Sebelas Juta

Saya tahu dulu ada “dai sejuta umat” yang khotbah-khotbahnya menyentuh banyak umat, dan saya yakin itu tentu juga memberi dampak kepada mereka. Yang masih terngiang di kepala saya adalah bagaimana beliau menarik makna puasa dengan frase “intinya pengendalian diri”. Sepeninggal beliau, saya tak begitu mengikuti berita, tetapi kesan saya, belakangan ini media sangat akomodatif (kalau bukan ikut mencipta) terhadap dakwahtainment. Akan tetapi, barangkali dakwahtainment itu masih lebih mendingan daripada ceramah dai-dai yang entah dari mana datangnya menampilkan diri untuk mempermainkan perasaan wanita dan laki-laki dengan segala variasinya, untuk kepentingan politik.

Saya sendiri ngeri (baca: prihatin) terhadap dai-dai macam begitu. Kesannya, itu adalah preman yang diberi pakaian Islam. Nota bene: sebetulnya saya juga tidak paham apakah memang ada pakaian Kristen, baju Katolik, celana Buddha, rok Hindu, atau topi Konghucu karena busana pada dasarnya adalah produk kultur, bukan produk langsung agama. Menurut ceramah ‘dai sejuta umat’, yang saya sepakat, itu baik sebagai starting point. Akan tetapi, yang jauh lebih penting dari agama ialah dampaknya terhadap pola pikir, tutur kata, dan perilaku pemeluknya. Itulah sebetulnya produk langsung agama.

Kalau produk langsung ini tidak sinkron dengan produk kultur, terjadilah apa yang digambarkan dalam teks hari ini: seperti orang bodoh, membangun rumah dengan pondasi pasir yang rapuh sehingga ketika badai menerjang, hancurlah bangunan itu. Contoh gejala orang bodoh ini ialah mereka yang suka memanipulasi data untuk kepentingan kekuasaannya. Masih ingat kan dulu ada yang bersujud syukur karena berdasarkan hitungan internalnya memperoleh kemenangan pilpres? Itu empat tahun lalu, tetapi ternyata kebiasaan manipulatif itu belum hilang juga; malah tambah parah lagi, maling teriak maling, playing the victim.

Barangkali memang bisnis angka jadi penting setiap awal bulan Desember (selain Natalan) dan tahun ini angka cantiknya masih 212 dengan 11 juta pendukung. Betapa korupnya media yang mengatakan peserta reuni itu cuma beberapa puluh ribu orang [dah gitu gak bikin reuni sebagai liputan utama lagi]! Kalau cuma bilang delapan sampai sepuluh juta ya cincailah, tapi ini beberapa puluh ribu atau ratus ribu! Sungguh terlulaEntahlah siapa yang terlula, tetapi angka fantastis (dan keinginan narsis untuk diliput sebagai event penting) itu mengingatkan saya kembali pada analisis empat tahun lalu yang membawa kenangan pada “Megaloman, fire.

Tendensi megalomania yang gemar memanipulasi data dan ketidakmampuan orang untuk bisa rumangsa dalam perspektif bacaan hari ini adalah karakter bangunan rumah di atas pasir nan rapuh. Aneka pakaian dan slogan agama bisa jadi begitu megah, terstruktur, sistematif dan masif. Akan tetapi, kalau menyebut nama Nabi saja masih keseleo (anggaplah begitu) dan menghargai gerbong wanita saja tidak bisa, bisa jadi ini cacat produk agamanya. Jangan salah, bukan agamanya yang cacat, melainkan orang-orangnya, yang tak kunjung membatinkan nilai universal agama dalam pola pikir, tutur kata, dan pola perilakunya.

Apakah itu problem capres? Iya, tetapi capres adalah kita. Pilihan Anda terhadap capres menggambarkan ideal diri Anda: megaloman atau kerendahhatian, manipulasi atau kejujuran, kekuasaan atau pelayanan, dan seterusnya.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami semakin dapat membatinkan Sabda-Mu. Amin.


KAMIS ADVEN I
6 Desember 2018

Yes 26,1-6
Mat 7,21.24-27

Posting 2017: Agama Porno
Posting 2016: Super Damai

Posting 2014: Menanti Timpukan Batu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s