Gusti Nyuwun Mercy

When we lack mercy, we violently separate creature from God. Katanya, Simone Weil pernah mengatakan hal semacam itu: saat kita kurang memiliki belas kasih, kita secara paksa memisahkan ciptaan dari Allah.
Siapa orang yang secara paksa memisahkan ciptaan dari Allah? Pada narasi yang dituturkan dalam teks bacaan hari ini, dua anak itu melakukannya. Yang bungsu durhaka secara terang-terangan memisahkan diri dari ayahnya, melanggar aturan tak tertulis yang berlaku umum mengenai warisan yang menjadi pemberian orang tua yang punya hak untuk membagikan hartanya. Yang sulung hendak memisahkan diri dari ayahnya yang berpesta bersama anak bungsunya. Dia maunya si bungsu dieksklusikan dari pesta bersama.

Baik anak sulung maupun anak bungsu memiliki kesamaan, selain mereka mengeksklusi diri: memperlakukan ayah mereka sebagai tuan yang diabdi atau dilayani. Padahal, apakah memang Allah itu perlu diabdi atau dilayani? Apa lagi yang dibutuhkan-Nya dari kita kalau Allah itu sempurna?
Kalau menilik metafora yang dipakai dalam teks bacaan hari ini, Allah tidak butuh diabdi atau dilayani, melainkan dicintai sebagai ayah. Ini tentu berbeda dari memperlakukan ayah sebagai bos besar atau tuan tanah.

Loh, Rom, bukannya dalam Azas dan Dasar itu dibilang tujuan hidup manusia adalah untuk memuji, menghormati dan mengabdi Allah ya? Berarti tetap ada pengabdian dong!
Tepat sekali, tetapi tidak dalam arti pengabdian hamba atau budak terhadap bos besar, melainkan pengabdian anak terhadap ayahnya. Anak bungsu dan sulung tadi sama-sama menempatkan diri mereka sebagai jongos, budak, pelayan atau abdi. Beda dong melayani orang yang Anda cintai dengan melayani orang yang Anda anggap sebagai bos besar. Yang terakhir ini mesti berbau-bau do ut des dengan cinta bersyaratnya.

Kalau begitu, mungkin ada baiknya hari ini mohon rahmat welas asihcompassion, supaya orang mengabdi Allah karena cinta, bukan karena takut rugi atau takut hukum atau takut-takut lainnya. Dengan rahmat itu, orang tak memisahkan diri, baik dirinya sendiri maupun diri orang lain, dengan Penciptanya. Orang yang mewarisi belas kasih Allah ini tak akan menebar teror terhadap sesamanya. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA II
23 Maret 2019

Mi 7,14-15.18-20
Luk 15,1-3.11-32

Posting 2018: Telanjangi Tuhanmu
Posting 2017: What if love ceases to be

Posting 2016: Allahnya Teroris
 
Posting
2015: Asal Usul Doa

Posting 2014: Why Forgive?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s