Self-Recovery

The eyes are blind. You need to search with heart. Antoine de saint Exupéry.

Orang sakit kepala mudah mengerti bahwa kepalanya sakit. Juga orang yang sakit perut atau sakit jantung dan sejenisnya. Orang yang kena tinju rahangnya juga mau tak mau mengerti bahwa ia sakit. Ia boleh gengsi dan tak mau kelihatan lemah di hadapan lawan, tetapi bahwa ia terhuyung-huyung dan jatuh menunjukkan bahwa tubuhnya sakit. Entah dia mau mengakui atau tidak, tubuhnya mengatakan bahwa dia sakit dan karena itu dia butuh pertolongan dari luar kemampuan self-recoverynya sendiri: mulai dari wasit yang mesti menghentikan pertandingan sampai tim medis yang membantunya mengatasi ketidakseimbangan dalam metabolisme tubuhnya.

Sakit hati, lain lagi perkaranya. Dengan berbagai cara dan alasan orang bisa kesulitan mengakuinya. Memang tidak mudah mendaftarkan diri dalam kelompok barisan sakit hati. Biasanya atribut itu datang dari luar, sebagaimana dalam pertandingan tinju tadi, KO dan TKO sudah ada rambu-rambu objektifnya.
Sakit hati tidak punya rambu objektif yang bisa diterima penderitanya justru karena hatinya sakit. Kalau ia menerima keadaan sakit hatinya, pada saat itu mulailah ia mengurai sakitnya sendiri, fungsi self-recoverynya berjalan meskipun belum tentu berhasil juga.

Cerita sederhana teks hari ini menunjukkan kenyataan hidup semacam itu. Memang sekurang-kurangnya ada dua kondisi penyembuhan: yang satu adalah kesadaran diri orang yang bersangkutan bahwa ia perlu kesembuhan, dan yang lainnya ialah bahwa ia tak bisa mengandalkan sepenuhnya kemampuan self-recoverynya dan mesti memohon belas-kasihan Allah. Kalau tak ada kesadaran diri mengenai sakitnya, bahayanya, dampaknya, sangat sulitlah kemampuan self-recovery bekerja. Kalau kesadaran diri itu ada dan sakitnya melulu yang fisik tadi, mungkin self-recoverynya bisa berjalan baik. Orangnya sendiri membeli obat, melakukan treatment tertentu, atau pergi ke dokter.

Akan tetapi, kalau sakitnya bukan melulu fisik, self-recovery tidak bisa dijangkau dengan kalkulasi obat. Obat bisa membantu sebagai penenang, tetapi self-recovery terletak pada koneksi orang dengan masa lalunya, dengan dirinya sendiri, dengan orang lain, dan terutama dengan Yang Transenden, yang mengatasi hidup orang sendiri.
Kekisruhan yang dinarasikan dalam teks bacaan pertama terjadi orang Israel memenuhi kondisi pertama: “Sejak kita menyendiri, kita ditimpa banyak malapetaka.” Mereka sadar ada yang tidak beres dalam diri mereka.

Sayangnya, kondisi kedua tak mereka penuhi. Alih-alih mengandalkan kerahiman Allah, mereka memohon belas kasihan dari bangsa-bangsa lain dan justru mengabaikan perjanjian mereka dengan Allah sendiri. Tentu sebabnya ialah mereka tidak memenuhi catatan penting Antoine de saint Exupéry tadi: The eyes are blind. You need to search with heart. Mereka mencari apa yang terlihat oleh indra penglihatan mereka. Idenya bagus, membangun satu bangsa, tetapi dengan menghapus tradisi-tradisi lokal yang di dalamnya Allah juga berbunyi. Bunyi Allah ini yang tak dapat dilihat melulu dengan mata. Orang mesti mencarinya dengan hati. Repotnya, kalau hatinya sakit, jadi lingkaran setan. Terapinya dari bacaan kedua: berseru mohon belas kasihan Allah.

Tuhan, mohon belas kasihan-Mu supaya kami semakin mampu melihat dengan hati. Amin.


SENIN BIASA XXXIII C/1
18 November 2019

1Mak 1,10-15.41-43.54-57.62-64
Luk 18,35-43

Senin Biasa XXXIII B/2 2018: Dicari Liyan
Senin Biasa XXXIII A/1 2017: Apa Harapan Papa
Senin Biasa XXXIII C/2 2016: Mana Gembiranya?

Senin Biasa XXXIII B/1 2015: Transformer
Senin Biasa XXXIII A/2 2014: Dah Tau Nanya’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s