Mbok Reuni Lagi

Yang membuat Anda menjadi semakin Islam, semakin Kristen, semakin Katolik, dan semakin lain-lainnya, bukanlah reuni akbar, melainkan Allah yang akbar. Yang membuat Anda jadi pendakwah, pewarta zending, misionaris handal, bukan keberhasilan Anda memobilisasi jutaan umat (yang dengan mudah bisa dilakukan karena ada uang) untuk berkumpul di sekitar Tugu Monas, melainkan Tuhan yang memberikan nas. Problemnya, ada kesenjangan lebar antara Tuhan dan manusia sehingga belum tentu yang Anda klaim sebagai nas itu sungguh datangnya dari Tuhan. Maka, semakin Anda dekat dengan sumber dakwah atau zending atau misi, semakin Anda jadi pendakwah, pelaku zending, atau misionaris sejati, bahkan meskipun Anda terpaksa hanya mendekam, duduk di kursi roda atau berbaring di tempat tidur sepanjang waktu. Ini pesan yang saya peroleh hari ini.

Loh, bukannya malah bertentangan dengan kesaksian Fransiskus Xaverius, yang melanglang buana dari Eropa sampai Maluku, Rom? Bukankah teksnya mengatakan supaya pergi ke seluruh dunia, seluruh penjuru, dan mengenal bahasa-bahasa baru?
Memang, tetapi, haré géné dunia bisa dijangkau relatif lebih cepat dan mudah dari satu titik, dan konsep dunia zaman now mestilah lebih luas daripada konsep dunia zaman old.

Meskipun begitu, saya tidak sedang omong soal globalisasi, Islamisasi atau Kristenisasi. Saya bicara soal kemungkinan orang bergerak menuju kedalaman identitas dirinya, entah sebagai orang Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, Konghucu, atau atribut religius apa pun yang hendak dilekatkan. Semakin dekat dengan Sumber, semakin orang menemukan identitas dirinya yang sejati.
Kadang kala saya menyempatkan diri untuk menjenguk para misionaris yang sudah lansia, yang sudah masuk ke panti jompo, dan dari mereka saya belajar melihat apa sesungguhnya misi dari Allah yang dalam teks hari ini dirumuskan sebagai “pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil”.

Kalau teks itu berlaku universal, tentu tidak hanya berlaku bagi misionaris kinyis-kinyis seperti saya, tetapi juga bagi para senior yang secara fisik sudah mengalami kerapuhan atau kelumpuhan. Bahkan, bisa jadi, kalau teks itu memang universal, tentu tidak hanya berlaku bagi penganut agama Kristen.
Iya, Mo, tetapi kalau begitu, orang yang mau mewartakan Injil itu ya harus dibaptis dulu dong.
Nah, kalau begitu, Anda mulai berpikir dengan kategori agama. Kita beda jurusan.

Saya tidak memandang kehebatan senior saya di masa lalu dan kerapuhannya di masa sekarang, tetapi saya melihat bagaimana mereka berjuang di masa pensiunnya dan perjuangan itulah yang saya tangkap sebagai “pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil”. Mereka menggapai saya sebagai bagian dari “seluruh dunia” dan dengan demikian, kesaksian mereka pada saat bergumul itu justru adalah dakwah, penginjilan, misi yang dapat saya tangkap. Katanya, Cak Nun pernah berkata bahwa Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang, sehingga kalah pun bukanlah dosa. Yang penting ialah apakah seseorang berjuang atau tidak berjuang.
Tentu, poin krusialnya ialah apa yang diperjuangkan dan karenanya kita kembali ke kalimat awal: Yang membuat Anda menjadi semakin Islam, semakin Kristen, semakin Katolik, dan semakin lain-lainnya, bukanlah reuni akbar, melainkan Allah yang akbar.

Ya Allah, mohon rahmat ketekunan mempersaksikan kebesaran-Mu yang sesungguhnya. Amin.


PESTA S. FRANSISKUS XAVERIUS (SJ)
(Senin Adven I)
3 Desember 2018

1Kor 9,16-19.22-23
Mrk 16,15-20

Posting 2017: Sedikit Logika
Posting 2015: Lagak Dapet Watak Cupet
Posting 2014: Tanpa Passion Jadi Pasien Doang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s