Pastor Prengus

Saya terus terang saja ya. Ini saya loh ya, amisnya seafood membuat saya kehilangan selera makan seafood, dan prengusnya sate kambing melenyapkan selera makan sate kambing. Adik saya itu kebalikan dengan saya. Semakin prengus tongseng kambing, semakin dia berselera memakannya. Dalam hal ini, bisa jadi dia lebih cocok sebagai contoh penghayat teks bacaan hari ini daripada saya karena konsekuensi gambaran gembala dalam teks hari ini adalah gembala yang prengus. Dari teks bacaan Injil hari ini ada nuansa nasihat supaya orang menjadi gembala dengan aroma prengus karena dekat oleh kambing-kambingnya. Ini pasti bukan gembala 4.0 yang bisa duduk manis di balik meja operator untuk mengontrol jadwal harian kambing-kambingnya.

Saya terus terang lagi ya. Saya sebetulnya pada tahun-tahun belakangan ini tidak percaya diri dengan status saya sebagai imam Katolik yang oleh sebagian orang dipanggil pastor. Soalnya, pastor-pastor itu biasanya tinggal di pastoran sebelah gereja dan punya umat. Sedangkan saya, sebelah rumah tinggal saya klinik dan tempat kursus yoga dan kampus akademi keperawatan dan akademi sekretaris dan persawahan. Celakanya, tugas yang saya terima dari bos besar saya adalah sekolah, yang tentu saja menyita banyak waktu untuk membaca dan menulis.

Betapa gimana gitu rasanya ketika dihubungi umat yang minta bantuan untuk memimpin misa ini itu dan saya mesti menjawab tidak bisa, padahal sebagai imam ya semestinya bisa memimpin misa🤪. Pernah juga sih setelah menjawab tidak bisa lalu dikomentari umat yang bersangkutan,”Loh, bukannya tugas Romo itu memimpin misa ya?”😭 Ya itu benar sih, tetapi tetot, karena itu cuma sepersekian persen dari tugas yang mesti saya jalankan. Jika pastor mesti terlibat dalam hidup harian jemaatnya, saya mesti terlibat dalam aktivitas baca-tulis dalam kesendirian (meskipun ada belajar kelompok juga sih). Semoga semua makhluk berbahagia🙏🏼.

Dalam Gereja Katolik hari ini didedikasikan sebagai Hari Minggu Panggilan, yang kiranya merujuk pada panggilan hidup khusus sebagai rohaniwan/wati atau biarawan/wati. Akan tetapi, saya hendak menggarisbawahi modal yang dimiliki semua orang untuk menanggapi panggilan seperti itu: mendengarkan suara Allah.
Allah Israel, yang diimani oleh umat beragama lain juga, adalah sosok Allah yang terlibat dalam hidup umat-Nya. Seperti gembala, Dia akan jadi prengus. Itu karena domba-domba-Nya sungguh-sungguh mengikuti Dia, mendengarkan Dia.

Nah, believe it or not, kata ‘mendengarkan’ itu akan langsung dilekatkan dengan indra telinga. Itu mengapa orang pesimis atau skeptis, bagaimana mungkin mendengarkan suara Allah. Seperti apa suaranya, wong mendengar setan gundul lewat saja tidak bisa?
Karena Allah tidak bisa dijadikan objek pendengaran telinga, suara-Nya pun tidak bisa didekati dengan telinga ular atau telinga anjing atau telinga manusia. Sabda Allah tidak diukur dengan frekuensi atau amplitudo tertentu. Mendengarkan Dia yang adalah gembala prengus itu tidak lain dari mengkaji hidup domba-domba-Nya sendiri.

Lha piye jalwong Allah saja mau terlibat dalam hiruk pikuk hidup orang, mosok orangnya sendiri malah tidak mendengarkan hiruk pikuk hidupnya? Mendengarkan Allah, dengan demikian, ialah mendengarkan panggilan kemanusiaan terdalam, panggilan cinta, yang memungkinkan bonum commune terwujud dalam hidup konkret. Ini proyek gede banget, entah kapan selesainya.

Tuhan, bantulah kami semakin dapat terlibat dalam mewujudkan kerajaan-Mu. Amin.


HARI MINGGU PASKA IV C/1
12 Mei 2019

Kis 13,14.43-52
Why 7,9.14b-17
Yoh 10,27-30

Posting 2016: Berminat Jadi Kirik?

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s