Masih Adakah Harapan?

Anda kiranya gembira mengetahui bahwa kepulangan Anda dinantikan anggota keluarga. Akan tetapi, percaya deh, keadaan nelangsa yang sesungguhnya bukanlah ketika Anda pulang dan tak ada yang menyambut atau yang menanti-nantikan Anda. Mungkin untuk pengantin baru memang itu menyedihkan, tetapi dalam hidup keluarga, saya percaya aja, itu bukan yang paling menyedihkan. Barangkali malah Anda maunya pulang dan orang-orang rumah sudah tidur semua, mengendap-endap masuk kamar seperti maling. Hayo ada apa! Haha…

Yang paling menyedihkan adalah kalau Anda tak punya sesuatu lagi yang hendak Anda sambut atau nanti-nantikan dalam hidup ini. Eaaaa….

Tak usah rumit-rumit ya. Misalkan saja, Anda berpikir musik itu wasting time dan bermain itu gada gunanya, tambah lagi: Anda gak mau ada orang mengetuk pintu kamar Anda, tak ada kejutan yang Anda ‘tunggu’ dari improvisasi teman Anda, tak ada kegembiraan yang diharapkan. Habislah hidup Anda… Ini bukan soal kiamat. Ini soal bahwa Anda berhenti menjadi pribadi dan berpuas diri dengan superficiality. Merasa diri sudah selesai, benar sendiri, sempurna, mendapat rida Allah yang tak terbantahkan, bisa semau-mau Anda melakukan ini itu karena mengikuti slogan Augustinus: Love and do whatever you want! Ya begitulah, kalau Anda tak terus menerus menguji ketulusan cinta Anda (eaaaa ada yang promosi), Anda habis bis bis bis…

Dalam dunia yang tampaknya ‘gelap’ ini, kabar mengenai rahmat Tuhan juga bisa jadi samar-samar. Teks bacaan pertama hari ini mengisahkan bagaimana makhluk yang menjauhkan diri dari rahmat Tuhan itu. Pertanyaan yang ada di situ berlaku universal,”Kamu di mana?” Konteksnya pun universal: hati semua orang. Jawabannya bersifat lokal, bergantung pada bagaimana hati itu kontak dengan kenyataan hidup ini. Lihatlah bagaimana manusia pertama itu menjawab pertanyaan Tuhan. Pertanyaannya menyoal letak keberadaan, jawabannya langsung reaktif defensif: begitu tahu Engkau ada di taman ini, aku jadi takut. Sementara itu pada teks bacaan terakhir justru itulah yang diwanti-wantikan oleh malaikat: jangan takut!

Iya ya, kenapa takut? Kalau orang dekat dengan rahmat Tuhan, ia tidak takut. Ketakutan justru meruntuhkan kebajikan atau ketulusan orang. Ini sudah kita pelajari juga dari cerpennya A.A. Navis. Menilik warta yang diterima Maria pada teks hari ini, orang bisa mengharapkan rahmat yang memelihara penantian orang akan ‘kejutan-kejutan’ dari Allah dalam hidup ini. Kejutan-kejutan itulah yang justru membantu orang untuk semakin mengenali dirinya sendiri di hadapan Allah. Pengandaiannya: orang tidak takut berada dalam jangkauan rahmat. Orang yang demikian ini tidak dihantui oleh ketakutan yang ditargetkan oleh teroris dan reaktif terhadapnya.

Akan tetapi, sebaliknya, orang yang dekat dengan rahmat Tuhan itu juga pasti tidak menebar teror. Orang yang percaya pada kekuatan Allah justru membiarkan Allah bekerja menjalankan peran-Nya. Kerja sama antara Allah dan manusia tidak pernah melegitimasi kekerasan horisontal: balas-balasan aksi, balas-balasan teror, dan sebagainya. Orang dalam jangkauan rahmat Allah percaya bahwa Allah lebih kuat dari siapa pun yang mengklaim diri sebagai pembela Allah, dan, sayangnya, Dia bekerja seturut timeline atau jadwal-Nya, bukan jadwal kita.

Tuhan, besarkanlah harapan kami akan rahmat-Mu lebih daripada arogansi kami. Amin.


HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA
(Kamis Adven II)
8 Desember 2016

Kej 3,9-15.20
Ef 1,3-6.11-12

Luk 1,26-38

Posting Tahun Lalu: Yang Mulia Beneran
Posting Tahun 2014: Takut Dosa, Emang Perlu Gitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s