Awasi TPS

Pada bulan lalu, TPS kota tempat tinggal saya bermasalah sehingga para sopir truk pengangkut sampah tidak bisa memobilisasi [wuih bahasanya] sampah. Akibatnya, sebagian besar warga kota mesti melihat tumpukan sampah beserta aroma sedapnya yang layak dihirup, supaya orang sadar apa artinya sampah dan pentingnya TPS serta orang-orang yang berperan besar untuk memindahkan sampah dari tempat yang tak dikehendaki ke tempat yang dikehendaki.

Belum banyak orang yang terbiasa memilah sampah, dan itu semakin menegaskan apa arti sampah sebagai produk ketidaksadaran orang, produk kemalasan, produk kecerobohan, yang dilandasi cara berpikir ‘sekali pakai, buang’ atau ‘rusak sedikit, buang’ atau ‘polusi kecil gak apa’ atau pemahaman lain yang intinya tak kenal atau tak mau berurusan dengan reparasi atau daur ulang. Saya kira, sampah memang produk ketidaksadaran. 

Kalau orang sadar bahwa sedotan plastik bisa membunuh makhluk hidup di laut [dan bukan karena tak bisa berenang karena menggenggam sedotan], ia akan jauh lebih berhati-hati dalam memakai jasa sedotan dan meletakkannya setelah tak bisa digunakan lagi. Jika orang sadar bahwa limbah oli membahayakan lingkungan, ia juga akan lebih berhati-hati membuangnya. Jika orang sadar bahwa sisa makanan atau barang-barang organik bisa diolah untuk dijadikan pupuk, tentu ia berusaha merealisasikannya.

Saya warga Indonesia dan bangga Surabaya merealisasikan hal itu: mentransformasi sampah jadi sarana bonum commune. Pada kenyataannya, tidak perlu lagi konsep sampah kalau orang memelihara kesadaran. Sudah saya bilang kan tadi bahwa sampah adalah buah ketidaksadaran?
Saya pernah mendengar keluh kesah rekan dosen yang punya keahlian di sekitar pengelolaan limbah, dan dalam proyek pengabdiannya bersama tim sudah merancang alat pengelolaan sampah seperti yang dibuat dalam klip video di atas dan ketika ditawarkannya ke pemerintahan, proyeknya ini dibatalkan. Alasannya? Karena oknum-oknum pemerintahan alias PNS atau ASNnya tidak akan dapat apa-apa dari proyek itu! Ini murni pengabdian.

Dengan demikian, Anda bisa melihat bahwa sampah masyarakat itu memang tidak terbatas pada sampah anorganik, tetapi lebih-lebih sampah organik yang berseragam ASN yang pikirannya duit, duit dan duit. Jangan salah, saya tidak hendak menyerang korps PNS, bahkan meskipun saya yakin tak sedikit oknum PNS bermental sampah. Ini serangan untuk Anda dan saya juga, yang memproduksi sampah karena ketidaksadaran kita. Ini kritik keras untuk petugas TPS yang tidak netral dalam pemilu dan tidak berfokus pada pelayanan publik, yang sudah terlihat dalam pelaksanaan pemilu di beberapa tempat di luar negeri.

Yudas dalam teks bacaan hari ini mengkritik perempuan yang membuang-buang minyak yang begitu mahal untuk dilulurkan pada kaki Guru dari Nazareth. Sayangnya, ia tidak sadar bahwa ia bicara mengenai perhatian kepada rakyat miskin justru karena ia bermental sampah. Sebaliknya, perempuan itu sadar kepada siapa minyak mahalnya itu dilulurkan, dan produk kesadaran bukanlah sampah. Barang dunia ini senantiasa diukur seturut kegunaannya di mata orang, tetapi pribadi manusia diukur dari karakternya: semakin karakternya tribal, semakin ia mirip sampah di TPS (entah tempat pemungutan atau pembuangan). 

Tuhan, mohon rahmat kesadaran supaya kami semakin bertindak seturut proyek keutuhan ciptaan lebih daripada kebutuhan egois. Amin.


HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI
15 April 2019

Yes 42,1-7
Yoh 12,1-11

Posting 2018: Choosing Your Perfume
Posting 2017: Mulut Mu-anies

Posting 2016: Merekayasa Sejarah
 

Posting 2015: Iman Punya Preferensi
Posting 2014: Honoring The Wisdom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s