Compassionate Love

Dalam seminggu ini video berikut bersliweran pada dinding medsos saya. Berhubung sound system desktop saya keren [kêmlinthi tênan ki ramané], suara kor salah satu jemaat di Sri Lanka ini tetap keren. Anda tak perlu mempersoalkan doktrin yang ada dalam liriknya. Ini adalah lagu puisi Charles Wesley (18 Desember 1707 – 29 Maret 1788), tokoh gerakan Methodis di Inggris. Saya sendiri cuma tertarik pada kata ‘mercy‘ yang jadi alasan untuk memuji Allah karena hari ini Gereja Katolik merayakan Kerahiman Ilahi. Teks bacaan hari ini memberi pesan damai sejahtera yang tak lain dan tak bukan adalah salam yang setiap kali disampaikan oleh saudara-saudari Muslim. Pesan damai ini disampaikan kepada murid-murid Guru dari Nazareth yang sedang ketakutan.

Klip video tadi mestinya dibuat sebelum bom Paska Sri Lanka pada hari Minggu lalu, tetapi saya tak bisa memperoleh data apakah mereka yang menyanyi dalam klip video itu jadi korban. Video itu saya sisipkan untuk melihat wajah-wajah yang terbebaskan dari ketakutan. Jarang sekali, kalau ada, orang yang ketakutan akan bergabung dalam kelompok kor dan menyanyi secara baik, termasuk kalau lagu yang dinyanyikannya bernuansa kesedihan.

Sewaktu menyimak lagu syahdunya itu, dalam benak saya tebersit kisah kemartiran pada abad-abad pertama masehi: mereka yang dijadikan santapan singa lapar atau dibakar hidup-hidup itu menyenandungkan himne pujian kepada Allah mereka (Allah saya dan Allah Anda juga sih). Tebersit juga mereka di Selandia Baru yang mati syahid karena orang rasis yang sinting, yang menembaki mereka yang sedang salat berjemaah. Prihatin juga jika yang terakhir ini terhubung dengan bom Paska sebagai pembalasan: ke manakah larinya pengampunan dan mengapa orang memasukkan diri dalam lingkaran dendam yang tak kunjung usai?

Syukurlah masih ada gerakan orang-orang berbudi luhur sehingga pesan damai sejahtera teks hari ini bisa cêtha wéla-wéla alias crystal clear.

Semoga pembaca blog ini tidak secara dangkal melihatnya sebagai bentuk toleransi. Ini sama sekali bukan soal toleransi, melainkan empati atau bahkan compassionate love yang awas terhadap kekuatan yang hendak memporakporandakan kohesi sosial dengan mempermainkan sentimen identitas religius. Bahwa sebagian umat Islam di Sri Lanka takut beribadah karena potensi balas dendam bisa mengundang aneka komentar, baik positif maupun negatif. Akan tetapi, saya lebih terkesan pada sebagian umat Islam lainnya yang menunjukkan identitas manusia hibrid mereka: beribadah untuk mendoakan para korban. Itu juga yang dilakukan para tetangga korban teror di New Zealand bulan lalu, mereka datang memberi dukungan kepada keluarga korban dan, saya yakin, mereka mendoakan para korban juga.

Compassionate love seperti itu sewajarnya mengenyahkan ketakutan karena bahkan kematian bukan akhir segala-galanya. Benarlah pepatah yang mengatakan bahwa jika hari hujan, orang baik yang siap sedia dengan payungnya akan basah kuyup kehujanan karena payungnya dirampas orang jahat.
Bagaimana supaya tindakan orang jahat itu bisa dicegah? Mosok orang baik terus yang menanggung kejahatan?😂 Ya itulah panggilan tugas pendidik, intelijen, seksi keamanan, panggilan bagi para pahlawan, yang dalam hatinya sudah hidup suatu compassionate love tadi.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami lebih menumbuhkan compassionate love daripada memupuk prasangka buruk terhadap sesama kami. Amin.


HARI MINGGU PASKA II C/1
HARI MINGGU KERAHIMAN ILAHI
28 April 2019

Kis 5,12-16
Why 1,9-11a.12-13.17-19
Yoh 20,19-31

Posting 2016: Takut Kok Dipelihara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s