Empty the Glass

Semoga Anda tak bosan dengan nama Bruce Lee, karena memang episode yang kami putar baru sampai 19 dari 30 episode. Di sini dikisahkan bagaimana Bruce Lee akhirnya mengalami cedera berat karena pertarungan melawan Wong Jack Man, yang sejak di Hong Kong menaruh dendam kepada Bruce Lee. Cedera Bruce Lee rupanya tak main-main dan Bruce Lee berbulan-bulan bergumul dengan cederanya. Dalam pergumulannya itu, rupanya Bruce Lee berefleksi keras tentang ilmu bela diri yang dikembangkannya. Ia menyadari bahwa pondasi kung fu yang diperolehnya dari Master Ip punya lubang dari segi praktis dalam pertarungan. Bagus dalam olah raga, tetapi tak tepat guna dalam pertandingan. Bruce Lee tiba pada keyakinan bahwa ia mesti “mengosongkan gelas untuk mengisinya lagi”.

Falsafah kung fu itu ditemukan Bruce Lee dalam momen cedera. Alih-alih memupuk kemarahan dan dendam kepada Wong Jack Man yang mencederainya setelah pertarungan dinyatakan usai, Bruce Lee tetap fokus pada passion yang dimilikinya untuk mengembangkan ilmu bela diri. Masa penyembuhan dari cedera itu justru menjadi momen bagi Bruce Lee untuk lebih bijak dan lebih baik lagi dalam meramu teknik bela dirinya. Ia melihat tendensi konservatisme dalam ilmu bela diri bukan sesuatu yang baik bagi perkembangan ilmu bela diri sendiri. Maka, tanpa menyangkal pondasi yang dimilikinya, Bruce Lee senantiasa mencari ramuan baru untuk ilmu bela dirinya. Mungkin sekali bahwa falsafah “mengosongkan gelas untuk mengisinya lagi” ini bisa dipakai untuk mengerti wacana eksklusif antara Guru dari Nazareth dan salah seorang kaum Farisi bernama Nikodemus.

Dalam diri orang yang punya kelekatan terhadap agama (misalnya mereka yang fanatik dan fundamentalis), wacana Nikodemus dan Guru dari Nazareth mengenai “kelahiran kembali” ini akan segera ditempelkan pada baptisan Roh Kudus ala agama Kristiani. Saya kok yakin seyakin-yakinnya, kalau Guru dari Nazareth ini bertemu dengan seorang Muslim, misalnya, beliau tidak akan pernah mengindikasikan kepada orang itu untuk pergi kepada seorang pastor atau pendeta dan minta dibaptis. Kelahiran kembali adalah soal menyambut Roh Kudus yang diberikan Allah dan membiarkan-Nya bekerja dalam diri orang. Nah, siapa yang tahu bagaimana Roh ini bekerja, kan?

Saya juga tidak mengira bahwa Bruce Lee bisa memakai double stick untuk bermain ping pong. Tentu saja, kalau Roh itu bekerja dalam diri orang, Ia bekerja seturut passion orang yang bersangkutan. Tidak semua orang yang menyambut Roh Kudus itu bisa bermain ping pong atau badminton. Akan tetapi, bayangkanlah, seandainya Bruce Lee tidak mati muda dan mau menekuni banyak cabang olah raga dengan modal kung fu yang dikembangkannya, bukannya tidak mungkin ia menjadi juara dunia di banyak cabang olah raga.

Poin Guru dari Nazareth bukan bahwa orang menjadi juara dunia, melainkan bahwa kedalaman rohani karena menyambut Roh Kudus itu, memungkinkan orang mentransformasi hatinya sedemikian rupa. Dari transformasi hati inilah orang semakin dimampukan untuk berani mencinta dengan konteks baru yang berbeda bahkan dari kebiasaan atau tradisinya. Pandemi bisa jadi momen berahmat sebagaimana dialami Bruce Lee: menemukan cara dan wujud konkret cinta.

Ya Allah, mampukanlah kami dengan Roh Kudus-Mu untuk mencinta. Amin.


HARI SENIN PASKA II
20 April 2020

Kis 4,23-31
Yoh 3,1-8

Posting 2019: Siap, Pak Presiden!
Posting 2018: #GantiKaosDong

Posting 2017: Mencari Jalan Alternatif

Posting 2015: Lahir dari Loteng?
 
Posting 2014: Born to Be Alive

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s