Bahasa (Staf) Baru

Anda bisa menemukan kabar tentang bagaimana pemimpin agama hendak menunjukkan iman kepada umatnya dengan mempraktikkan apa yang ada di Kitab Sucinya: berjalan di atas air, memegang ular, meminum racun, dan sebagainya. Dalam teks bacaan hari ini itu adalah tanda yang menyertai orang yang percaya. Hanya saja kepercayaan itu berhenti ketika yang bersangkutan dicabik-cabik buaya atau yang bersangkutan mati kaku. Itulah coolnya Kitab Suci: gak diikuti kata-katanya tapi kok disebut Kitab Suci, diikuti kata-katanya kok mati!

Tentu bukan salah Kitab Suci, apalagi Tuhannya, tetapi peristiwa-peristiwa seperti yang terjadi tadi sejak zaman jebot seakan-akan tidak membuat orang beragama untuk belajar menangkap bahasa Kitab Suci secara baru. Sebagian membaca Kitab Suci bukannya untuk berefleksi, melainkan untuk menghakimi pihak lain. Sebagian lagi membaca Kitab Suci bukannya untuk berkaca diri, melainkan untuk memaksa hati membenci orang lain. Sebagian lainnya membaca Kitab Suci bukan untuk mawas diri, melainkan untuk mengawasi diri liyan.
Bagi orang beragama macam begini, Kitab Suci adalah produk Timur Tengah atau India atau Tiongkok dan pembacanya mesti menyesuaikan pola tutur kata, tingkah laku, ibadatnya dengan kebiasaan tempat-tempat tadi. Itulah bahasa lama yang kerap dipakai oleh orang beragama.

Santo Fransiskus Xaverius yang dipestakan Gereja Katolik hari ini menggunakan bahasa baru pada zamannya, yaitu pada awal pertengahan abad XVI. Enam abad yang lalu.😂😂😂
Di mana barunya? Yaitu bahwa dunia tak lagi dimengerti sebagai wilayah Eropa. Kabar gembira itu mesti diwartakan keluar dari Eropa.
Kabar buruknya, dia mendompleng bisnis bangsa Portugis sampai ke Indonesia timur, dan kelak ini berkelindan dengan problem politik dagang Portugis dan Belanda, yang didomplengi oleh para pendakwah Gereja Protestan. Alhasil, karena politik dagang itu jadi ajang kolonialisme, tak mengherankan bahwa kekristenan di Indonesia diberi atribut agama penjajah.

Kalau begitu, saya pemeluk agama penjajah. Akan tetapi, itu adalah bahasa lama, yang sebetulnya diterapkan oleh agama mana pun yang merendahkan adat lokal. Maklum, Fransiskus Xaverius waktu itu hidup dalam paradigma bahwa di luar Eropa tak ada peradaban sehingga ia punya misi membuat bangsa di luar Eropa supaya beradab. Belakangan bisa dimengerti bahwa jebulnya peradaban lokal di Indonesia punya local wisdomnya sendiri yang tak bisa diukur dengan peradaban Eropa.

Syukurlah, belakangan ini sudah muncul upaya-upaya untuk mengakui religiositas ‘asli’ Indonesia yang tidak boleh dilindas oleh paradigma seperti yang dipelihara Fransiskus Xaverius tadi.
Loh, berarti Romo bilang Fransiskus Xaverius itu paradigmanya keliru ya? Kok malah dijadikan orang kudus?😂😂😂
Lha iya tentu saja kekudusannya tidak terletak pada paradigma kelirunya, melainkan pada kesaksian hidup berimannya sendiri. Ia mencari jalan, kemungkinan baru supaya orang-orang yang dijumpainya, yaitu yang tak mengenal monoteisme, mengenal Allah YME itu. Tentu saja, pengenalannya sendiri terhadap Allah YME terbatas oleh tempat dan zamannya.

Sekarang ini dan seterusnya, semua orang beragama, kalau mau berdakwah, mestilah mencari bahasa baru supaya ajakannya dimengerti. Pun kalau tak mau berdakwah, orang beragama tetap perlu mencari bahasa baru, supaya imannya senantiasa update.
Tuhan, mohon rahmat untuk menemukan bahasa cinta-Mu. Amin.


PESTA S. FRANSISKUS XAVERIUS (SJ)
(Selasa Adven I)
3 Desember 2019

1Kor 9,16-19.22-23
Mrk 16,15-20

Posting 2018: Mbok Reuni Lagi
Posting 2017: Sedikit Logika
Posting 2015: Lagak Dapet Watak Cupet
Posting 2014: Tanpa Passion Jadi Pasien Doang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s