Insider or Outsider?

Rupanya pokok perbedaan penghayatan Gereja Katolik dan Protestan tentang Ekaristi tak hanya terjadi pada abad reformasi, tetapi juga sudah disodorkan oleh penulis Yohanes sejak awal milenium pertama. Saya tertarik membaca teks hari ini yang oleh Gereja Katolik diletakkan sebagai kerangka pemahaman Ekaristi, khususnya mengenai hosti yang sudah dikonsakrir, diberkati imam, yang begitu dihormati umat Katolik karena di situ diyakini ada kehadiran Kristus.

Saya tak akan berangkat dari dokumen atau ajaran Gereja Katolik karena saya bukan ahlinya. Saya akan berangkat dari pengalaman mengikuti kebaktian di gereja non-Katolik yang biasa disebut perjamuan. Saya ikut karena diajak setengah dipaksa anggota jemaat gereja tersebut. Setengahnya saya kepo saja, siapa tahu saya bisa belajar sesuatu. Rupanya memang saya belajar sesuatu.

Doa, lagu pujian, pembacaan Kitab Suci, lagu pujian, pembacaan Kitab Suci, dan khotbah dari pendetanya saya ikuti baik-baik, meskipun saya tak piawai dengan lompat-lompat tepuk tangannya. Setelah itu ada doa lagi dan kemudian dibagikanlah hosti dan anggur (sirup rasa anggur, tepatnya) untuk kami makan dan minum. Disusul kemudian lagu pujian lagi dan doa berkat. Selesai dan setelah itu saya benar-benar tak tahu apa relevansi hosti dan anggur tadi. Perjamuan itu, bagi saya, jadi ritual belaka. Tentu saja begitu karena saya outsider.

Akan tetapi, lain halnya ketika saya berkunjung ke komunitas ecocamp beberapa waktu lalu dan secara eksplisit di sana dikatakan ada ritual minum teh sebagai penyambutan tamu. Ritualnya sederhana: salam lotus, menerima gelas teh, merasakan kehangatannya, menyadari proses bagaimana air teh itu tersaji di tangan, meminumnya perlahan-lahan, mensyukurinya. Aktivitas dalam kesadaran itu membuat minum teh bukan lagi sebagai ritual karena saya benar-benar terlibat di situ dengan seluruh kesadaran saya. Saya jadi insider.

Mengapa saya tidak bisa menjadi insider dalam kebaktian gereja non-Katolik tadi? Tentu karena saya tak juga mengerti relevansi hosti dan anggur yang saya minum itu. Tak ada maknanya bagi saya, dan kalau itu dijelaskan sebagai perjamuan, saya pun tak merasakannya sebagai perjamuan: kenyang enggak, simbolik juga enggak (maklum, saya tak biasa pesta dengan anggur, mendingan es grim #halah). Dari situlah saya belajar apa artinya Tubuh dan Darah Kristus dalam Misa atau Ekaristi, atau Misa Ekaristi #ha ini nama orang: itu adalah kunci untuk melihat the depth of reality.

Kok bisa? Memangnya realitas ini ada kedalaman atau kedangkalannya? Ya itu tadi kembali ke ritual teh sebagai contoh. Realitasnya ya air teh, tetapi orang yang meminumnya dengan kesadaran melihat kekayaan dan kedalaman air teh di tangannya. Jika ini diletakkan dalam konteks Ekaristi dalam Gereja Katolik, jelaslah the depth of reality itu ada pada hosti dan anggur yang ditransformasi, dalam keyakinan Gereja Katolik, sebagai Tubuh dan Darah Kristus melalui konsekrasi yang dibuat oleh imam.

The depth of reality dalam agama lain tentu ada juga, tetapi saya tak berkompeten untuk mengungkapnya. Poin saya ialah, jika orang tak menangkap the depth of reality, doa-doanya cuma jadi ritualistik belaka dan ia sesungguhnya adalah outsider dari agama yang dianutnya sendiri.

Ya Allah, mohon rahmat kesadaran-Mu. Amin.


JUMAT PASKA III
5 Mei 2017

Kis 9,1-20
Yoh 6,52-59

Posting 2016: Table Manner-nya Agama?
Posting 2015: Ayo Cari Jalan Pulang

Posting 2014: Pertobatan Ananias dan Saulus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s