Agama Porno

Masih ingat tanaman monokotil dan dikotil? Masih ingat perbedaannya? Ya betul, yang satu pakai di, yang satunya mono, tapi justru itu pertanyaannya, mengapa yang satu pakai di dan yang lainnya pakai mono. Salah satu karakter yang saya ingat adalah bagian akarnya, yang dalam bahasa Latin disebut radix. Kebanyakan tumbuhan monokotil berakar serabut, sedangkan tumbuhan dikotil berakar tunggang. Manakah yang lebih kokoh? Yang berakar tunggang tadi. Kenapa? Bukan kompetensi blog ini untuk menjawabnya.

Saya cuma bertanya-tanya mengapa kata radikal, gerakan radikal, orang radikal itu cenderung dinilai negatif. Bukankah menurut arti asalnya radix itu baik? Bukankah orang yang berakar (tunggang, bukan serabutan) itu malah bagus? Coba bayangkan orang gak jelas macam saya ini: mengaku coklat (cowok Klaten) tapi gak isa basa jawa, mengaku besar di Jakarta tapi bahasanya mêdhok, statusnya pastor tapi dimintai tolong misa berdalih sedang ujian akhir semester (mosok UAS melulu, hahaha). Wis ra cêtha! Ditanya asli mana selalu bingung menjawabnya (padahal tinggal jawab fotokopi aja kan bisa).

Entahlah, barangkali karena akhirnya dikaitkan dengan gerakan radikalisme, kata radikal jadi agak gimana gitu. Kenapa tambahan -isme itu membuat kata sifat jadi jelek ya? Ya namanya ideologi sih, cenderungnya saklêk dan lebay juga. Baru-baru ini ada pandangan mata dari sebuah kota yang mulai mempersoalkan patung. Ngeri deh, ada patung kok porno. Orang renang porno, tayangan tivi diblur menutupi bagian yang dianggap porno. Wis ra cêtha! Tolok ukurnya serabutan, asal klop dengan syahwatnya sendiri-sendiri, tak punya konteks, tak punya makna, agama pun jadi porno! Kalau agama jadi porno, artinya sudah menyeleweng, dan tak kokoh sebagai pondasi untuk membangun relasi autentik dengan Allah, dan cuma serabutan kongkalikong dengan duit, politik, kekuasaan.

Mungkin ada baiknya orang berusaha berakar, juga pada agama, tetapi sebaiknya tak jadi lebay, apalagi memakai tolok ukur sendiri di tengah masyarakat yang jelas-jelas majemuk. Mari berdoa untuk orang-orang beragama supaya tidak lebay, karena Tuhan pun gak segitunya ya.
Memang tidak mudah mengupayakan detachment. Orang yang ngotot biasanya juga punya attachment terhadap hal yang dia ototi, dan kalau orang detach dianggap tak punya passion. Akar tunggang itu tadi tidak serabutan cari cantolan ke sana kemari, tapi justru yang dialah yang kokoh menopang batang pohon.

Tuhan, mohon rahmat supaya tindakan kami sungguh berakar pada Sabda-Mu. Amin.


KAMIS ADVEN I
Peringatan Wajib S. Ambrosius
7 Desember 2017

Yes 26,1-6
Mat 7,21.24-27

Posting 2016: Super Damai
Posting 2014: Menanti Timpukan Batu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s