Juntrungan

Kapan doa menjadi kegiatan yang bisa dianggap wasting time? Yaitu ketika kegiatan itu tak terhubung dengan pengenalan diri aktual seseorang, yang terus bergumul dengan diri idealnya. Yaitu ketika doa mengabdi omong besar seseorang mengenai diri idealnya, yang terus bergulat dengan diri aktualnya. Contohnya sudah saya bagikan dalam buku Saat Tuhan Tiada.
Orang bisa saja dalam rutinitas doanya mengalami kekeringan, kehampaan, dan kalau ini terjadi ketika dia sedang dalam kesibukan tertentu, ia bisa menganggap doa sebagai aktivitas yang cuma membuang-buang waktu. Piye jal, daripada doa tak jelas juntrungannya, bukankah lebih baik menyelesaikan papernggarap tesis, menuntaskan disertasi, menaikkan level kompetensi dan pengalaman kerja, dan sebagainya?

Saya sangat setuju sekali pakai amat dan banget! Soalnya, saya juga mesti menyelesaikan ini itu! Akan tetapi, Sudah tendensi manusia untuk membuat banalisasi, pendangkalan, generalisasi, dan sejenisnya, yang membuat akar persoalan tak pernah ketemu.
Keterangan “tak jelas juntrungannya” tadi bisa dilesapkan orang yang workaholic sehingga pernyataannya berubah jadi “daripada berdoa mending menyelesaikan pekerjaan”. Orang lupa bahwa problemnya terletak pada kualifikasi doanya, yaitu “tak jelas juntrungannya” tadi, dan dengan demikian tak lagi kritis terhadap “tak jelas juntrungannya” sehingga main pukul rata bahwa doa itu buang-buang waktu.

Teks bacaan hari ini menunjukkan suatu juntrungan yang ditunjukkan oleh seorang tentara. Memang, dia bukan sosok berpangkat paling rendah dalam struktur militer. Dia punya atasan, tetapi juga punya bawahan. Dia bisa memberi perintah kepada bawahan, tetapi juga mesti menerima perintah dari atasan. Perintah itu terjamin pelaksanaannya dalam struktur militer. Kalau tidak, njuk mau jadi apa dong militernya?
Dalam struktur hidup beriman, hal yang sama berlaku. Kalau doa tak lagi jelas juntrungannya, njuk mau jadi apa hidup beriman?

Kapan doa tak lagi jelas juntrungannya?
Ya itu tadi yang saya sodorkan di awal: ketika doa tak menyambungkan orang dengan pengenalan dirinya, dan dengan demikian, pengenalan kenyataan hidupnya. Simtomnya kelihatan dalam diri orang yang sejak bayi sampai besarnya cuma bisa menjalankan rutinitas ritual sedemikian rupa sehingga adanya cuma nuansa ‘wajib’. Kesalehan jadi lebih berkaitan dengan kewajiban daripada kebutuhan untuk memberi waktu kualitatif bagi pengenalan diri dalam misteri kehidupan. Kesucian jadi lebih berkaitan dengan kuantifikasi daripada aktualisasi diri yang terdorong oleh relasi pribadi baik dengan diri sendiri, sesama, maupun Allah yang diimani.

Tuhan, mohon rahmat untuk mengenali diri dalam doa dan karya kami. Amin. 


SENIN ADVEN I
2 Desember 2019

Yes 2,1-5 / Yes 4,2-6
Mat 8,5-11

Posting 2017: Kata Bertuah
Posting 2016: Senjata Cinta

Posting 2014: Kamu Sakit Apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s