Bosan Difitnah?

Adakah fitnah yang isinya positif? Kalau ada, apakah orang akan marah jika dirinya difitnah dengan isi yang positif itu? Misalnya, sedang asik-asik duduk di teras rumah, lalu tiba-tiba ada orang tak dikenal di pinggir jalan yang berteriak bahwa Anda adalah pahlawan tanpa tanda jasa, dan semua yang ada di sekitar situ percaya bahwa Anda memang seorang guru. Njuk apakah Anda akan marah?
Saya kok ragu-ragu. Lebih masuk akal kalau Anda bingung dengan teriakan orang tadi, tetapi tak perlu melapor ke kepolisian dengan aduan fitnah (kecuali kalau guru itu profesi yang sungguh amat buruk). Alasan fundamentalnya ialah, fitnah senantiasa memuat motif untuk menjelekkan orang lain. Dengan kata lain, tak ada fitnah yang isinya positif. 
Kalau sampai terjadi fitnah itu isinya positif, namanya bukan lagi fitnah, melainkan hoaks, alias berita bohong.

Beberapa hari yang lalu ada orang yang mendeklarasikan diri untuk melawan fitnah setelah setengah windu ini berdiam diri terhadap isu-isu negatif terhadap dirinya. Saya kira itu sesuatu yang wajar juga, entah dia capres atau bukan. Alasannya bukan lagi soal bahwa dirinya dirugikan, melainkan bahwa berita bohong itu mesti dibongkar karena menyesatkan kepentingan bersama. Nota bene, penyesatan juga bisa dilakukan dengan berita tidak bohong. Misalnya, orang mengatakan “Saya akan melawan korupsi kalau nanti terpilih.” Itu kiranya bukan berita bohong, tetapi kalau sudah di ranah massa, siapa yang akan menganalisis kalimat janji seperti itu? Siapa yang memperhatikan klausa persyaratannya ‘kalau nanti terpilih’? Siapa juga yang akan melihatnya sebagai pernyataan normatif? Orang-orang yang kêblingêr takkan memperhatikan juga kata ‘akan’, sehingga memahami pernyataan ideal sebagai pernyataan aktual. Itu menyesatkan.

Loh kok jadi malah bahas deklarasi dan kampanye sih?
Oh iya ya, lupa, masih terngiang-ngiang pembicaraan dengan keponakan-keponakan pemilih baru yang rupanya tanpa sadar jadi korban slogan kampanye seperti itu tadi. Mereka melihat sosok yang tegas dari pernyataan “akan tegas melawan korupsi” atau sosok kebapakan yang enak diajak bicara. Mereka tak sadar bahwa namanya PDKT itu ya mesti menampilkan yang baik-baik dan menjauhkan yang jelek-jelek.
Tapi sudahlah, saya juga tak memaksa mereka kelak mencoblos satu, kalau memang mau mencoblos dua-duanya ya hak mereka. Sekurang-kurangnya sudah saya ingatkan bahwa suara dinyatakan sah jika yang dicoblos satu. [Janjane saya itu heran, kenapa sih mesti pakai nomor? Kayak orang beragama dangkal saja, yang mementingkan nomor atau jumlah!] 

Kembali ke fitnah tadi, perayaan Gereja Katolik hari ini juga bisa dipandang dari perspektif ini: Allah itu seakan-akan kelelahan disalahpahami. Maka, Dia menguak Diri lewat pribadi manusia, yang butuh sosok ibu. Ini soal kepercayaan iman, yang tentu tak wajib dipercayai semua orang, tetapi poin saya di sini bukan bahwa Allah jadi manusia, melainkan bahwa Allah itu mencari aneka cara supaya Dia terbebas dari fitnah atau hoaks. Pilihan-Nya terhadap perempuan sederhana di dusun kecil adalah salah satu cara untuk menyatakan bahwa keagungan-Nya tidak identik dengan kemegahan manusiawi. 

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan-Mu supaya kami semakin mampu menangkap kehadiran-Mu juga dalam hal dan peristiwa yang remeh dan sederhana. Amin.


HARI RAYA KABAR SUKACITA
(Hari Senin Prapaska III C/I)
25 Maret 2019

Yes 7,10-14; 8,10
Ibr 10,4-10
Luk 1,26-38

Posting 2017: Pakai Saja Èsêmku
Posting 
2015: Hati Selektif
 
Posting 2014: The Joy of Life-Giving Choice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s