Pasukan Elite

Saya mendukung sepenuhnya penerapan konsep khilafah, bahkan di negara majemuk, kalau pemimpinnya adalah Nabi Muhammad; saya juga no problem dengan poligami kalau yang menghidupinya Nabi Muhammad. Selain beliau, no way. Kenapa?

Karena saya percaya, meskipun tak mengalaminya, kalau beliau diikuti oleh begitu banyak orang (yang rentan terhadap aneka tafsir), pastilah hidupnya memancarkan cahaya ilahi yang menarik orang lainnya. Saya percaya pribadi seperti ini tidak akan banyak bicara dengan pikiran ala filsuf atau ideologi romantis yang memahami fitrah terlepas dari konteks hidupnya (kembali ke ‘asli murni’ yang terikat pada ruang waktu tertentu di masa lalu). Saya percaya bahwa pribadi seperti Nabi Muhammad ini punya integritas yang tak teragukan: kalau beliau bicara tentang Allah, beliau tentu bicara dengan hidupnya sendiri.

Masih ingat kan wacana mengenai 1% elite yang menyebabkan ketidakadilan sosial? (Bisa dilihat di tautan Youtube ini). Masih ingat juga kan siapa yang memaki-maki 1% itu dalam kampanye? Ya mereka yang termasuk dalam 1% itu: maling teriak maling. Supaya apa? Tahu sendiri dong. Kalau ada maling teriak maling, siapa yang percaya pada omongannya? Ya mereka yang naif atau yang cinta mati sama maling lah! Siapa lagi?

Di salah satu wawancara Najwa Shihab itu, diakui bahwa paslonnya masuk dalam bilangan 1% sebagai elite yang menguasai sebagian besar kekayaan Indonesia. Yang tampak mulia dalam wawancara itu ialah bahwa diakui ada yang salah dengan tata kelola bangsa itu sehingga mereka bisa masuk dalam bilangan 1% yang menguasai kekayaan Indonesia dan karena disadari ada yang salah dengan hal ini, maka mereka yang terbilang dalam 1% ini mau memperbaiki situasi, mengembalikan penataannya supaya sesuai dengan UUD 1945 pasal 33. Keren kan?

Sekarang mari saya ceritakan tentang sesuatu dalam film yang baru tayang kemarin: Ave Maryam. Ini cerita tak biasa, tidak dihidupi oleh kebanyakan orang, dan karena itu tak banyak orang yang tahu. Ini sekadar informasi. Masih berkenaan dengan bilik rekonsiliasi, kalau ada pastor yang berkonspirasi melakukan dosa dengan seseorang atau beberapa orang, ia tidak bisa mendengarkan pengakuan seseorang atau beberapa orang itu. Kalau tetap mendengarkan, seperti dalam film Ave Maryam ini, itu kekeliruan. Apalagi, kalau sampai pastornya memberi absolusi (pengampunan), absolusinya itu pret gombal amoh, tidak sah.

Ilustrasi itu saya pakai untuk mengatakan bahwa kritik diri tak berlaku di lingkaran kekuasaan. Jadi, kalau saya penguasa 80% kekayaan Indonesia, saya tak akan menerapkan peraturan yang membuat kekayaan saya tadi merosot jadi 0,0000004% dari seluruh kekayaan Indonesia dong! Percayalah, itu hampir tidak mungkin. Power tends to corrupt. Lha wong presiden yang tidak melibatkan anggota keluarganya saja langka kok, ini malah mengklaim mau memerosotkan kekayaan!

Sangat tidak mudah menghidupi apa yang diinsinuasikan teks hari ini: berbicara tentang Allah melalui hidup seseorang, lewat bahasa yang kentara dari integritas hidupnya, apa pun kulturnya. Ini bukan sindiran untuk yang 1% tadi, melainkan panggilan bagi semua untuk, kalau mau bicara mengenai Allah, memuliakan Tuhan, membela agama, jadi anggota pasukan elite: bicara dengan tindakan hidupnya.

Tuhan, mohon rahmat untuk mewujudkan kemurahhatian-Mu dalam tutur kata dan tindakan kami. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA V
12 April 2019

Yer 20,10-13
Yoh 10,31-42

Posting 2018: That’s not funny
Posting 2017: Si Penista Agama Itu

Posting 2016: Menggambar Allah Lagi

Posting 201
5: Mulutmu Hariwowmu
Posting 2014: Kairos, Siapa Takut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s