Untuk Melayani

Sekarang saya menulis renungan untuk peringatan Bunda Maria dengan atributnya sebagai ratu, dan dasarnya cuma sepenggal kalimat dalam teks bacaan hari ini: Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu.
Saya tidak lagi memahaminya sebagai kalimat eksklusif untuk Bunda Maria. Tuhan menyertai Bunda Maria, menyertai putranya, menyertai murid-murid putranya, menyertai Anda semua dan saya. Tidak ada hak eksklusif penyertaan Allah bagi Bunda Maria.

Memang, nama Maria berarti yang dicintai Yahwe atau Yahwelah Allahku. Itu jelas berbeda dari nama yang lain, tetapi tidak mengatakan bahwa hanya yang bernama Marialah yang dicintai Yahwe atau Yahwe itu Allah Maria seorang. Anda dan saya juga dicintai Yahwe dan Yahwe itu juga Allah Anda dan saya. Njuk kenapa Bunda Maria ini mesti mendapat atribut khusus: ratu? Ini sudah saya tulis dalam posting Ratu Iman, enam tahun lalu. Akan tetapi, renungan saya tak mengarah ke atributnya sendiri: Anda dan saya sama-sama ratu, ra tuku kehidupan, semua gratis bin cuma-cuma.

Renungan saya mengarah ke bagaimana Bunda Maria ini mengalami penyertaan Tuhan. Dijelaskan dalam teksnya sendiri bahwa itu berarti Roh Kudus akan turun atasnya. Bukankah Roh yang sama bebas turun kepada siapa saja? Pembedanya tidak terletak pada Roh Kudusnya, tetapi pada bagaimana Bunda Maria ini menginternalisasikan Roh Kudus itu dalam dirinya. Itulah kapasitas yang tak dimiliki atau tak dikembangkan oleh kebanyakan makhluk lainnya. Bunda Maria punya kesadaran hidup bersama Allah. Penyertaan Tuhan menjadi sangat konkret dalam dirinya karena pilihan-pilihan yang diambilnya senantiasa melibatkan kehendak Allah.

Tak ada yang tahu persis kehendak Allah, sebagaimana Bunda Maria juga tidak mengetahui segala-galanya tentang jalannya ke depan. Akan tetapi, jelaslah bahwa beliau melakukan pembedaan roh dan menjadi pelayan Sabda Allah.
Dulu sewaktu masih SMA ada seorang staf baru yang memperkenalkan dirinya di hadapan angkatan kami, angkatan tahun terakhir di SMA itu. Salah satu yang diperkenalkannya ialah moto hidupnya, yang membuat kami tertawa riuh tinggi. Mengapa? Karena kami sudah akrab dengan kalimat dalam moto itu dan staf baru ini barangkali keseleo lidahnya sehingga mengatakan,”Aku datang bukan untuk melayani…”
Setelah hampir satu menit tertawa dan suasana kembali agak tenang, staf itu melengkapi motonya,”Aku datang bukan untuk melayani, melainkan untuk semakin melayani” dan kami kembali tertawa riuh lebih tinggi lagi.

Kalimat aslinya diucapkan oleh Guru dari Nazaret: aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Bukannya tidak mungkin bahwa kalimat itu dipelajari sang Guru dari Bunda Maria. Inspirasi hamba Yahwe itu datang dari nubuat Nabi Yesaya (Yes 42,1-9; 49,3-6) dan dihidupi Bunda Maria dengan membiarkan kehendak Allah ternyatakan dalam dirinya. Hamba Allah ini juga bukan atribut eksklusif bagi Bunda Maria, tetapi panggilan bagi siapa saja yang mau membangun hidupnya untuk melayani sesama, melayani Tuhan. Tidak disertakan dalam teks bacaan hari ini kelanjutan ayatnya, yang menyatakan bahwa Bunda Maria berangkat mengunjungi saudaranya untuk membantu, melayani kebutuhan saudaranya itu.

Bisa jadi, salah satu indikator bahwa orang mengikuti kehendak Allah ialah pelayanan kepada sesama. Ini adalah mentalitas yang tak sejalan dengan dunia kompetisi ala survival of the fittest. Tuhan, mohon rahmat kerendahhatian untuk meneladan pelayanan Bunda Maria. Amin.


PW SP MARIA RATU
(Sabtu Biasa XX A/2)
22 Agustus 2020

Yes 9,1-6
Luk 1,26-38

Posting 2014: Ratu Iman

1 reply

  1. Sy kira kesetiaan dn pelayanan rm melalui tulisan ini udh mirip2 Bunda Maria 😄 membaca tulisan di sini seperti membaca literatur di perpus #sayapenggemarperpus#😊 so, Salam, Rm, penuh rahmat, Tuhan sertamu.
    Senang membaca Coronation of Mother Mary, di zmn corona, ditemani angin cepoi2 #adanya ac,haha# dan senang rm mengingatkn nama Maria sbg one loving Yahweh atau one beloved by Yahweh.
    Kpn2 mau hunting misa yg rm pimpin ah, mau mendengar homili lgs🤣🤭
    Maria Ratu, jg Ratu Para Malaikat. Rm, dlm kitab suci kebykn malaikat identik maskulin, tp malaikat itu sbnrnya tdk menganut pengertian mns akn gender laki atau perem, dlm kitab Zakaria 5: 5-11 malaikat digambarkn dlm identitas feminin 😂😁#kl2 rm blm tau#

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s