Rest In Pain

Kita tahu RIP: requiescat in pace (bacanya rekwieskat in pace: semoga dia beristirahat dalam damai). Ini biasanya ditulis untuk berita lelayu atau pada nisan. Dalam bahasa Inggris biasanya dipadankan dengan Rest In Peace, meskipun mungkin pada hembusan terakhirnya yang bersangkutan itu rest in pain. Ya gak apa, itu kan doa semoga jiwanya benar-benar beristirahat dalam damai. Seperti apa sih beristirahat dalam damai? Haruskah orang menunggu sampai hembusan nafas terakhir untuk rest in peace itu?

Augustinus sih bilang hatinya takkan pernah beristirahat sebelum menemukan tempat dalam Tuhan, tapi kan tetap saja pertanyaannya sama: apakah menemukan tempat dalam Tuhan itu berarti nanti setelah yang biologis ini berhenti? Kalau iya, kalau damai sejati itu hanya terjadi setelah kematian, berarti ada keterpisahan antara dunia sini dan dunia sana, tak ada jembatan. Anda jawab: ya ada, amal baik itu kan jembatan. Oh, berarti semacam di dunia sini mencari reward dunia sana in a painful manner, begitu ya? Jawab Anda: painful itu kan paradigma dunia sini. Kalau orang menjalankannya dengan ikhlas ya tidak painful. Eaaa… Anda tidak jauh dari Kerajaan Surga.

Akan tetapi, reward points bukanlah jembatan itu sendiri. Dunia yang terpisah dengan kematian tidak dijembatani oleh reward points (kek bank aja). Kalau Anda keukeuh dengan keyakinan itu, Anda berhadapan dengan monster yang Anda beri atribut Allah. Allah suci, kita manusia brengsek. Allah mulia, kita manusia ancur. Betul, memang kesucian Allah itu ilahi, abadi, supranatural, yang seakan-akan tak terjangkau oleh manusia. Akan tetapi, itu hanya seakan-akan. Dari agama Kristiani saya belajar soal jembatan itu: kalau kesucian Allah itu ilahi, supranatural, kekal, kesucian pribadi yang disebut Kristus itu historis, manusiawi, terdagingkan, dalam badan, dalam jiwa, dalam roh, dalam hati, dalam pikiran. Dengan bahasa Kristiani, itulah kesucian salib.

Tentu untuk memahaminya tak perlu orang memutlakkan paham Allah Tritunggal. Itu doktrin, dan dengan demikian terbangun karena unsur politis dan melalui ‘perang konsep’ juga. Yang lebih penting bukan doktrin Allah Tritunggalnya, melainkan penghayatan jembatan tadi: bahwa dalam diri setiap orang ada kesucian dalam penderitaan, penganiayaan, pengejaran, teror, kemartiran, perendahan martabat, penindasan. Itu yang dalam bahasa Kristiani disebut kesucian salib tadi.

Maka dari itu, undangan tokoh sableng kita supaya mereka yang letih lesu dan berbeban berat datang kepadanya berarti undangan untuk meletakkan beban itu dalam terang salib: kalau Yang Ilahi itu masuk dalam sejarah, Dia pasti menderita! Kalau Kebenaran itu hendak diwujudkan di dunia horisontal ini, Dia pasti bikin gaduh! Mau konkret? Silakan lihat upaya penegakan kebenaran, keadilan sosial. Pasti bikin gaduh, entah koruptor, entah pemerintah, entah siapa lagi. Itu biasa aja kok, gak perlu heran. Kalau orang baik yang membawa payung kehujanan bersama orang jahat, yang menderita adalah orang baik itu, karena si jahat merampas payungnya.

Kalau orang protes hal ini, ia akan rest in pain. Kalau ia paham dan menghayatinya, beban tidak hilang, kesulitan mungkin tak berkurang bahkan tambah gencar kegaduhannya, tetapi ia rest in peace.

Tuhan, ajarilah kami berhati lembut dan rendah hati. Amin.


HARI RABU ADVEN II
Pesta Wajib S. Ambrosius
7 Desember 2016

Yes 40,25-31
Mat 11,28-30

Posting Tahun Lalu: Ringankan Bebanmu
Posting Tahun 2014: Doa Aja Ribut…Gak Capek, Brow?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s