Siap, Pak Presiden!

Katanya, bukan kata saya, there is only one way to overcome pain: not loving it, letting it go. [Kalau kata saya sih, loving by letting it go.] Pada kebanyakan orang, yang terjadi sebaliknya: berusaha mencari aneka cara untuk loving it daripada letting it go karena merasa it tadi adalah segala-galanya dan ndelalahnya juga mengira dirinya paham kata loving. Padahal, loving jelaslah memuat kadar misteri, sebagaimana dalam enam minggu ke depan dibahas berkenaan dengan kebangkitan. Dalam arti tertentu, orang yang menghidupi roh kebangkitan ialah mereka yang mengembangkan kemampuan untuk let it go atau let it go 2.

Kemampuan itulah yang dituntut dari Nikodemus supaya kepercayaannya jadi utuh: kalau mau sungguh beriman, bisa jadi orang mesti kehilangan muka, kehilangan status sosial yang jadi jaminan bagi kenyamanan hidupnya. Ada sebagian orang yang jauh-jauh datang dari Dunia Barat (kalau istilah itu masih bisa dipakai) untuk belajar dari biksu atau biksuni, meninggalkan dunia lamanya yang bergelimangan status sosial dan mempelajari kerohanian tertentu. Sebagian lainnya getol menghidupi perilaku kembali ke alam. Barangkali ini adalah sedikit contoh kepercayaan yang utuh tadi: bukan cuma di kepala, tetapi sudah jadi bagian komitmen orang untuk menjalani hidup secara tertentu, yang bisa jadi bertentangan dengan gaya hidup sebelumnya.

Dalam diri orang-orang seperti itu, gaya hidup lamanya memuat suatu ‘luka’ atau penderitaan, bukan karena status sosial itu buruk pada dirinya, melainkan karena status sosial atau kenyamanan hidup mereka tak lagi mengakomodasi kerinduan terdalam untuk connect dengan misteri hidup mereka. Alhasil, bahkan posisi tinggi dalam perusahaan mentereng pun bisa dilepaskan dengan girang hati. Saya tak perlu memberi contoh kegirangan palsu, bukan? Kegirangan palsu ini tidak mengatasi luka, tetapi malah menambah luka semakin menganga karena kemampuan let it go absen.

Sebagian orang memang berani menanggung luka loving it itu dengan terus menerus melambungkan status sosialnya, entah secara rahasia atau terang-terangan. Semakin orang menolak kebenaran, semakin ia memberi kekuatan kepada kebenaran itu untuk jadi terang benderang. Ini sinkron dengan bagaimana orang menghadapi masalah: semakin ia berusaha melupakannya, semakin ia memberikan kekuatan kepada masalah itu untuk menghantuinya. Kebenaran bisa jadi masalah untuk sebagian orang dan jika ia berusaha menutup-nutupi kebenaran itu, ia malah menambah kadar kebenaran itu berlimpah ruah, dan ia semakin tersesat jauh. Bingung gak sih?
Ashiaaaap, Pak Presiden!

Tuhan, mohon rahmat supaya kami tidak melarikan diri dari kebenaran-Mu dengan menggembar-gemborkan kebenaran versi kami sendiri. Amin.


HARI SENIN PASKA II
Peringatan Wajib S. Katarina dari Siena
29 April 2019

Kis 4,23-31
Yoh 3,1-8

Posting 2018: #GantiKaosDong
Posting 2017: Mencari Jalan Alternatif

Posting 2015: Lahir dari Loteng?
 
Posting 2014: Born to Be Alive

1 reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s