Kelupaan Tuhan

Sejarah kemanusiaan tampaknya adalah suatu kisah cinta dalam krisis, rentetan “cinta bertepuk sebelah tangan”. Coba ingat-ingat berapa kali Anda mengalami “cinta bertepuk sebelah tangan” dan rasakanlah sensasinya. Kalau mau berbagi sensasi “cinta bertepuk sebelah tangan” itu, silakan loh ya, jangan malu-malu, meskipun itu malu-malu’in

Saya kasih contoh pengalaman saya sendiri deh. Abad lalu saya pernah naksir anak orang, tetapi karena saya mau jadi pastor, saya tahu dirilah, lagipula saya juga belum punya orientasi berpacaran. Cuma zaman itu memang masanya untuk bikin peer group, alias kelompok ngerjain pe er. Jadi pikir saya sepertinya asik juga kalau punya anggota kelompok anak orang itu. Alhasil, saya tanyalah anak orang itu dengan rumusan yang sebetulnya aneh juga [maklum belum dapat gelar Sarjana Sastra]: boleh têmênan sama kamu gak

Akan tetapi, yang membuat saya tertawa justru adalah tanggapan dari anak orang itu. Dijawabnya hari Sabtu di sekolahan: aku tanya mama dulu ya.😂😂😂 Lucu gak sih? Enggak ya?
Menurut saya, itu lucu banget, karena sebetulnya ya kami sudah berteman; kenapa juga mesti tanya mama? Tambah lucu lagi jawaban definitif yang disampaikan pada hari Senin: mama bilang belum boleh, nanti aja kalau sudah SMA.🤣🤣🤣 Emangnya gue Dilan?

Setelah hari Senin itu ya kami tetap berteman seperti yang saya pikirkan sih: mengerjakan pe er maupun pe es. Dengan demikian, saya memang tidak melihatnya sebagai suatu cinta “bertepuk sebelah tangan”. Ha njuk ngapain diceritakan, Rom, katanya contoh cinta “bertepuk sebelah tangan”? Oh iya ya… maaf khilaf [tapi sebetulnya dari perspektif temin saya tadi, yang kiranya menangkap niat berteman saya sebagai niat berpacaran, yang saya alami bisa dipandang sebagai cinta “bertepuk sebelah tangan” toh ya].

Kata tetangga kamar saya, kalau orang berbuat baik membantu orang lain tanpa menaruh harapan dari orang lain itu, kegembiraan dan kebebasannya lebih penuh. Risikonya bisa ditipu: bantuan disalahgunakan. Tapi bukankah itu yang terjadi dalam sejarah kemanusiaan sebagai kisah cinta dalam krisis tadi? Bukankah sejarah kemanusiaan adalah sejarah kacang lupa lanjarannya?

Sang Pencipta yang cintanya berapi-api itu terlupakan oleh manusia yang merasa self-sufficient. Lupanya manusia dengan Penciptanya ini tak identik semata dengan ideologi ateisme, tetapi dengan upaya manusia untuk memberhalakan ciptaan: agama, ideologi, ras, kultur, dan lain-lainnya. Demokrasi memungkinkan hal ini terjadi karena dalam demokrasi seluruh partisipan diberi panggung, termasuk jenis kacang yang lupa lanjarannya itu: sudah bagus hidupnya dijamin Pancasila, masih juga mau menyusupkan ideologi sendiri.

Penyusup yang lupa lanjarannya ini dalam pileg-pilpres sekarang ini pasti takkan masuk dalam gerombolan petahana karena maunya ganti dong. Maka, saya pikir, bahkan kalau saya buta akan caleg yang fotonya mesti dicoblos, saya tinggal lihat saja partainya apakah mendukung kualitas capres nomor satu. Sentimen agama sama sekali bukan jaminan dukungan bagi kualitas capres nomor satu. Itu mesti jadi kriteria terakhir.
Loh, kok jadi pedoman coblosan sih, Rom?
Oh, iya ya, maaf sengaja.

Semoga di masa menjelang pemilu ini orang semakin peka mendeteksi bentuk-bentuk kelupaan akan Allah juga dalam gelontoran istilah keagamaan. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA II
22 Maret 2019

Kej 37, 3-4.12-13a.17b-28
Mat 21,33-43.45-46

Posting 2018: Tobat Ganti Agama
Posting 2017: Silence, Please!

Posting 2016: Persaudaraan Tak Otomatis

Posting 2015: Pemahaman Nenek Lu!

Posting 2014: Matinya Empati Kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s