Pelahap Neraka

Hidup yang terus menerus dalam suasana undecided itu sangat tidak mengenakkan hati, juga dalam hal beragama, apalagi dalam hal jodoh, eaaaa. Tak sedikit orang yang belajar aneka macam agama tetapi tak memutuskan untuk melibati salah satunya. Akhirnya, hidupnya cuma seolah-olah: seakan-akan tahu agama A B C D, tetapi yang diketahuinya ya cuma yang ekstrinsik, betapapun mungkin pengetahuannya banyak; dan karena tahunya cuma unsur ekstrinsik, orang ini juga dangkal, superficial.

Akan tetapi, sedangkal-dangkalnya orang seperti itu, barangkali masih mendingan jika dibandingkan dengan mereka yang hidupnya ‘seolah-olah’ dengan tempurung yang lebih sempit. Sekurang-kurangnya mereka masih punya tambatan yang disebut moralitas. Slogan mereka kurang lebih berbunyi “yang penting moralnya baik, terserah mau beragama atau tidak”. Jadi, sekurang-kurangnya kalau hidup mereka konsekuen dengan slogan itu, moralitas mendapat tempat yang baik. Catatannya silakan lihat tautan ini (klik atau tap di sini).

Yang memprihatinkan ialah kedangkalan orang beragama yang tempurungnya sempit. Piye jal, sudah dangkal, sempit pula, kasihan ikannya toh? Anda mungkin pernah mendapati kaos yang diproduksi oleh komunitas santri ini:

Percayalah, saya tidak dibayar oleh pengelola situs bisnis itu. Keberlangsungan blog ini juga antara lain karena ada satu dua orang baik hati yang berkenan menyisihkan uang jajannya (kudu mbayar domain loh, Brow! Tapi gak usah terharu begitu, terharulah untuk beberapa donatur itu, hehehe…). Saya tampilkan desain kaos situs bisnis itu karena cocok untuk menjembatani teks hari ini dan apa yang belakangan ini terjadi di kota tempat tinggal saya, juga di kota-kota lain. Masih hangat beritanya soal baliho-balihi, tetapi saya tak punya gairah untuk membahasnya.

Teks hari ini bicara soal kritik Yesus terhadap generasinya yang undecided, yang api dalam dirinya tak terpantik persis karena kedangkalan hidupnya dalam tempurung yang sempit itu. Itu mengapa dalam kontemplasi saya muncul kutipan dari Kang Santri itu: Semua-muanya kamu musuhi. Apa-apa saja kamu salahkan. Apakah surga mau kamu makan sendiri? Tentu ungkapan bahasa Indonesia ini terdengar halus karena ‘untal’ memang berarti makan. Tetapi, dalam bahasa Jawa (cmiiw) kata ‘untal’ itu terdengar kasar jika dipakai untuk manusia. Itu adalah kata kerja untuk raksasa yang mulutnya besar, yang bisa menguntal kebo sekalipun. Artinya, ungkapan Jawa itu adalah kritik juga terhadap mereka yang dangkal dan sempit tadi.

NKRI tidak dibangun oleh satu segmen tertentu dan kalau ada gesekan antar segmen, pemecahannya tidak dengan kuat-kuatan segmen yang bergesekan. Mentang-mentang saya gak suka, tidak berarti saya bisa sesuka saya mendesak orang lain (yang saya anggap sesat dan menyesatkan) untuk berubah! Ini prinsip subsidiaritas yang perlu dikawal oleh negara dan masyarakat. Moralitas dalam NKRI tidak pernah bisa dilandaskan pada keyakinan agama tertentu, melainkan pada landasan umum, yaitu Pancasila. Tolok ukurnya Pancasila itu, yang dituangkan dalam butir-butirnya. Agama memberi kontribusi dalam pemaknaannya, bukan malah mengobrak-abrik nilai universal Pancasila.

Loh, kok jadi kuliah Pancasila gini sih, Rom? Oh iya ya. Mari kita berdoa (sssssst… diem dulu).

Ya Tuhan, mohon kedamaian hati supaya kami tidak nyinyir karena ketidakpuasan terhadap apa saja yang ada di luar diri kami. Amin.


HARI JUMAT ADVEN II
9 Desember 2016

Yes 48,17-19
Mat 11,16-19

Posting Tahun Lalu: Kebal Kritik, Bebal mBribik
Posting Tahun 2014: Pernah Patah Hati Gak Sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s