gini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s