Belajar Melulu

Dua minggu lalu dalam posting Rahmat Si Pengampun ditegaskan suatu pengampunan tanpa syarat. Pengampunan dari Allah itu benar-benar unconditional dan unlimited. Akan tetapi, hari ini dinyatakan sebaliknya: bukannya tanpa syarat! Artinya, bahkan jika Allah mengampuni pun, pengampunan-Nya ada syaratnya? Iya! Loh… kok isa? Plin-plan nihEsuk dhêlé soré témpé! [Lha ya malah bener to daripada pagi kedelai sorenya jadi keledai, kan lebih aneh?] 

Syaratnya itu tidak dimengerti seperti kalau Anda mau naik MRT mesti punya kartu, tetapi seperti kalau suatu benda terkena hukum gravitasi ia akan berpotensi ke arah pusat gravitasi. Artinya, ya sudah sewajarnyalah begitu: kalau orang ingin Allah mengampuninya, ia sendiri mesti memberikan pengampunan. Itu yang tertera dalam doa juga toh: ampunilah kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Jadi, syarat pengampunan Allah sebenarnya tidak membuat pengampunannya bersyarat, tetapi meletakkan pengampunan Allah itu pada tempatnya dan kalau orang masuk pada tempatnya, pengampunan Allah itu memang tiada batas, tanpa syarat.

Wacana yang disodorkan Petrus dalam bacaan hari ini barangkali mengingatkan Anda pada teks Kitab Ayub 33,29 mengenai wacana para ahli agama Yahudi pada zaman jebot dulu. Petrus ini, sejelek-jeleknya dia sebagai murid Guru dari Nazareth, kiranya juga mempertimbangkan apa yang disampaikan pemuka agamanya mengenai pengampunan Allah. Dalam Kitab Ayub itu memang disebutkan angka tiga, yang artinya Allah membuat perhitungan dengan kesalahan manusia: beberapa kali saja.
Petrus melihat pedoman itu tidak klop dengan apa yang diajarkan gurunya, yang sebelumnya memberikan metafora tentang domba yang hilang dan mengajarkan bahwa Allah tak ingin satu pun domba-Nya hilang tersesat. Kiranya Petrus berpikir, kalau Allah cuma membuat perhitungan beberapa kali dengan manusia, bisa jadi tak cukup, karena manusia itu mesti bolak-balik sesat!

Maka dari itu, tak mengherankan bahwa Petrus menambah angka perhitungan pengampunan itu dengan angka sempurna: tujuh! Dengan begitu, seakan-akan ia sudah mengusulkan sesuatu yang melampaui ajaran pemuka agama yang dianggapnya masih belum memadai. Akan tetapi, gurunya itu menimpali juga dengan perhitungan yang ada dalam kitab yang lebih tua, Kitab Kejadian. Pada ayat ke-24 dari bab empat dikatakan “sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat”. Sama-sama pakai angka, tetapi teks itu seakan berbunyi bahwa tujuh kali lipat pembalasan itu diperlawankan dengan tujuh puluh kali lipat pengampunan.

Yang bagi manusia tak mungkin, jebulnya bagi Allah masih mungkin. Saya teringat adegan ketika Patricius, ayah Augustinus, suami Monica, saat terjatuh sakit di penghujung hidupnya. Patricius bukan ayah dan suami yang ideal. Bisa jadi ia monster bagi orang di sekelilingnya, tetapi pada suatu momen itu ia bertanya pada istrinya bagaimana mungkin ia bisa bertahan selama itu dengan kelakuannya, dan Monica membagikan resepnya: aku belajar untuk mengampunimu dan mencintai apa adamu.
Jangan salah, Monica bukan perempuan lemah. Ia sangat kritis, tetapi ia memang senantiasa belajar, yang ada kalanya bisa juga gagal, tetapi akhirnya ia menuai buah pelajarannya: Patricius bertobat.

Tuhan, ajarilah kami untuk senantiasa mengandalkan kekuatan-Mu sehingga pelajaran apa saja yang berat dapat kami lalui. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA III
26 Maret 2019

Dan 3,25.34-43
Mat 18,21-35

Posting 2018: Bagi Cinta Dong
Posting 2017: Ganti Fokus Bro’

Posting 2016: Mau Perfeksionis?

Posting
2015: Revolusi Mental Hukum Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s