Oh, Terobos Busway Toh

Masih ingat bukan ada gubernur yang menerobos hukum untuk melakukan penggusuran? Kira-kira agenda sebesar apa yang dia pikirkan sehingga dia berani menerobos hukum dan diprotes tiada henti oleh korban penggusuran dan pihak-pihak yang berkepentingan? Masih ingat juga ada calon gubernur yang menerobos busway dan calon wakilnya yang melakukan hal yang sama? Tentu bisa dirasionalisasi bahwa penggusuran beda dengan pengabaian kepentingan ratusan atau pengendara lain yang bermacet ria, tetapi poinnya sama: menerobos hukum. Bisa diperdebatkan sampai monyong mana yang lebih benar dan ujung-ujungnya aneka rupa pembelaan diri bercuitan.

Tak mengherankan bahwa seorang novelis Rusia menulis kurang lebih begini: kalau terbukti bahwa Kristus itu ada di luar kebenaran dan memang ternyata kebenaran itu tak ada di dalam Kristus, aku tetap akan tinggal bersama Kristus daripada berkutat dengan kebenaran.

Apakah novelis ini fanatik? Mungkin, saya tak tahu, tetapi pernyataan seperti itu tak perlulah ditangkap sebagai ungkapan eksklusif semata karena di situ ada kata Kristus. Ini bukan soal agama Kristen. Ini soal pilihan fundamental seseorang atas apa yang layak dihidupinya. Teks bacaan hari ini mereview hal yang sudah disodorkan sebelumnya bahwa tak ada orang yang mengimani utusan Allah jika ia tak mendapat hidayah-Nya. Setelah mendengar pernyataan ini, tak sedikit orang yang semula mengikuti Yesus kemudian meninggalkannya. Maklum, bagi mereka agama yang mereka hidupi secara tradisional jauh lebih penting daripada berurusan dengan hidayah Allah.

Hidayah Allah sendiri bukan perkara kebenaran yang bisa diperdebatkan sampai monyong tadi. Ini adalah soal relasi personal, relasi pribadi, relasi batiniah dengan utusan Allah itu. Relasi macam ini tidak sibuk dengan kebenaran yang bisa terus menerus diperdebatkan soal kriteria dan metodenya ke sana. Dalam dunia yang kewowogen alias terjejali banjir informasi ini, tak mudahlah orang setiap kali melakukan verifikasi terhadap kebenaran informasi itu. Hoax bisa ditebarkan oleh siapapun entah dengan niat tulus atau busuk. Begitu pula dengan kebenaran, orang bisa mengajukan aneka argumentasi atau dalih entah dengan niat tulus atau busuk.

Akan tetapi, dengan hidayah Allah, kalau itu memang sungguh hidayah, orang takkan sanggup bertahan dengan argumentasi. Cinta kepada pemberi hidayah tak tergantikan oleh kebenaran kognitif setinggi apapun yang bisa dihasilkan pemikiran manusia. Tentu, wujud cinta kepada pemberi hidayah itu juga terbuka pada kritik, tetapi kritik itu tak ada artinya jika hanya menyentuh dimensi kognitif manusia. Sekali lagi, ujung-ujungnya bakal sampai pada debat monyong. Kritik itu mesti menggugah relasi orang dengan pribadi Tuhan yang justru baru bisa digali dari hatinya, sejauh terpaut dengan kemanusiaan di sekelilingnya.

Ya Allah, mohon kejujuran dan kepekaan batin supaya kami semakin mengenali busway-Mu. Amin.


SABTU PASKA III
6 Mei 2017

Kis 9,31-42
Yoh 6,60-69

Posting 2016: Mau Bisnis Penyembuhan? 
Posting 2014: To Whom Shall We Go?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s