Hijrah

Dalam teks bacaan kemarin Matius menunjukkan dunia baru yang diusulkan Guru dari Nazareth bukan dengan argumentasi yang sistematis, melainkan dengan cerita tentang pembagian roti bagi semua orang. Poinnya, resources yang ada dibagi seturut kriteria ‘ilahi’, yang berbeda dari kriteria pasar yang mengabaikan kaum lemah. Manajemen sumber daya seperti ini membuat bukan saja kebutuhan semua orang terpenuhi, melainkan juga terpenuhi dalam keadaaan keberlimpahan.

Menariknya, jika Anda perhatikan di bagian akhir, sisa roti yang dibagikan itu ada dua belas bakul, tetapi tidak dicatat berapa sisa ikannya. Semula lima roti dua ikan, tapi kok tersisa dua belas bakul roti. Ikannya ludes gitu po, atau Matius lupa mencatat sisanya 4,8 bakul? Tentu saja tidak. Asumsinya, sekali lagi, ini adalah cerita simbolik, bukan suatu kronik peristiwa sejarah sehingga ujung-ujungnya pembaca cuma bisa pasrah “entahlah” karena teksnya terbatas, atau utak-atik unsur ekstrinsik sehingga berujung pada renungan suci yang tidak ada basisnya dalam teks yang bersangkutan.

Saya memilih jalur yang berbeda meskipun juga mempertimbangkan unsur ekstrinsik. Penulis teks ini tidak menyebutkan sisa ikan sehingga fokus perhatian ada pada roti yang sangat sentral dalam pewartaannya: sosok Guru dari Nazareth sebagai roti hidup yang dibagi-bagikan. Jelaslah, ini untuk orang Kristen merujuk pada misteri ekaristi yang senantiasa dirayakan Guru dari Nazareth bersama para muridnya. Akan tetapi, senantiasa ada bahaya bahwa ekaristi hanya jadi ritual keagamaan sebagaimana terjadi dalam jemaat di Korintus (1Kor 11,20-22): kěndurèn tapi yang kaya menyantap makanan mewah yang dibawanya dan yang miskin ya makan seadanya yang dia bisa peroleh. Bisa jadi, yang satu kěmlakarěn alias kekenyangan pada saat yang lain kelaparan. Ekaristi macam begini adalah mbèlgèdhès gombal amoh karena tercabut dari problem kesenjangan sosial yang diakibatkan oleh mekanisme pasar yang tak sehat.

Nah, kelebihan dua belas bakul roti tadi, ke mana perginya? Hitungan matematisnya seorang dari dua belas rasul mendapat satu bakul. Akan tetapi, dibawa ke manakah roti yang diperoleh dari dunia baru (hidup yang dibagikan) yang disodorkan Guru dari Nazareth itu? Teks bacaan hari ini menyodorkan petunyuk yang diberikan Guru dari Nazareth. Btw, konteks penulisan Matius sendiri adalah situasi perpecahan dalam jemaatnya, yang terdiri dari orang Yahudi (termasuk juga sebagian kaum Farisi) dan non-Yahudi. Apa yang memecahkan mereka? Biasalah, kaum tradisionalis, sebangsa Farisi ini, maunya orang lain mesti jadi Yahudi kalau mau join dengan komunitas beriman pengikut Guru dari Nazareth itu. Mereka pikir, warta gembira Guru dari Nazareth itu eksklusif untuk orang Yahudi.

Kata kerja ἠνάγκασεν (ēnankasen, Yunani) bisa diterjemahkan juga dengan mendesak alias memaksa. Pengandaiannya, ada resistensi. Para murid punya resistensi untuk pergi “ke seberang”. Ini tak perlu dibayangkan bahwa mereka mesti balik lagi ke tempat asal mereka kemarin, tetapi artinya “ke Timur”, yang berarti ke tempat di mana orang-orangnya tak mengenal Allah, ke tempat yang kehidupannya ancur, terkuasai paradigma dunia lama. Menariknya, si Guru dari Nazareth tidak ikut, tetapi menyendiri ke gunung. Tak perlu dicari gunung sebelah mana, ini adalah simbol bahwa Guru dari Nazareth ada dalam koneksinya dengan Allah.

Bagaimana kelanjutannya? Nanti dibahas hari Minggu saja ya. Hari ini cukuplah dimengerti bahwa komunitas umat beriman tak pernah bisa menutup diri, kecuali mau mengalami perpecahan abadi antara kaum tradisionalis yang mengklaim kemurnian tradisinya dan kaum lain yang terus menerus bertahan dalam perahu yang juga mengalami hempasan dari angin badai dan air. Malah bikin runyam kan sementara dunia mengalami pandemi malah kemurnian agama terus dinyinyirkan dalam ritual, alih-alih menerapkan dunia baru untuk menata hidup supaya lebih adil, lebih inklusif bagi semua sehingga tak ada yang disingkirkan.

Tuhan, mohon rahmat supaya hidup kami sungguh merepresentasikan hijrah dari dunia lama menuju dunia baru yang dikuasai oleh cinta-Mu yang tak terbatas. Amin. 


SENIN BIASA XVIII A/2
3 Agustus 2020

Yer 28,1-17
Mat 14,22-36

Posting 2014: Bukan Soal Multitasking Brow

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s