Wajah Deadline

Seumur hidup saya baru sekali melihat pohon ara yang begitu besar dengan daun yang rimbun dan katanya itu seperti pohon yang diidam-idamkan orang ditanam di pekarangannya. Pohon ini memberi kesejukan, mungkin juga keromantisan (kalau rintik-rintik hujan misalnya). Bisa dimengerti. Kalau terik-terik panas orang berkumpul di bawahnya, ya memang sejuk juga. Cuma saya tak tahu seberapa enaknya atau berfaedahnya buah ara sehingga tuan yang dikisahkan dalam metafora begitu marah: tiga tahun gada buahnya, untuk apa, tebang saja! Ya namanya metafora, tak usah ditangkap literal begitu ya.

Menariknya, orang yang dipercaya tuannya untuk merawat pohon ara itu membujuk tuannya supaya diberi waktu setahun lagi. Ia akan berusaha mengolah tanahnya lagi, memberi pupuk dan seterusnya, supaya pohon ara itu memberikan buah.
Metafora ini diletakkan di akhir setelah Guru dari Nazareth menegaskan supaya para pendengarnya bertobat. Artinya, waktu yang diminta dalam metafora tadi kiranya dimaksudkan sebagai waktu pertobatan. Setiap orang, dengan dosa level berapa pun, senantiasa diberi kesempatan untuk bertobat. Waktunya setahun, tetapi setahunnya tuan tadi gak jelas juga berapa hari, dan memang pertobatan bukan soal hitung-hitungan hari, melainkan soal singgung-singgungan hati [maksa gak sih?] supaya darinya terpancar wajah Allah yang sesungguhnya.

Tak sedikit orang beragama yang menampilkan wajah Allah yang garang dan tak kenal ampun. Gada gunanya pohon ini, tebang saja! Gambaran yang diperkenalkan Guru dari Nazareth adalah gambaran yang berbeda: sosok Allah yang senantiasa memberi waktu (kronos) bagi momen spesial (kairos), saat orang mendapatkan pencerahan, enlightenmentAHA experience, atau bagaimana juga mau diistilahkan. Kronos itu pada akhirnya ya habis, tak ada orang yang tahu kapan, tetapi penting bagi orang untuk mengalami kairos itu, entah kapan.

Saya kira, orang beriman menampilkan wajah Allah pada saat ia tidak dirundung kronos. Coba lihat misalnya wajah orang yang sedang dikejar atau mengejar deadline, hahaha. Orang beriman menampilkan wajah Allah pada saat ia hidup damai dengan kekinian dan lokasi dia berada. Masih ingat kan nasihat orang bijak ini? If you are depressed, you are living in the past. If you are anxious you are living in the future. If you are at peace you are living in the present.

Jadi gitu aja ya pesannya hari ini. Semoga semakin banyak orang beragama yang menampilkan wajah Allah dengan damai karena hidupnya seperti orang yang dipercaya tuannya tadi dalam metafora: mengolah tanah, memberi pupuk, supaya pohon kesejukan dan damai itu memberikan hasil. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA III C/1
24 Maret 2019

Kel 3,1-8a.13-15
1Kor 10,1-6.10-12
Luk 13,1-9 bdk. posting 24 Oktober 2015: Awas Kabut Azab

Posting 2016: Dua Model Keberdosaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s