Hidayah Kebebasan

Wacana mengenai ‘roti hidup’ hari-hari ini berakhir. Guru dari Nazareth tidak meralat, mengoreksi, atau membatalkan pernyataannya mengenai ‘roti hidup’ itu, yang memang bisa membingungkan pendengarnya. Dari sekian pendengar yang bingung itu, sebagian ‘murtad’, pergi meninggalkannya. Para muridnya pun ditanyai apakah mereka tidak ikut ‘murtad’. Artinya, mereka pun punya kebebasan yang sangat longgar untuk menentukan pilihan, mau pilih 01 atau 02, eaaaa.

Tanggapan Petrus menunjukkan kepercayaan dan iman yang rupanya terpenetrasi oleh cinta. Bahkan orang rapuh seperti Petrus ini menerima alias mengerti bahwa kata-kata Gurunya itu adalah “roh dan kehidupan”. Mau pergi ke mana lagi orang beriman kalau bukan kepada roh yang menghidupkan itu? Karena itu jugalah kemudian keluasan hati Petrus memberi tempat bagi roh yang menghidupkan itu untuk menyembuhkan Eneas yang lumpuh dan mengembalikan kehidupan Tabita seperti dinarasikan dalam bacaan pertama.

Begitulah, rupanya cinta ilahi, kasih Allah itu membebaskan dan memberdayakan. Tanggapan terhadapnya memang tidak selalu sempurna, sebagaimana diberikan Petrus, orang yang kelak menyangkal kemuridannya. Akan tetapi, begitulah dinamikanya, terjadi karena ketidaksempurnaan manusia sendiri yang punya tendensi untuk ‘murtad’ dari cinta Allah. Kemurtadan macam ini tidak identik dengan proselitisme, tidak bisa begitu saja diatributkan pada mereka yang berpindah agama.

Kenapa?
Karena tidak semua perpindahan agama itu terjadi akibat orang ‘murtad’ dari cinta ilahi; bisa saja justru karena hidayah cinta Allah sendiri. Tolok ukurnya bukan lagi agama, melainkan hidayah cinta Allah itu. Nah, perkara mengukur hidayah cinta Allah itu bagaimana, lain lagi topiknya.

Dulu banget, [curcol nih ceritanya] saya kecewa, prihatin, bahkan bisa jadi geram jika rekan (calon) imam saya mundur sebagai (calon) imam karena pilihannya sendiri. Maklum, dulu banget saya masih perfeksionis: pokoknya kalau tidak karena diminta mundur, (calon) imam tak bisa minta mundur. Itu adalah point of no return. Tak ada alasan; alasan itu hanyalah kamuflase keengganan atau kemalasan orang untuk bergumul menapaki panggilannya.

Syukurlah, saya sudah bertobat. Kalau ada yang mengundurkan dari dari jalan panggilan sebagai (calon) imam, saya melihatnya sebagai jalan hidayah cinta Allah kepada yang bersangkutan yang justru pantas disyukuri. Apakah memang betul begitu halnya, lha ya mboh, itu ranah yang bersangkutan dengan Tuhannya. Yang penting, minimal bagi saya itu tidak lagi memicu perasaan negatif. Selain itu, semakin jelaslah bagi saya bahwa panggilan cinta itu membebaskan dan tak pernah memaksa. Kalau sampai ada unsur pemaksaan, entah sehalus atau sekasar apa pun, itu pertanda bahwa cinta yang digumuli orang lebih berkarakter cinta manusia yang condong ‘murtad’ tadi.

Tuhan, mohon rahmat supaya dalam keterbatasan kami masih dapat menghidupi roh kehidupan-Mu. Amin.


SABTU PASKA III
11 Mei 2019

Kis 9,31-42
Yoh 6,60-69

Posting 2018: Maju atau Mundur Cantik? 
Posting 2017: Oh Terobos Busway Toh?

Posting 2016: Mau Bisnis Penyembuhan?
 
Posting 2014: To Whom Shall We Go?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s