Iman Tuyul

Anda boleh tertawa bahwa saya pernah melihat tuyul di kompleks TMP Kalibata. Saya, ibu saya dan entah siapa lagi (wong banyak penumpangnya), naik Metro Mini dari Cililitan ke Blok M. Sebelum pertigaan Jln. Pasar Minggu, bus berhenti persis di depan TMP. Lampu merah. Pada saat itu saya melihat kompleks TMP dan mata saya tertambat pada bocah-bocah gundul yang berdiri teratur di depan kompleks, seperti patung. Telanjang semua. Saya tanya ibu saya kenapa anak-anak itu berpanas-panas ria di pinggiran gerbang. Ibu saya bertanya anak-anak mana. Saya berusaha menjelaskan sebisanya, memberikan koordinat dan deskripsi anak-anak itu, tetapi ibu saya tidak juga melihat. Bus bergerak dan saya putus asa tak bisa menunjukkan objek yang membuat saya penasaran.

Besoknya, ketika saya melewati TMP Kalibata dengan Metro Mini lagi, anak-anak yang kemarin saya lihat itu tak ada lagi di sana. Kata ‘tuyul’ akrab di telinga saya, tetapi pada saat saya melihatnya, kata itu tidak muncul di kepala saya. Saya menganggap apa yang saya lihat itu adalah anak-anak sebaya saya. Jauh hari kemudian, ketika saya mendengar omongan teman mengenai jin dan manifestasinya menurut Islam, saya mulai melihat relevansi kata ‘tuyul’ bagi objek yang saya lihat itu.

Di situ sudah ada dua matra dari kata ‘melihat’. Yang pertama melihat dengan indra mata (blepo dalam bahasa Yunani). Yang kedua melihat dengan refleksi dan teori tertentu (theoreo): mungkin itulah contoh jin sebagaimana dijelaskan teman saya. Ini jenis melihat yang sudah melampaui objek kasatmata, tetapi masih berhubungan dengan objek indrawi yang bisa diverifikasi. Misalnya, secara teoretis bisa diusahakan apakah objek yang saya lihat itu betul manifestasi jin atau sebetulnya cuma patung yang hanya pada hari itu dipasang. Kalau terbukti anak-anak itu memang patung, berarti penglihatan saya terhadap tuyul itu keliru. Kalau terbukti pada waktu itu tak ada yang membuat instalasi tuyul di TMP, berarti yang saya lihat memang tuyul.

Teks bacaan hari ini memakai matra lain dari kata ‘melihat’ (horao): objek yang tak terverifikasi dengan indra, entah dengan bantuan mikroskop elektron atau mata superman. Dalam kasus saya tadi, entah yang saya lihat itu tuyul atau bukan, saya dapat mengkontemplasikan bagaimana ciptaan Allah tertentu (katakanlah jin) bisa mengambil wujud apa saja. Saya mengerti bahwa iblis dapat memanifestasikan diri lewat apa saja. Ini melibatkan kepercayaan dari pihak saya dan karena itu, cara melihat pertama dan kedua tadi menjadi tidak relevan: entah yang saya lihat itu tuyul atau patung, saya percaya Allah bisa mengambil jalan mana saja untuk menampakkan diri-Nya.

Ayat “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”, dengan demikian, bukan privilese mereka yang tak melihat Guru dari Nazareth namun percaya (dan beragama Kristen/Katolik!), melainkan privilese siapa saja yang tak menambatkan imannya pada dua matra melihat tadi. Orang yang sungguh beriman malah mampu merelatifkan agamanya sendiri: doktrin, ritual, dan lain-lainnya mesti dihubungkan dengan pengalaman autentik akan Allah yang senantiasa mencintai umat ciptaan-Nya.

Dalam konteks ini, orang tak lagi ribet dengan aneka riset mengenai kain veronika, kain turin, air Lourdes atau Sendangsono, awan berwajah Yesus, dan sejenisnya, karena titik acuannya tidak tertambat pada objek yang tertangkap indra dan rasionalisasi seperti tuyul tadi. Titik acuannya tertuju pada relasi cinta Allah pada makhluk ciptaan-Nya. Dengan begitulah orang bisa melakukan verifikasi bahwa Allah memang maharahim.

Ya Allah, semoga kerahiman-Mu mengambil wujudnya dalam hidup kami juga. Amin.


MINGGU PASKA II A/2
Hari Minggu Kerahiman Ilahi
19 April 2020

Kis 2,42-47
1Ptr 1,1-19
Yoh 20,19-31

Posting 2017: Percaya Itu Indah
Posting 2014: Jam Kosong Itu Menyenangkan!
*

3 replies

  1. Mo.. apakah kebanyakan bikin dosa berat bisa bikin Tuhan marah dan mengambil Roh KudusNya terus kita jadi tambah sesat? Atau sayanya saja yang kurang beriman? Terus bagaimana dengan dosa turunan Mo, apakah itu juga membawa efek yang sama?

    Like

    • Selama dosa berat itu bukan menyangkal Roh Kudus, saya kira Tuhan tetap bekerja lewat Roh Kudus-Nya itu supaya orang tidak makin tersesat. Jadi, panggilan kesucian itu senantiasa diberikan-Nya: bertobat.
      Dosa turunan [atribut itu sepertinya problematis, seakan penularannya lewat jalur genetis] tidak juga membuat orang kehilangan kodratnya sebagai makhluk Allah, cuma lebih rentan terhadap tren hukum duniawi sehingga lebih susah menggapai kesucian yang dituju oleh Roh Kudus tadi. Semoga membantu.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s