Jangan Kebobolan

Ini renungan yang saya dapat dari tetangga sebelah. [Loh kok seperti posting tiga tahun lalu? Iya soalnya bacaannya sama, tapi cuma kalimat pertamanya yang sama]
Latar belakangnya, tim asuhan Jürgen Klopp semalam sudah unggul dua kosong di babak pertama relatif mudah, tapi babak kedua berjalan berat dan pada seperempat jam terakhir kehilangan penjaga gawangnya, dan setelah itu kebobolan satu gol. Bagi pendukung tim yang sedang unggul, waktu terasa begitu lamban, sementara yang tertinggal merasa waktu berjalan begitu cepat; tetapi yang menanggapi anjuran Guru dari Nazareth adalah tim asuhan Jürgen Klopp: berjaga-jaga, siap sedia supaya tidak kebobolan lagi #halah.

Masa Adven dalam kalender liturgi Gereja Katolik adalah tahun baru yang selalu diawali dengan undangan supaya orang tak tenggelam dalam mimpinya. Tentu bukan karena mimpi per se (nongol lagi, ci’) jelek. Tidur juga baik buat kesehatan, kan, untuk menghadapi hari baru?
Tapi, lagi-lagi Agnez Mo masuk bersama Pak Eko: Guru dari Nazareth tidak omong soal tidur, mimpi biologis.
Kalau beliau omong supaya orang waspada, bangun, berjaga-jaga, ini pasti soal conscience (baca: ˈkänCHəns, bukan konsaiens plis). Runyamnya, pada ranah conscience ini sangat mungkin terjadi hal yang berlawanan dengan ranah biologis. 
Seharusnya, kalau conscience ini siaga, semestinya energi positif mengalir juga ke ranah biologis. Sebaliknya, kalau conscience itu tertidur, ranah biologis bakal hanyut oleh ‘bom’ biologis yang bisa mematikan conscience bahkan. Hati nurani yang terbuka ini, seperti dibilang teks Yesaya, tajam juga dalam memilah-milah, bisa jadi hakim dan wasit yang baik, yang adil, tentunya.

Hati nurani yang berjaga-jaga ini mengandaikan informasi dan komunikasi juga. Problem informasi dan komunikasi bisa menelantarkan hati nurani berkubang dalam mimpi. Ini bukan cuma terjadi lewat pengaruh narkotika yang memang punya kekuatan dahsyat merusak conscience, melainkan juga lewat cuitan medsos yang prinsipnya tak lagi sensitif dengan kehidupan bersama, penderitaan sesama, dan terus mengumbar gelojoh atau tren seperti disebutkan teks bacaan kedua. Orang makan tentu baik, dan perlu juga dong, tapi makan-makan ala kulinar-kuliner barangkali perlu ditinjau ulang supaya tak membunuh sensitivitas terhadap fakta bahwa di luar sana masih ada dua per tiga warga dunia yang makan untuk survival saja benar-benar memang mesti struggle.

Dari mana asupan hati nurani itu? Misalnya dari Kitab Suci, sejauh dimengerti dalam konteks yang tidak korup. Maksudnya tidak korup, Rom?
Ya untuk membaca Kitab Suci, orang mesti punya patokan bahwa Sabda Allah itu pasti ditujukan untuk semua orang, karena Allah menghendaki semua orang jadi umat-Nya. Kalau begitu, orang beragama mesti waspada kalau-kalau ia membaca Kitab Suci hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, hanya untuk kepentingan agamanya sendiri. Begitu orang memakai sekat seperti itu, kesucian kitabnya luntur, dan itu berbanding lurus dengan hati nuraninya yang alih-alih inklusif malah jadi eksklusif.

Masa Adven adalah masa bagi siapa saja, umat beriman, untuk menjaga supaya suara hatinya tak tenggelam dalam mimpi yang menghibur diri, tapi tak berdampak baik bagi keutuhan ciptaan, kedamaian, dan keadilan.
Tuhan, mohon rahmat supaya hati nurani kami senantiasa siap sedia mendengarkan suara-Mu di balik kabar-kabur yang dapat menceraikan kami dari kenyataan hidup. Amin.


HARI MINGGU ADVEN I C/1
1 Desember 2019

Yes 2,1-5
Rm 13,11-14a
Mat 24,37-44

Posting 2016: Allah Kok Ditunggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s