Iman Cashback

Anda tidak akan memberikan penjelasan mengenai teknik berenang kepada atlet perenang olimpiade atau teknik begadang kepada manusia kalong. Itu seperti membuang garam untuk mengasinkan laut, tiada guna, kecuali pada garam itu Anda tambahkan micin atau sekalian generasinya.
Yohanes Pembaptis yang hari ini dinarasikan membaptis Yesus kiranya punya reaksi yang sejalan dengan logika tadi. Anda tahu bahwa Yohanes Pembaptis ini benar-benar orang yang tak bisa diam di hadapan ketidakadilan. Kritiknya terhadap Herodes akhirnya berujung pada pemenggalan kepalanya.

Ketika Guru dari Nazareth datang kepadanya untuk dibaptis, reaksinya kira-kira jadi begini,”Ngapain kamu, Sus, ikut-ikutan dibaptis? Kamu itu nabi besar, kok malah minta dibaptis orang rendahan begini?” Reaksinya bukan aksi sok rendah hati, apalagi rendah diri. Ini adalah buah logika keadilannya. Tidaklah fair nabi besar membiarkan dirinya ikut baptisan seperti dilakukan orang-orangnya.
Menariknya, tanggapan Yesus persis menukik pada persoalan keadilan yang disodorkan Yohanes Pembaptis,”Sudahlah, biarkan itu terjadi karena begitulah sepatutnya kita menggenapkan keadilan.” Saya tidak mengerti bagaimana menerjemahkan δικαιοσύνην (dikaiosuné), tetapi kalau diterjemahkan sebagai kehendak Allah kok rasanya malah kurang inspiratif.

Yohanes penyuara keadilan, tentunya tindakannya juga sejalan dengan logika keadilannya. Maka, pikirnya, tak eloklah nabi besar dibaptisnya seperti orang-orang lainnya. Akan tetapi, justru itulah pesannya: Guru dari Nazareth menyodorkan logika keadilan yang berbeda dari yang dipikirkan Yohanes Pembaptis. Ini bukan logika keadilan distributif atau komutatif atau prosedural, yang pada dasarnya berkenaan dengan apa yang semestinya diberikan kepada orang seturut jasanya, kewajarannya, melainkan keadilan dengan tolok ukur cinta dan kerahiman Allah. Nah, apa gak puyêng sampai di sini? Keadilan prosedural saja sudah bikin mumêtgimana mau ditambahi cinta dan kerahiman?

Mari lihat setting peristiwa baptisannya, Bethabara, sisi barat Sungai Yordan, sembilan kilometer di utara Laut Mati. Sekarang ini masuk wilayah Yordania. Sungai Yordan disebut 179 kali dalam Kitab Suci. Itu menunjukkan pentingnya Sungai Yordan, tetapi rupanya bukan signifikansi ekonomi yang ditunjuk di situ. Sepanjang sungai itu tak ada kota niaga besar seperti di Sungai Nil atau Efrat dan Tigris di Mesopotamia. Pada waktu itu, Sungai Yordan dianggap penting sebagai batas antara tanah bangsa kafir (di timur Sungai Yordan) dan tanah bangsa Israel. Air sudah dikenal sebagai medium simbolik untuk ritual pembersihan rohani. Tak mengherankan, Yohanes Pembaptis memakai air untuk ritual baptisannya: orang ditenggelamkan di Sungai Yordan, seakan-akan ia mati dari dosanya, lalu muncul sebagai manusia baru.

Maka dari itu, di Bethabara Yohanes bisa saja menarik orang di wilayah timur, memintanya mengucapkan syahadat kepercayaan akan Allah YME, mungkin juga sekalian disunat, lalu dibaptis, dan jadilah ia manusia baru sebagai orang Yahudi.
Nah, kalau orang dari barat Sungai Yordan datang ke Bethabara untuk dibaptis Yohanes, apakah itu tidak aneh? Lha untuk apa wong sudah sebagai orang Yahudi kok?
Saya kira Yohanes tidak naif juga untuk mengatakan bahwa orang-orang di barat Sungai Yordan memang sungguh beriman sebagaimana Abraham. Ia justru mengingatkan bangsa Yahudi bahwa mereka belum sepenuhnya masuk dalam ‘tanah terjanji’ karena ‘tanah terjanji’ itu bukan lagi soal tanah Israel, melainkan tanah kemerdekaan, kerajaan Allah sendiri.

Oleh karena itu, Yohanes membuat tindakan simbolik juga bagi orang-orang di barat Sungai Yordan: kembalilah ke situasi pagan bin kafir, dibaptis di situ, lalu menyeberang ke tanah terjanji yang baru, entah ke Nazareth, Betlehem, Yerusalem, dan seterusnya. Nah, Guru dari Nazareth ikut-ikutan pula!
Bahkan Yohanes tak mengerti pilihan Yesus! Maka, ia hendak menghalanginya ikut dibaptis. Kenapa? Karena di kepalanya ada ide mengenai Mesias yang tak mungkin bersentuhan dengan dosa, Allah yang tak mungkin bercampur dengan para pendosa, nabi besar yang ikut dibaptis karena mau bertobat, dan seterusnya. Yesus menjawab Yohanes dengan ungkapan tadi.

Menariknya, Yohanes menurut, dalam arti seperti iblis yang meninggalkan Yesus di padang gurun setelah gagal menghalang-halanginya dengan aneka godaan. Keadilan di kepala Yohanes mesti dirombak. Ide di kepalanya bahwa Mesias menjauhi pendosa, memusnahkan mereka yang mandul, memisahkan gandum dari ilalang, ternyata tak cukup memenuhi kriteria keadilan Allah. Keadilan Allah berangkat dari rahmat gratis, bukan cashback karena jerih payah manusia sendiri.
Begitulah, bisa jadi orang beragama dengan modal harapan akan cashback dan hidupnya cuma berprinsip pada do ut des: baik kepada orang supaya dibaiki, memberi supaya menerima, dan sejenisnya.

Tuhan, ajarilah kami menghidupi keadilan-Mu yang gratis lagi memerdekakan. Amin.


PESTA PEMBAPTISAN TUHAN A/2
12 Januari 2020, Minggu

Yes 42,1-4.6-7
Kis 10,34-38
Mat 3,13-17

Posting 2017: Pastor Gadungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s