Sampai Kapan

Kalau tak salah ingat, dua tahun lalu sudah muncul perdebatan mengenai daya tampung kawasan Monas antara tujuh juta orang dan 700 ribu. Selisihnya jauh sekali. Beberapa hari lalu terulang kembali klaim fantastis reuni berpeserta 8-10 juta orang yang sangat kontras dengan estimasi kepolisian yang menyebut sekitar 100 ribu orang (info ada di sini). Ini jelas bukan perkara susah untuk diputuskan mana yang benar. Barangkali juga tidak ada yang benar, dan memang ini juga sama sekali bukan perkara penting untuk direfleksikan. Kalau Anda menyebut perkiraan 8-10 ribu orang, toleransi 2 ribu itu masih bisa saya maklumi. Akan tetapi, kalau Anda dengan mudahnya mengatakan 8-10 juta orang, itu sebelas dua belas dengan Anda meminta saya memaklumi kinerja DPR jeblok.

Saya tak mempersoalkan angkanya, melainkan cara berpikirnya yang korup. Korup sejak dalam pikiran memang merisaukan karena orang yang korup pikirannya jelas melecehkan kebenaran. Kata seorang tokoh yang namanya dipakai tetangga kamar saya, the craving for vanity is the contempt of truth, and the contempt of truth is the cause of our blindness.

Semakin orang tergila-gila pada penampakan, impresi, sensasi, kesan, semakin orang berisiko terjauhkan dari kebenaran. Ia mengira membela Tuhan, padahal senyatanya orang membela ideologinya mengenai Tuhan. Ia mengira menegakkan agama, tetapi pada kenyataannya ia memperjuangkan ideologinya mengenai agama. Orang-orang begini, meskipun organ matanya normal, mengalami kebutaan yang tak bergantung pada fungsi matanya. Rasa saya, lebih membahagiakan mendengarkan mereka yang organ matanya tak berfungsi baik tetapi menyuarakan kebenaran.

Ini contohnya, kelompok kor tunanetra yang menyanyikan Mazmur 13 gubahan Pontas Purba. Kalau berminat mendengarkannya, saya sarankan memakai headset dan bisa skip sampai 1:03.

Mazmur itu mengesankan suatu ratapan orang yang mengalami persekusi, tetapi nadanya bukan nada playing the victim, melainkan nada penuh harapan karena kepercayaan kepada Tuhan supaya dilindungi dari para seterunya. Nah, meskipun liriknya berasal dari Mazmur yang adalah bagian dari Alkitab Kristen (Katolik), seteru atau musuh di situ jelas bukanlah orang Islam, Hindu, Budha, Konghucu dan seterusnya. Sekali lagi, mohon Anda jangan kêwowogên agama seakan-akan agama itu kategori terpenting dalam hidup ini (melampaui Tuhannya sendiri).

Seteru atau musuh dalam Mazmur itu adalah orang-orang yang buta tadi: yang mendewakan hoaks untuk menguasai orang banyak, yang memanipulasi kebenaran demi mendulang suara, yang pelintar-pelintir sana sini supaya agenda terselubungnya bisa terlaksana, yang memperalat agama untuk kepentingan politik.

Memang itu tampaknya akan terus berlangsung bahkan meskipun tahun politik sudah lewat karena politik memang tidak mengenal batas tahun. Alih-alih terus bertanya sampai kapan aksi orang-orang berhati buta itu, orang beriman berseru kepada Allahnya supaya diberi kekuatan untuk membongkar misteri kebesaran Allah dan memperjuangkannya dalam hidup konkret sehari-hari. Perubahan dari kekhawatiran atau kerisauan jadi hidup penuh harapan dan grêgêt karena mengandalkan Allah itulah yang membuat orang beriman hidup dalam kebahagiaan sesungguhnya, yang takkan terlihat oleh orang-orang buta yang merasa diri sebagai orang cerdik pandai.

Tuhan, tambahkanlah harapan kami kepada-Mu dan mohon kekuatan untuk melangkah. Amin.


SELASA ADVEN I
4 Desember 2018

Yes 11,1-10
Luk 10,21-24

Posting 2017: Come out of the tunnel
Posting 2016: Cinta Monyet 212

Posting 2015: Terserah Gue Donk

Posting 2014: Tuhan Tandingan

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s