Obat Setrong

Ada orang yang maunya cepat-cepat kiamat karena merasa hidupnya begitu berat. Ada yang maunya waktu berjalan lambat karena deadline semakin mendekat. Ada yang hobi mengonsumsi obat supaya bodynya tetap memikat. Ada yang menutup aurat demi mewujudkan niat jahat. Ada juga yang berniat jadi aparat untuk melompat jadi birokrat. Pokoknya manusia beragam adat sampai semesta mengakhiri hayat.

Teks bacaan hari ini memakai bahasa ‘berat’ karena merujuk pada nuansa kiamat dengan gambaran kehancuran yang mengerikan. Guru dari Nazareth kiranya bukan penerawang ala cenayang yang punya vision mengenai detail kiamat. Yang dibicarakannya per se bukan kiamatnya sendiri, melainkan bagaimana orang menata dirinya di hadapan keniscayaan itu.
Loh, kan gada yang tahu kapan kiamat, gimana orang bisa menata diri di hadapan sesuatu yang tak mungkin diketahuinya?
Itu karena pola pikirnya linear: kiamat terjadi tahun 2020, Anda mati 2019, jadi ngapain menyiapkan diri untuk kiamat yang terjadi setelah mati!

Untuk membaca teks macam begini, lebih berfaedah orang memakai pendekatan reflektif. Tentu saja, semua teks suci, apa pun namanya, tak ada gunanya tanpa pendekatan reflektif. Ini bukan soal ‘apa yang terjadi di luar sana’ melainkan soal ‘apa yang terjadi di dalam sini’ sambil menunjuk diri sendiri, kelompok sendiri, planet sendiri, semesta sendiri.
Pesannya jelas: kiamat itu menghancurkan yang fisik, tetapi mentransformasi alias mengubah batin. Dengan kiamat, hidup tidak dilenyapkan tetapi diubah. Ini memang kata-kata manis yang tertuang dalam liturgi Gereja Katolik untuk mengantar kepergian umat yang sudah tak bisa menghirup oksigen lagi. Akan tetapi, pesan perubahannyalah yang penting.

Sains sudah bicara banyak mengenai ‘apa yang terjadi di luar sana’ dan dari situ juga bisa diprediksikan kemungkinan akhir planet bumi ini, tetapi sains tidak memprediksi batin orang. Prediksinya mungkin berbunyi tabrakan galaksi atau meletusnya matahari, tetapi kalau sebelum itu terjadi orang sudah main pejet tombol-tombol perang nuklir, sebelum prediksi sains itu, kiamat sudah terjadi dong.
Guru dari Nazareth tak berteori tentang astrofisika dan kemungkinan akhir zaman. Ia cuma hendak membantu orang untuk mengerti bahwa apa pun yang sekarang ini dilihatnya, entah dikagumi atau dibenci, akan berakhir.

Di hadapan kenyataan yang disodorkan Guru dari Nazareth dan para nabi lainnya itu, bagaimana orang beriman bersikap?
Bandingkan saja awal teks dan akhir teks bacaan hari ini: awalnya catastrophe bin bencana yang besar banget, tetapi akhirnya adalah warta keselamatan “tak sehelai rambut dari kepalamu pun akan hilang, [maaf kepada yang sudah tak punya rambut karena yang lebih penting:] kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” Ini perbandingan yang ekstrem juga: wong bangunan megah hancur kok malah rambut kepala yang kecil rapuh itu bisa bertahan. Maksudnya gimana ya?

Manusia begitu berharga di mata Allah sehingga maunya manusia itu takkan dilenyapkan. Tadi sudah dibilang, hidup tidak dilenyapkan oleh kematian, tetapi diubah.
Kalau begitu, kalau orang mau hidup kekal, ia ‘hanya’ perlu mengubah, mentransformasi dirinya supaya tetap sejalan dengan Allah. Hal-hal lain, sesuci apa pun, sedekat apa pun, lenyap, tetapi batin yang terpaut dengan Allah kekal selamanya.

Tuhan, mohon kekuatan bertahan untuk membarui diri dalam cinta-Mu. Amin.


MINGGU BIASA XXXIII C/1
17 November 2019

Mal 4,1-2a
2Tes 3,7-12
Luk 21,5-19

Posting 2016: Work with God, No Matter What

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s