Ya Ampun Donald

Sejak kecil saya sudah akrab dengan tokoh Donald. Sosok lucu keponakan Gober yang kaya raya, tapi dia cuma ada dalam dunia kartun. Sewaktu remaja saya juga kenal sosok bernama Donald. Sosok lucu yang saya tak tahu siapa omnya, tapi memang dia menderita sakit sampai meninggalnya (RIP Donald, pray for me). Sekarang, setelah usia saya lanjut, saya tahu tokoh Donald, yang sama sekali tidak lucu (hidup pula’) dan langsung jadi contoh kebalikan dari sosok yang hari ini diperingati oleh Gereja Katolik: Bunda Maria yang tanpa noda.

Donald ini memang tepat janji, tetapi menepati janji tidak otomatis jadi keutamaan baik, bergantung pada isi janjinya sendiri (begitu juga halnya dengan status quo, tidak otomatis buruk toh). Maka dari itu, kalau isi janjinya sendiri cacat, orang yang memilih sosok dengan janji cacat ini ya sebetulnya sepadan dengan sosok yang tidak lucu tadi itu. Yang tidak lucu bukan cuma sosoknya ini, melainkan juga pemilihnya.

Saya pernah satu ruangan diskusi dengan teman-teman yang memperoleh beasiswa di Eropa. Diskusi tiba-tiba menjadi sangat panas karena dua kandidat PhD itu mulai menyinggung soal jalur Gaza. Mereka bukan orang Palestina, bukan juga orang Israel. Dua-duanya Katolik. Yang satu tinggal lama bersama orang-orang Palestina, yang terus mempersoalkan bagaimana orang Israel memperlakukan rakyat Palestina ini sebagai binatang. Yang lainnya pernah tinggal di Israel dan mencoba mempertahankan bagaimana warga Israel beralasan mengusir orang Palestina yang mengusik kehidupan mereka.

Dengan blunder yang dibuat Donald kemarin itu, sekarang saya paham apa yang dimaksud kawan saya mengenai gawan bayi sebuah bangsa yang merasa diri terpilih, yang hendak menganeksasi wilayah yang dulu sudah disepakati sebagai wilayah netral. Blunder ini potensial membuat noda perjanjian damai dan persis inilah yang tadi saya maksud sebagai contoh kebalikan dari yang diperingati Gereja Katolik tadi.

Ada kalanya vox populi vox Dei, suara rakyat adalah suara Allah. Kalau PBB mengambil keputusan yang disepakati anggota-anggotanya, dan hal yang diputuskannya secara moral tidak cacat, kiranya keputusan itu merupakan indikasi bagi kehendak Allah. Perjanjian damai yang dilanggar menjadi indikasi bahwa pelanggarnya membela kepentingan kelompok tertentu.

Apakah ini problem Donald saja? Tentu tidak, karena masalah itu tidak ada di luar sana: di dalam sini senantiasa ada tendensi ‘saya benar, dia salah’. Ya maklum, kan katanya orang mau cari kebenaran, tentu cenderung mengatakan yang dilakukannya benar. Cuma, repotnya kalau klaim kebenaran itu diikuti penghakiman bahwa pihak lain salah. Itu yang kiranya dipegang Donald nan tidak lucu itu.

Bunda Maria tak bernoda karena dalam pergumulan mencari kebenaran itu, ia sampai pada pengakuan bahwa ia hamba Tuhan, bukan hamba penguasa, bukan hamba followers, bukan hamba duit, dan seterusnya. Bunda Maria tak bernoda karena ia lebih bersikap membiarkan kehendak-Nya terjadi, bukan pikirannya sendiri, bukan malah ngeyel dengan pengertiannya sendiri, bebal terhadap apa yang disampaikan pihak lain.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami peka terhadap kehendak-Mu juga melalui apa yang disuarakan orang lain. Amin.


HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA
(Kamis Adven I)
8 Desember 2017

Kej 3,9-15.20
Ef 1,3-6.11-12

Luk 1,26-38

Posting 2016: Masih Adakah Harapan? 
Posting 2015: Yang Mulia Beneran

Posting 2014: Takut Dosa, Emang Perlu Gitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s