Saat Kaki Terinjak

Pernahkah Anda berteriak karena kaki Anda terinjak? Mengapa Anda berteriak? Latah, sakit, atau malah caper sehingga sebelum terinjak sudah teriak duluan? Saya usul, kelak kalau kaki Anda, atau hidup Anda terinjak(-injak), berteriaklah bukan melulu karena sakit, melainkan juga karena dengan begitu orang yang menginjak Anda jadi sadar diri. Bukan apa-apa, bisa jadi orang menindas karena tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah penindasan. Power tends to corrupt dan orang yang punya kuasa itu perlu diberitahu di mana tendensi korupnya dengan teriakan Anda.

Misalnya, teriakkanlah bahwa pendekatan Jokowi untuk membangun infrastruktur di Papua itu mesti meliputi elemen pembangunan lainnya supaya infrastrukturnya tidak malah menjadi jalan tol bagi kolonialisme baru. Bisa jadi, gara-gara infrastruktur keren, njuk berdatanganlah orang dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan malah mereka yang jadi tuan tanah, tuan kebun, tuan pasar, dan sebagainya, sehingga orang Papua cuma ndomblong karena belum bermodal pendidikan yang memadai (gejalanya dulu sudah saya lihat). Ini mengingatkan saya sewaktu pergi ke Lombok, di sana-sini terpasang papan pengumuman “Tanah ini tidak dijual”. Kalau tidak, barangkali seluruh pulau sudah dibeli orang berduit, entah dari luar pulau atau luar negeri, dan warga setempat tergusur.

Orang mesti menyuarakan ketertindasannya supaya keadilan diwujudkan. Kalimat ini tidak begitu saja mudah dipahami (seperti pada umumnya kalimat pada blog ini, hahaha). Maklum, orang sudah terbiasa dengan politik kepentingan. Maka, umumnya orang menyuarakan ketertindasannya supaya ia bebas dari ketertindasan itu. Loh, ya apa salahnya, Rom? Wajar kan orang berteriak melawan supaya ia tidak terinjak kakinya? Betul, tetapi “berteriak menyuarakan kepentingan kaki supaya tak terinjak” dan “berteriak menyuarakan keadilan antarkaki” adalah dua hal yang berbeda meskipun dampaknya bisa sama (kaki saya tak terinjak lagi). [Tentu gak perlu naif di dalam bus Anda berteriak kepada penginjak kaki Anda,”Woeee Anda melakukan ketidakadilan dengan menginjak kaki saya!”]

Ini aplikasinya. Dengan segala hormat pada (keluarga) korban, penembakan pekerja infrastruktur di Papua memang sungguh tindakan sontoloyo brutal terkutuk. Akan tetapi, berteriak menuntut para pelaku dihabisi pada prinsipnya sama juga dengan rencana sontoloyo brutal. Itu mengapa Komnas HAM menyuarakan supaya penanganan kelompok bersenjata itu dilakukan dengan menghargai prinsip kemanusiaan juga, tidak ujug-ujug menyerbu mereka dan menghabisi nyawa mereka. Lagipula, secara strategis, bukankah lebih menguntungkan jika bisa menangkap mereka hidup-hidup dan dengan demikian bisa membongkar akar ketidakadilan yang terjadi di Papua?

Dengan begitu, prinsip balas membalas bukanlah pilihan kemanusiaan. Orang beriman semestinya melihat dimensi yang lebih luhur, dimensi yang rupanya tak terlihat oleh dua orang buta yang sembuh. Guru dari Nazareth menginginkan supaya pengalaman kesembuhan mereka itu jadi pengalaman iman personal yang jadi urusan mereka dengan Allah Sang Penyembuh, tetapi mereka malah berkoar-koar mengenai kehebatan Guru dari Nazareth itu. Salah fokus, Bro.

Silakan lihat klip kartun berikut ini. Saya tak menjamin bahwa kisah ini benar-benar terjadi begitu, tetapi kebenaran kisah macam ini terletak pada kemampuannya untuk mengarahkan orang pada dimensi luhur yang sebetulnya tertanam dalam hati setiap insan.

Tuhan, mohon rahmat keluhuran hati supaya kami senantiasa fokus pada cinta-Mu lebih dari yang lainnya. Amin.


JUMAT ADVEN I
Peringatan Wajib S. Ambrosius
7 Desember 2018

Yes 29,17-24
Mat 9,27-31

Posting 2016: Jakarta Puas?
Posting 2015: Hati Teroris

Posting 2014: T3M vs M3T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s