Jangan Busuk di Penjara

Anda bisa busuk di mana saja, tetapi tidak di penjara, karena sebelum Anda membusuk, pasti Anda sudah akan dikeluarkan dari penjara, atau penjara itu memang adalah kuburan. Maka keinginan orang yang memilih busuk di penjara daripada minta maaf hanyalah ungkapan banci yang bisanya kabur dan juara lari dari kenyataan, atau mungkin maksudnya ialah daripada minta maaf lebih baik dikubur hidup-hidup. Entahlah, saya cuma punya dua kemungkinan itu, yang keduanya sama-sama busuk.

Kok ya ndêlalahnya kemarin saya mengunjungi kebusukan itu, baik di kompleks penjara maupun di luarnya. Sebelum masuk ke kompleks tahanan, saya bertanya pada oknum polisi yang bertugas jaga di mana saya bisa mengunjungi tahanan. Oknum ini secara ramah meminta saya untuk memarkir motor di luar kompleks dan nanti kembali untuk diarahkan (sontoloyo gak sih 😡 wong sebetulnya bisa tinggal tunjuk gedung tertentu di situ?). Saya putar balik keluar kompleks dan parkir di tempat yang ditunjuk oknum tersebut, tetapi saat itu saya dapat info lokasi tahanan sehingga saya langsung naik motor lagi ke lokasi, tidak kembali kepada oknum tadi. Cuma 200an meter sih, tapi untuk panas matahari yang menyengat itu kok rasanya gimana gitu.

Di tempat tahanan saya menjumpai kebusukan lain. Bukan soal kebusukan para kriminal di situ, melainkan kebusukan penanganan kriminal itu. Bisakah Anda bayangkan satu pengacara mendampingi dua pihak yang berseteru? A menuntut B dan keduanya didampingi oleh satu pengacara. Kok jadi kayak promotor tinju gini? Apa ini bukan sontoloyo sih😡? Busuk tênan!

Kalau begitu, betul juga ungkapan banci untuk busuk di penjara daripada minta maaf; ia bisa juga busuk di penjara. Jadi, ternyata memang betul kalimat awal tadi juga tanpa pengecualian: kita bisa busuk di mana saja. Loh, jadi panjang lebar tadi cuma demi kalimat gak penting itu toh, Rom?😂 Ya tidak (loh ya kok tidak).

Teks hari ini kental dengan angka tujuh sebagai lambang kesempurnaan. Satu bab sebelum teks yang dibacakan hari ini isinya juga kisah serupa, tetapi alih-alih tujuh roti dan beberapa ikan disebutkan di situ lima roti dua ikan. Jelas, tujuh ikan yang cukup untuk delapan sampai sepuluh juta orang [haissssh lebay pisan sih, Mo] dan menyisakan tujuh bakul itu tak perlu ditangkap secara literal belaka. Seperti sudah dibahas pada posting terdahulu, ini adalah soal totalitas hidup orang yang perlu terus menerus diperjuangkan supaya tak busuk ala banci tadi.

Kebusukan bukanlah disposisi yang baik untuk masa Adven, masa persiapan Natal. Memang, kebusukan tak perlu melulu dimengerti seperti saya menganggap bosok oknum polisi dan pengacara tadi, seakan-akan kebusukan itu ada di luar sana, dalam mangga-pepaya-rambutan dkk. Kebusukan itu ada di dalam hati saya, dalam hati Anda, dalam hati kita semua, ketika kita begitu manipulatif dan tak sanggup menampilkan jati diri apa adanya. Merdeka!

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk membuka diri sejujurnya di hadapan-Mu dan sebisa mungkin melepas topeng busuk kami di hadapan sesama. Amin.


HARI RABU ADVEN I
5 Desember 2018

Yes 25,6-10a
Mat 15,29-37

Posting 2017: DIY God
Posting 2015: Auto Recovery

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s