Manusia Hibrid

Kalau Anda bangun tidur lalu becermin, makhluk apakah yang Anda lihat di cermin itu? Seharusnya sih manusia. Kalau bukan, kita putus aja😂. Jika kemanusiaan itu ada dalam subsadar Anda, lapisan identitas manakah yang muncul kemudian? Semestinya sih ras, etnisitas atau suku Anda: Jawa, Batak, Dayak, Tionghoa dan seterusnya.

Akan tetapi, masalahnya, hibriditas itu tak cuma berlaku untuk kendaraan, tetapi juga manusia. Ada orang yang dalam dirinya mengalir darah Jerman, Belanda, Jawa, Portugis, Ambon dan sebagainya. Alhasil, kalau orang seperti ini becermin, sangat sulit baginya menemui manusia murni Jawa, Sunda atau Flores pada cerminnya. Meskipun demikian, sesulit-sulitnya orang mengidentifikasi diri sebagai bagian dari etnis tertentu, ia masih bisa menyadari diri sebagai manusia multiple belonging: kulitnya Tionghoa, matanya Papua, hidungnya Jawa, rambutnya Flores, otaknya Kertanegara #ehsengaja. Itu identitas by birth. Dari lahirnya gitu, mau gimana

Setelah identitas etnis itu, lapisan identitas mana lagi yang masuk dalam kesadaran Anda? Apapun itu, pasti bukan lagi identitas by birth dari sononya tadi. Bisa jadi itu adalah sentimen gender, kebangsaan, keagamaan, partai, klub bal-balan, dan sebagainya.
Meskipun demikian, seperti halnya identitas by birth, identitas sekunder juga terjamah oleh hibriditas. Misalnya identitas agama. Contohnya saya. Saya dibaptis Katolik sejak umur satu bulan, tetapi sebelum masuk SD saya akrab dengan doa-doa Islam karena saya dibesarkan oleh keluarga besar yang 90% Muslim. Akan tetapi, saya tahu bahwa keislaman keluarga besar saya itu juga ada campurannya dengan religiositas kebatinan Jawa. 

Dengan demikian, ada fenomena yang bisa disebut sebagai multiple religious belonging. Meskipun identitas saya Katolik Roma (karena saya pernah ke Roma #eh), kekatolikan saya dibangun oleh aneka interaksi dengan tradisi agama lain. Bukan hanya Islam, melainkan juga Buddha, mewarnai kekatolikan saya dalam berdoa. Tentu saja, tradisi ritual komunitas tetap seperti dulu, tak banyak berbuah, tetapi bagaimana saya berdoa, dipengaruhi juga oleh tradisi kerohanian dari agama lain.

Njuk apa hubungannya dengan teks bacaan hari ini ya?
Hubungannya ada pada kalimat terakhir, yaitu mandat yang diberikan Guru dari Nazareth yang bangkit: “Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil kepada segala makhluk!” Biar apa? Biar segala makhluk itu jadi warga Kerajaan Allah toh.
Nah, untuk jadi warga Kerajaan Allah di dunia ini, orang tidak bisa hanya mengandalkan kualitas identitas by birth tadi. Butuh panggilan dan hidayah Allah. Akan tetapi, dari mana orang mendengar panggilan itu kalau tidak ada yang mewartakannya? Itu mengapa mandat Guru dari Nazareth berbunyi begitu. Injil jelas lebih luas daripada kumpulan empat atau dua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru dalam agama Kristen.

Begitu tersebut agama, berdasarkan uraian sebelumnya, konteksnya selalu adalah multiple religious belonging. Maka, yang diwartakan bukan lagi panggilan yang disekat oleh agama tunggal, melainkan panggilan yang dirajut oleh hibriditas agama-agama, yang mengembalikan orang pada kemanusiaan, pada identitas by birth tadi. Loh, kok balik lagi ke identitas manusia? Kalau gitu ngapain mesti repot-repot beragama ya?😝 Itu pembahasan lain lagi.

Semoga orang-orang beragama semakin sadar akan multiple religious belongingnya. Amin.


SABTU DALAM OKTAF PASKA
27 April 2019

Kis 4,13-21
Mrk 16,9-15

Posting 2018: Orang Beragama Degil
Posting 2017: Maaf, Belum Move On
 
Posting 2016: Gubernur Sante(t)
Posting 2015: Baptis Semua Orang? Yang Bener Aja

Posting 2014: Ber-Tuhan Tanpa Agama?

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s